LombokPost--Gong Kebyar salah satu warisan adat Bali. Budaya itu masih dipertahankan di era Kiwari. Proses pembinaannya masih eksis di Gamelan Sanggar Dharma Gita Shanti.
Mereka mempertahankan itu agar adat Bali mati tergerus zaman di Mataram.
--------------------------------
Sejumlah gamelan berjejer di teras markas Gamelan Sanggar Dharma Gita. Tepatnya di Lingkungan Topati, Cakra Utara, Cakranegara, Mataram.
Gamelan itu masih utuh. Tetapi tak ada yang memainkannya.
"Sekarang lagi libur," kata pembina Sanggar Dharma Gita Shanti, I Gede Sudiarta.
Biasanya personel yang memainkan gamelan itu sejumlah 24 orang. Terdiri dari pemegang gendang, petuk, rincik, barangan, saron, kantil, calung, jegogan, gong, kempul , dan pemain Suling.
"Rata-rata pemainnya para orang tua yang juga senang dan ingin mempertahankan seni budaya ini," kata dia.
Sekarang ini, tim dari sanggar mencoba mendekati seni ini ke anak muda. Sebab, mereka yang bakal menjadi penerus mempertahankan budaya ini. "Kalau tidak mereka siapa lagi," ujarnya.
Yang menjadi kendala, apakah kalangan anak muda masih mau mempertahankan itu? Itu juga cukup sulit mempengaruhi mereka. "Tidak gampang. Makanya perlu mencari orang yang ingin mengerti tentang seni dan budaya," ucapnya.
Terlebih lagi saat ini, pergaulan anak muda lebih memilih ke arah modern. Tidak pernah memikirkan mengenai pengembangan budaya. "Itu hanya sedikit orang yang berpikir mengenai hal itu," kata dia.
Sudiarta mau mengembangkan gamelan itu dikarenakan memiliki sejarah yang panjang. Gamelan ini mulai berkembang pada sebelum Indonesia merdeka. "Ada sekitar tahun 1915," jelasnya.
Pada adat Bali, gamelan biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan. Seperti acara pernikahan, meninggal, dan sebagainya.
"Tetapi, sekarang sudah berkembang. Setiap ada acara pemerintahan sering digunakan untuk menyambut tamu," kata dia.
Seni dan budaya itu bisa menjadi hiburan masyarakat. Memberikan rasa nostalgia bagi masyarakat.
"Memberikan edukasi kepada anak-anak muda," ungkapnya.
Sebenarnya, jika seni dan budaya itu dikembangkan pariwisata di Mataram bisa lebih maju.
"Lihat Bali. Pariwisatanya hidup karena kemajuan seni dan budaya," kata dia.
Masyarakat dan pemerintah di Bali kompak. Masyarakat yang ingin mengembangkan seni dan budayanya disuport pemerintah. "Berbeda kalau di sini," kata dia.
Menurutnya, perhatian pemerintah sangat rendah. Bagaimana pariwisata mau maju jika seperti itu.
"Sekarang rakyat ngurus sendiri mempertahankan budayanya," ungkapnya.
Syukurnya Sudiarta pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Mataram. Paling tidak dia bisa mensuport beberapa sanggar seni dan budaya masyarakat Kota Mataram. "Saya berikan melalui anggaran Pokir. Kita belikan mereka gamelan agar masyarakat bisa melestarikan budayanya," kata Sudiarta.
Saat ini Kota Mataram sudah memiliki tempat dan wadah menyalurkan kegiatan seni dan budaya. Seperti di Teras Udayana dan Amphiteater Ampenan. "Tempatnya memang bagus. Tetapi, yang diperlukan adalah pemeliharaan dan pelestarian," kata dia.
Percuma menyediakan tempat jika pelestarian budaya tidak disuport."Sama saja bohong," ujarnya. (Suahrli/r3)
Editor : Kimda Farida