LombokPost-Warga di pesisir pantai Ampenan kembali risau dengan situasi beberapa hari terakhir.
Hujan disertai angin kencang, membuat mereka kesulitan turun melaut.
“Kita berjaga-jaga kemungkinan air pasang tinggi (banjir rob, Red),” kata seorang warga di pesisir pantai Bintaro, Nurhayati, bertutur dalam bahasa Sasak.
Namun para pria di pesisir pantai itu tetap nekat turun melaut. Mereka dihadapkan pada situasi sulit antara keselamatan nyawa dan kebutuhan hidup.
“Nekat saja para bapak-bapak turun melaut, walau situasinya seperti ini,” imbuhnya.
Para nelayan mencoba peruntungan dengan tetap melaut di tengah gelombang yang tinggi.
“Namanya juga cuaca tidak menentu, tangkapan tidak banyak. Tapi nggak ada pilihan,” ucapnya.
Sementara itu untuk gelombang pasang, situasi saat ini masih relatif aman.
Belum sampai menerjang perumahan warga seperti yang terjadi bulan Desember 2024 lalu.
Namun nelayan mengantisipasi sekitar sembilan hari ke depan. Atau saat dalam perhitungan kalender nelayan (penanggalan lunar, Red) memasuki tanggal 1 atau tanggal 15.
Di dua waktu itu, biasanya gelombang pantai mengalami gelombang pasang yang tinggi.
“Kalau bagian dapur habis kena (air pasang),” ucapnya.
Sementara itu, Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Irwan Rahadi mengimbau masyarakat untuk senantiasa waspada. Terutama mereka yang berada di pesisir pantai.
“Seperti imbauan BMKG cuaca buruk berpotensi terjadi sampai 26 Januari,” katanya.
Situasi ini akan kembali diperbaharui setelahnya. Setelah dilakukan pengukuran oleh pihak terkait.
“Yang perlu diwaspadai juga dampak banjir rob di pesisir pantai, dan warga yang di sekitar bantaran sungai akibat debit air meninggi,” ucapnya.
Angin bertiup dari barat daya hingga ke utara dengan kecepatan rata-rata 30 km/jam.
Angin kencang telah mengakibatkan gelombang laut tinggi antara 1,5 meter sampai 2 meter.
“Kami terus intens patroli terutama di sepanjang garis pantai, dan meminta warga segera melapor ke posko terdekat jika ada indikasi bencana,” pungkasnya. (zad/r7)
Editor : Kimda Farida