Menjamurnya lagi penjual gule gending memicu rasa kagum pada seni pertunjukan jalanan ini. Bahkan anggota dewan turut mengomentari sebagai seni yang legend!
Mataram
DIBANDING gule gaet yang sezaman, gule gending perkasa melintasi zaman. Penjualnya kini tiba-tiba saja menjamur di banyak tempat.
"Pang, pong, pang, pong, pang!" nadanya yang sangat khas bertalu.
Melihatnya, orang-orang yang lahir pada era 90-an ke bawah seperti deja vu. Bandingkan dengan respons anak-anak masa kini yang notabene generasi Z menganggap pertunjukan itu sebagai inovasi baru.
Mereka mungkin tidak mengira, seni pertunjukan musik gule gending sebenarnya cara menarik anak-anak berkumpul untuk menjual harum manis, telah muncul sejak beberapa dasawarsa silam. Herman, tokoh masyarakat dari Babakan yang juga anggota DPRD Kota Mataram menjuluki gule gending sebagai seni yang legend.
"Memang legend," celetuknya, ketika berbincang dengan Lombok Post.
Ia membandingkan dengan gule gaet yang sezaman dengan gule gending. Namun 'nasibnya' justru tak setenar gule gending.
"Kalau gule gaet (permen gula berwarna coklat, berbentuk panjang menyerupai pensil, Red) nyaris sulit ditemui sekarang," imbuhnya.
Kalaupun masih ada, gule gaet kemungkinan hanya bisa didapat di warung-warung perkampungan. Tapi itu pun kalau masih ada yang jual.
Tapi coba bandingkan dengan gule gending yang semakin banyak muncul penjualnya. "Bahkan ada yang jualan sekarang pakai mobil pickup, dengan memutar nada rekaman suara orang memainkan gendang gule gending. Luar biasa inovasinya," ucapnya sambil tertawa, terkekeh.
Nada yang dihasilkan begitu melekat di ingatan anak-anak. Daya tariknya bahkan, acap kali lebih kuat ketimbang nada musik es krim.
"Ramai anak-anak yang berkumpul dengar suara gule gending," ucap pria yang dikenal dekat dengan pelaku UMKM itu.
Herman lantas menyarankan pada pelaku UMKM kreatif membuat identitas sendiri. Seperti gule gending dan es krim yang punya nada khas yang memorable.
"Layak dipatenkan itu," kelakarnya.
Ada sisi lucu diceritakan Herman tentang penjual gule gending. Di beberapa tempat di kota, penjual gule gending kerap dianggap sebagai intel dari kepolisian.
Hal ini berawal dari aksi penyamaran yang kerap dilakukan pasukan Bhayangkara itu untuk mengungkap suatu kasus. "Rupanya banyak anak-anak muda yang kerap main judi akhirnya menghindari penjual gule gending karena dikira intel," ucapnya.
Terlepas dari itu, Herman mengajak semua pihak mendukung dan membeli usaha mikro pedagang. Para penjual gule gending menurutnya sebagai bentuk seni sekaligus jualan lokal yang harus dilestarikan.
"Saya membayangkan kalau ada festival gule gending, pasti ramai dan seru," ucapnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r3)
Editor : Akbar Sirinawa