LombokPost-Mayoritas warga Kota Mataram masih mengandalkan septic tank konvensional dari buis beton atau gumbleng sebagai solusi sanitasi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning mengungkapkan, sekitar 92 persen masyarakat masih menggunakan jenis septic tank ini.
“Masih banyak yang pakai gumbleng itu,” kata Lale.
Lale menjelaskan, menurut kajian, penggunaan septic tank buis beton berpotensi mencemari air bawah tanah karena limbah dapat meresap ke dalam tanah.
Hal ini tentu saja dapat membahayakan kesehatan masyarakat karena sumber air bersih dapat terkontaminasi.
"Kami terus berupaya mengedukasi masyarakat agar beralih ke sistem yang lebih aman, seperti septic tank berbahan fiberglass yang tidak mencemari lingkungan," kata Lale Widiahning.
Pemerintah Kota Mataram telah mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah ini.
Salah satunya adalah dengan menyediakan layanan penyedotan tinja dengan biaya retribusi sebesar Rp 200 ribu per penyedotan.
Dinas PUPR menargetkan retribusi dari layanan ini sebesar Rp 165 juta pada tahun 2025, meningkat dari Rp 90 juta yang terealisasi pada tahun 2024.
“Itu tinggal call saja, langsung datang disedot,” ucapan.
Selain itu, pemerintah juga berencana untuk meningkatkan sosialisasi terkait pentingnya penggunaan septic tank yang sesuai standar.
Sosialisasi ini akan dikombinasikan dengan peningkatan fasilitas pengelolaan limbah di Kota Mataram.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat secara keseluruhan.
Lale Widiahning menambahkan, pihaknya akan terus berupaya untuk mendorong masyarakat agar beralih ke sistem sanitasi yang lebih aman dan ramah lingkungan.
Ia berharap, dengan upaya ini, kualitas air bawah tanah di Kota Mataram dapat terjaga dan kesehatan masyarakat dapat terlindungi. (chi/r7)
Editor : Kimda Farida