LombokPost--Dari yang awalnya coba-coba kini mendapat dukungan dari anak muda.
Nurhayati, mulai menapaki mimpinya untuk memiliki brand kerupuk legendaris: Inaq Nur.
Mendidik Anak Hingga Berhasil Kuliah ke Luar Negeri. Orang-orang Baik Menyiapkannya Gudang Produksi Kerupuk Tongkol.
----------------------
Nurhayati tak ingin terlalu banyak mengungkapkan masa lalunya.
Saat ditanya mengapa ia hanya tinggal di rumah tua itu bersama anaknya, ia hanya tersenyum tipis dan menjawab singkat.
“Saya sudah pisah,” jawabnya pendek.
Lombok Post menangkap gelagat Nurhayati ingin bercerita lebih banyak tentang kerupuk tongkol tanpa boraksnya.
Ia masih menyimpan beberapa bagian cerita yang menarik.
“Setelah jadi (kerupuk) saya bungkus dan titip di satu warung awalnya, ternyata cepat habis,” tuturnya dengan senyum mengembang.
Ia mendapat testimoni dari para pembeli yang menyebut kerupuk tongkolnya enak dan gurih.
“Sedap,” katanya, mengacungkan jempol.
Wajahnya sama sekali tak menyiratkan keraguan mengomentari produknya sendiri.
Ia mendasari jawabannya atas kebanyakan tanggapan pembeli yang selalu menghabiskan kerupuknya dalam waktu cepat.
“Sekarang saya sudah titip di lima warung,” ucapnya, bangga.
Jumlah produksi kerupuk pun ia tingkatkan. Dari awalnya, bahan-bahan kurang dari satu kilo kini ia telah membuat minimal lima kilo setiap harinya.
“Untuk jadi 300-350 bungkus,” ucapnya.
Hebatnya lagi, ia mengerjakannya sendiri. Setiap malam.
Ditemani sebuah lilin.
“(Nyala lilin) untuk merekatkan plastiknya,” terangnya.
Selain rasanya yang nikmat, Nurhayati punya strategi marketing jitu untuk membuat produknya makin laris.
“Dalam satu bungkus saya isikan lebih banyak dan saya jual murah saja, Rp 1000,” bebernya.
Maka dalam sekali produksi, ia bisa menjual di kisaran Rp 300-350 ribu.
Ia kembali punya rencana menambah jumlah produksinya jika tren permintaan kerupuk terus meningkat.
“Anak saya sudah membelikan alat untuk merekatkan bungkus plastik kerupuk, jadi sudah tidak perlu pakai lilin lagi,” ucapnya.
Keinginan untuk memproduksi kerupuk lebih banyak lagi, didukung sejumlah anak muda di Kampung Bugis.
Mereka bahkan telah menyiapkan sebuah gudang kosong, dan dan sumber daya lainnya untuk membuat kerupuk dengan brand: Inaq Nur lebih besar lagi.
Anak-anak muda itu tergabung dalam sebuah komunitas anak nelayan Kampung Bugis.
Mereka sebagian besar adalah mahasiswa yang kembali ke kampung halamannya dan ingin membuat sesuatu bermakna.
Dukungan itu yang membuat Nurhayati semakin bersemangat di usianya yang semakin senja. Seorang anggota dewan, peduli UMKM yakni Herman dari partai Gerindra juga telah memastikan dukungan apabila organisasi kerja produksi kerupuk tongkol Inaq Nur ini benar-benar serius dan konsisten dikerjakan.
“Alhamdulillah, terima kasih atas dukungannya,” lirihnya dengan nada terbata. Haru.
Nurhayati single parent yang kini telah memiliki cucu delapan. Tiga dari lima anaknya telah berumah tangga.
Anak-anaknya ia besarkan dengan penuh kasih sayang, tapi juga mengajarkan mereka tekad karang: jangan pernah menyerah sepelik apapun keadaan hidup yang dihadapi.
Tekad yang ia pelajari dari puluhan tahun 'hidup bersama’ gelombang pantai Bintaro yang dahsyat. Pelajaran itu meresap ke anak-anaknya dan menjadi inspirasi mereka menuntut ilmu.
Bahkan satu di antara anaknya mendapat beasiswa perguruan tinggi ke luar negeri dari gubernur NTB era Dr Zulkieflimansyah karena prestasinya di bidang akademik.
“Sekarang sedang kuliah di Malaysia,” ucapnya dengan mata berbinar.
Satu lagi anaknya, mendapat beasiswa menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi negeri di ibu kota provinsi NTB ini.
“Alhamdulillah, saya tidak mengeluarkan biaya,” ucapnya. (Lalu Mohammad Zaenuddin/r7)
Editor : Kimda Farida