Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tantangan Sosial dan Upaya Pemkot Mataram Sebagai Kota Harapan di Bulan Ramadan Mengais Rezeki di Kota yang Berbagi

nur cahaya • Rabu, 26 Maret 2025 | 22:50 WIB

 

POTRET SOSIAL: Dayah dan anaknya tengah berdiri di depan sebuah lapak sambil menunggu uluran tangan kebaikan dari penjual ataupun pembeli, pekan lalu.
POTRET SOSIAL: Dayah dan anaknya tengah berdiri di depan sebuah lapak sambil menunggu uluran tangan kebaikan dari penjual ataupun pembeli, pekan lalu.
 

 

LombokPost-Ramadan tidak hanya membawa berkah bagi umat Islam, tetapi juga menjadi harapan bagi mereka yang menggantungkan hidup pada kebaikan sesama. Kota Mataram menjadi magnet bagi pencari rezeki dari berbagai daerah yang berharap mendapatkan berkah dari hiruk-pikuk Ramadan.

Salah satunya Dayah, perempuan asal Kediri, Lombok Barat. Dengan langkah berat, ia tiba di Mataram menggendong anaknya yang masih kecil. “Diam-diam saya ke sini (tanpa sepengetahuan suami),” ucapnya dengan bibir kering.

Sebelumnya, ia berjualan kecil-kecilan di sekitar pesantren di kampung halamannya. Namun, segalanya berubah ketika lahan tempatnya mencari nafkah ditutup. “Tidak boleh lagi jualan,” ucapnya sedih.

Ia mendapat penjelasan bahwa lahan tersebut akan digunakan untuk keperluan lain. Ibu tiga anak itu pun tak punya pilihan selain menerima kenyataan.

“Saya tidak bisa berbuat apa-apa,” tuturnya dalam bahasa Sasak dengan mata berkaca-kaca.

Kehilangan tempat berjualan berarti kehilangan sumber pendapatan. Dalam keputusasaan, ia memutuskan berangkat ke Mataram. “Naik ojek,” ucapnya singkat.

Kepada keluarga dan tetangga, ia mengatakan akan berdagang di kota, meski kenyataannya berbeda. Kini, ia menggantungkan harapan pada kemurahan hati warga yang tengah berpuasa.

“Ada saja yang ditawarkan. Pakaian bekas pun saya terima dengan syukur,” katanya.

Setiap tahun, Ramadan membawa nuansa berbeda ke Kota Mataram. Jalanan semakin padat oleh warga yang berburu makanan berbuka. Masjid-masjid penuh jamaah, sementara pusat perbelanjaan ramai oleh mereka yang mencari kebutuhan Ramadan dan persiapan Lebaran. Di tengah hiruk-pikuk itu, kehadiran orang-orang seperti Dayah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap sosial kota ini.

Mereka duduk di sudut pasar, depan masjid, atau persimpangan jalan, berharap ada tangan dermawan yang menyisihkan sedikit rezeki.

“Tidak mungkin kami memaksa. Diberi Alhamdulillah, tidak juga tidak apa-apa,” lirihnya.

Bagi Dayah, Ramadan di Mataram adalah pertaruhan hidup. Ia harus memastikan dirinya dan anaknya bisa makan setidaknya sekali sehari. “Ada saja orang baik di sini,” ujarnya dengan senyum tipis.

Ia menerima berbagai bentuk pemberian dengan senang hati, mulai dari makanan hingga uang. “Kadang ada yang memberi uang, kadang makanan. Saya terima semua dengan syukur,” ucapnya.

Namun, tidak semua hari berjalan mulus. Kadang ia harus menahan lapar lebih lama, berharap ada seseorang yang bersedia berbagi rezeki. Ia juga menghadapi tatapan dan bisikan yang tak selalu bersimpati.

“Namanya kita nunas (meminta, Red), yang penting ada yang memberi dengan ikhlas,” katanya.

Ia tak bisa sepenuhnya mengandalkan suaminya, yang juga tak memiliki pekerjaan tetap. “Kasihan juga dia (suaminya),” lirihnya.

Bagi Dayah, perjalanan ini belum berakhir. Ramadan masih berjalan, dan ia belum tahu apa yang akan terjadi setelah bulan suci berlalu. “Iya, kasihan juga dia harus ikut,” katanya sambil menatap anaknya yang digendong.

Ia masih berharap ada peluang di kota ini. Mungkin seseorang akan memberinya pekerjaan, atau ada jalan lain agar ia tak selamanya bergantung pada belas kasihan orang lain.

Di tengah gemerlap Ramadan, di antara suara azan yang bergema di setiap sudut kota, ada mereka yang datang dengan harapan. Ada yang pulang dengan tangan penuh, ada pula yang pergi dengan hati bertanya-tanya: apakah di kota ini mereka akan menemukan rezeki, atau sekadar mencicipi manisnya harapan?

Fenomena meningkatnya jumlah pendatang yang mengais rezeki selama Ramadan bukan hal baru di Mataram. Pemerintah kota, melalui Dinas Sosial, terus berupaya menyeimbangkan kepedulian sosial dan ketertiban umum.

Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Lalu Syamsul Adnan mengatakan, Ramadan memang menjadi momen meningkatnya jumlah pengemis, anjal, dan gepeng.

“Mereka datang dengan berbagai alasan. Sebagian mencari pekerjaan, tetapi tidak sedikit yang hanya berharap belas kasihan,” ujarnya.

Fenomena serupa sebelumnya juga terjadi, seperti kehadiran manusia silver di persimpangan jalan. Dinas Sosial harus turun tangan karena bertentangan dengan status Mataram sebagai kota layak anak.

“Sudah kami dapat informasi dan telah ditertibkan,” katanya.

Syamsul menegaskan, pemkot tidak tinggal diam. Program bantuan sosial terus digalakkan untuk membantu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Namun, bagi orang-orang seperti Dayah yang bukan warga ibu kota, persoalannya berbeda. Fenomena ini perlu diatasi dengan pendekatan lebih luas, seperti koordinasi antardaerah.

“Kita ingin membantu mereka, tapi juga ingin mendorong solusi jangka panjang. Memberikan bantuan saja tidak cukup. Kita perlu memastikan mereka punya peluang untuk mandiri,” tambahnya.

Salah satu upaya pemkot adalah memberikan pelatihan keterampilan bagi warga yang kehilangan pekerjaan. Namun, bagi mereka yang datang hanya untuk meminta-minta, pemerintah harus mengambil langkah berbeda.

“Kami mengimbau warga agar menyalurkan bantuan melalui lembaga resmi atau masjid. Dengan begitu, bantuan bisa diberikan secara lebih merata dan tepat sasaran,” ucapnya. (zad/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#Pendapatan #ramadan #masjid #sesama #berkah #padat #rezeki