LombokPost-Upaya penanganan dampak abrasi di sepanjang pantai Ampenan, Kota Mataram, terus dilakukan. Sebagai langkah antisipatif terhadap potensi banjir rob dan abrasi, telah dipasang tanggul sementara.
“Di sini keterlibatan semua pihak ada. Dari pertamina ada, masyarakat juga ikut membantu,” kata Lurah Bintaro Rudy Herlambang.
Rudy menjelaskan, tanggul sementara terbuat dari batu boulder dan geobag yang diisi pasir, kemudian diperkuat dengan kawat.
Pemasangan tanggul ini diprioritaskan di Lingkungan Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, dengan panjang sempadan sekitar 150 meter.
“Dari ujung musala RT 3 ini ke utara 150 meter,” terangnya.
Namun, ketersediaan tanggul darurat ini masih belum cukup untuk menutupi seluruh panjang pantai tersebut.
“Kembali lagi karena ini kita sifatnya penanganan sementara,” ujarnya.
Rudy berharap penanganan ini tidak berakhir pada upaya sementara saja.
Pemkot Mataram telah berjanji menjemput bantuan dari pusat untuk mengatasi abrasi yang berkepanjangan, yang sejak lama mengikis pemukiman warga di pinggir pantai.
“Ini sudah dari bulan Desember kemarin, tapi sekarang ini yang terparah. Sampai merusak ini,” tambahnya.
Di jalan RT 3, terdampak sekitar 28 bangunan yang dihuni 54 Kepala Keluarga (KK), sementara di bantaran pantai terdampak sekitar 9 KK.
“Dan yang terdampak banjir rob dari Desember itu sudah banyak diberikan bantuan dari Pemkot seperti sembako dan beras,” imbuhnya.
Pemasangan geobag (sebelumnya ditulis biobag, Red) di sepanjang pantai Bintaro, Ampenan, sebagai tanggul sementara mencegah abrasi.
"Ini solusi darurat, karena abrasi yang terjadi sudah mengikis separo jalan nelayan di pinggir pantai," kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram Irwan Rahadi.
Penanganan lebih lanjut pada abrasi di tempat tersebut akan ditindaklanjuti Dinas PUPR Kota Mataram.
Namun geobag ini juga sebagai bagian dari struktur tanggul permanen yang dibangun nantinya.
"Geobag ini akan dilengkapi juga dengan batu bronjong untuk mencegah abrasi," terangnya.
Penggunaan geobag ini memberi manfaat lebih m besar bagi lingkungan Bintaro yang mengalami abrasi cukup parah. Geobag merupakan material yang memiliki bahan berjenis geotextile non woven.
"Material tersebut berupa tanah, pasir kasar, pasir laut, dan batu kerikil," jelasnya.
Geobag dibentuk sedemikian rupa menyerupai bantal. "Ini bisa digunakan sebagai pengganti batu (menghadang gelombang)," ucapnya.
Geobag menggunakan material spesial sehingga tahan terhadap terjangan air pasang. "Kegunaannya dapat memecah gelombang (pasang) paparnya.
Pemasangan geobag secara gotong royong dilakukan pemerintah dan masyarakat.
"Semua satgas dikerjakan, dari tagana, BPBD, Perkim, PUPR, hingga dari BWS bersama masyarakat memasang geobag," ucapnya.
Hingga menjelang petang, pemasangan geobag di kawasan Bintaro mencakup 70 meter garis pantai.
Irwan mengatakan, pihaknya mengedepankan penanganan Bintaro karena menjadi kawasan yang mengalami abrasi parah dan padat penduduk.
"Bukannya kami mengabaikan tempat yang lain, tapi di sini lingkungan padat penduduk sehingga kita prioritaskan dulu di sini," tekannya.
Sementara itu, Wali Kota Mataram Dr H Mohan Roliskana mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat saat pemasangan geobag.
Untuk sementara, kawasan Bintaro memiliki tanggul dengan material lebih kokoh mencegah abrasi.
Ia menekankan, sangat penting sinergi terbangun antara pemerintah dengan masyarakat dalam menangani persoalan lingkungan tersebut.
"Kita semua harus bahu membahu, dalam menjaga lingkungan dan mengantisipasi bencana," ucapnya.
Pihaknya menekankan akan terus mengupayakan langkah mitigasi, menjaga keselamatan warga masyarakat.
Warga juga diingatkan tetap waspada terhadap cuaca ekstrem di kawasan pesisir.
"Ya, tentu kita semua harus tetap waspada," katanya memperingatkan. (chi/zad/r7)
Editor : Kimda Farida