Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Solusi Genangan dan Banjir, Mataram Butuh Kolam Retensi Seluas 10 Hektare

nur cahaya • Rabu, 18 Desember 2024 | 12:45 WIB

 

ANTISIPASI BANJIR: Sejumlah masyarakat memancing di kolam retensi skala kecil di Ruang Terbuka Hijau, beberapa waktu lalu. 
ANTISIPASI BANJIR: Sejumlah masyarakat memancing di kolam retensi skala kecil di Ruang Terbuka Hijau, beberapa waktu lalu. 

LombokPost-Kota Mataram rawan banjir dan genangan. Terutama di kawasan pesisir. Untuk mengantisipasi itu, perlu dibuat kolam retensi.

"Kolam retensi ini berfungsi untuk mengurangi debit air ke wilayah hilir Kota Mataram," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning.

Kota Mataram dilewati sejumlah sungai. Seperti, Unus, Brenyok, Ancar, dan Jangkuk. "Semua sungai itu hulunya ada di kawasan Lombok Barat (Lobar)," jelasnya.

Apabila kawasan Lobar di wilayah Narmada dan Lingsar serta Kota Mataram bersamaan hujan dengan intensitas tinggi disertai dengan  durasi yang lama, potensi banjir cukup tinggi. Ditambah lagi kondisi air laut sedang pasang, dapat memicu banjir di kawasan Selatan Kota Mataram.

"Yang sering mengakibatkan banjir itu di kali Unus dan Brenyok," kata dia.

Di kawasan Batu Ringgit, Tanjung Karang ada pertemuan antara dua sungai tersebut. Kondisi itu menambah debit air.

Diperparah lagi dengan sampah yang terbawa sungai.

Kondisi itu menyebabkan kawasan di wilayah Kecamatan Sekarbela berpotensi banjir.

"Cara satu-satunya untuk mengantisipasi, harus ada kita buat kolam retensi," kata dia.

Sama seperti yang terjadi akhir pekan lalu, pada penjagaan pintu air kali Unus sempat sampai menyentuh debit air 90. Angka tersebut sebenarnya sudah masuk kategori gawat.

"Kalau masih aman itu angka debit air pada pintu air berada di angka 70," ujarnya.

Syukurnya langkah antisipatif sudah dilakukan. Yakni, dengan mengangkat sedimentasi sungai di kawasan hilir. "Itu cukup  efektif mengurangi potensi banjir," jelasnya.

Baca Juga: Pj Gubernur NTB Resmikan Taman Edukasi Landfill Hill TPAR Kebon Kongok, Dibangun Dinas LHK NTB dan PT Pegadaian, Jadi Kado HUT Ke-66 NTB

Lale mengatakan, pembangunan kolam retensi membutuhkan lahan cukup banyak. Tetapi, untuk membuat kolam retensi itu tidak hanya dari Pemkot Mataram.

"Tetapi juga harus diatensi Pemprov NTB, Balai Wilayah Sungai, dan Pemkab Lobar," jelasnya.

Khusus untuk Kota Mataram sudah menyiapkan lahan seluas 1,3 hektare di kelurahan Babakan. Tetapi luas lahan itu tidak cukup untuk membangun kolam retensi.

"Penampungan limpahan air dari kali Remeng di kawasan itu belum cukup menampung air dari hulu saat musim hujan," ungkapnya.

Menurutnya, untuk membangun kolam retensi membutuhkan lahan seluas sepuluh hektare. Tidak hanya dibangun di kawasan hulu.

"Kawasan hilir juga perlu kita siapkan," kata dia.

Mimpi besar mewujudkan kolam retensi harus disuarakan di tingkat pemerintah pusat. Jika tidak, persoalan banjir di Mataram akan terus mengancam.

"Ini harus menjadi perhatian Kementerian PUPR juga," harapnya. (arl/r3)

Editor : Kimda Farida
#pesisir #kolam #air #sungai #debit #Lobar #kawasan #Mataram #retensi #PUPR #Banjir