Di jantung Kota Mataram, tersembunyi warisan kuliner yang tak lekang oleh waktu, yakni Sate Rembiga.
Hidangan ini bukan sekadar makanan, melainkan cerminan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Lombok.
------------------
Di balik cita rasanya yang pedas manis, tersimpan kisah panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.
”Dari usaha nenek, turun-temurun kita lanjutkan," kata Muslehudin, pewaris resep Sate Rembiga Goyang Lidah.
Goyang Lidah menjadi industri kecil dan menengah (IKM) yang mengangkat Sate Rembiga ke panggung dunia.
Berawal dari usaha keluarga yang dirintis 50 tahun lalu, dimulai dari pemotongan sapi dan perdagangan bumbu rempah, hingga akhirnya mengolah sisa daging sapi yang tidak terjual menjadi Sate Rembiga.
Kini, usaha ini berkembang dengan restoran luas di Jalan Dakota, Rembiga, Kota Mataram.
”Hj Nafisah, nama nenek kami," ceritanya singkat.
Secara tampilan, Sate Rembiga mirip sate pada umumnya.
Namun, rasanya tidak kalah nikmat. Terbuat dari daging sapi lokal yang empuk, dibalut bumbu khas yang meresap sempurna, menciptakan sensasi menggoyang lidah.
”Seluruh bahan baku seperti daging sapi dan ayam, kami dapatkan di sekitar Mataram," sebutnya.
Saat mencicipi, daging sapi yang dipotong dadu dan ditusuk terasa lembut di mulut, dengan bumbu meresap hingga ke dalam, membuatnya mudah dikunyah dan ditelan.
Proses pembuatannya masih tradisional.
Daging direndam dalam campuran bumbu rempah, lalu dipanggang di atas bara api, menghasilkan aroma menggugah selera.
Perpaduan rasa pedas dan manis memberikan sensasi yang tak terlupakan di setiap gigitan.
”Dan bumbu rempah kami dapatkan dari para petani di Pulau Lombok," terangnya.
Kini, IKM Goyang Lidah mampu memproduksi ribuan porsi Sate Rembiga setiap bulan.
Mengikuti perkembangan zaman, penyajian Sate Rembiga tidak hanya sebatas di atas piring.
IKM Goyang Lidah berinovasi agar hidangan khas ini bisa dibawa ke mana-mana.
”Kalau hanya dibakar, bertahan dua hari saja. Tapi jika disterilisasi, mampu bertahan hingga satu tahun," ujarnya.
Saat ini, IKM Goyang Lidah memproduksi lebih dari Rp 25.000 kemasan Sate Rembiga serta Rp 15.000 kemasan ayam taliwang dan ayam pelecingan setiap bulan.
Muslehudin, generasi ketiga penerus usaha ini, terus berinovasi.
Ia mulai menjual Sate Rembiga dalam kemasan higienis yang telah disterilisasi, serta memasarkan produknya melalui berbagai platform digital.
Keberhasilan IKM Goyang Lidah tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA).
IKM Goyang Lidah menjadi bagian dari IKM Champion dalam Program Pendampingan Bangga Buatan Indonesia Nusa Tenggara Barat Ite Begawe Fest 2024.
”Program pendampingan Bangga Buatan Indonesia sangat bagus dan menjadi ajang pengembangan diri yang baik bagi kami," tuturnya.
Melalui program ini, Muslehudin mendapat pelatihan dan pendampingan, mulai dari strategi pemasaran digital hingga sertifikasi keamanan pangan HACCP.
HACCP adalah sistem manajemen keamanan pangan yang memastikan produk aman dikonsumsi dengan mengidentifikasi titik kritis dalam produksi.
”Sertifikat ini sangat membantu kami mengembangkan produk dan memperluas pasar," tambahnya.
Kini, Sate Rembiga Goyang Lidah tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga merambah pasar internasional.
Muslehudin berharap Sate Rembiga terus menjadi warisan kuliner yang membanggakan bagi masyarakat Lombok dan Indonesia.
”Tujuan kami adalah melestarikan warisan kuliner khas Nusa Tenggara Barat, agar semakin dikenal di pasar nasional dan mampu menembus pasar internasional," terang Muslehudin. (Sanchia Vaneka/r7)
Editor : Kimda Farida