Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Jack Firman, dari Hobi Fotografi hingga jadi Mentor Internasional

nur cahaya • Sabtu, 29 Maret 2025 | 08:53 WIB
MEMUKAU: Salah satu hasil jepretan Jack Firman di Jalur Sutra, kawasan penuh sejarah terutama tentang peradaban Islam.
MEMUKAU: Salah satu hasil jepretan Jack Firman di Jalur Sutra, kawasan penuh sejarah terutama tentang peradaban Islam.

 Di balik bidikan kameranya yang tajam dan penuh makna, ia bukan fotografer biasa.

Seorang petualang visual yang menjelajah dunia, menangkap keindahan lanskap dan budaya dari berbagai belahan bumi.

 Di dunia fotografi lanskap, menangkap cahaya yang sempurna bukan sekadar soal keberuntungan.

Dibutuhkan dedikasi, pemahaman mendalam tentang medan, serta kepekaan artistik yang tinggi.

 ---------------------------------------------------

DENGAN latar belakang yang tak langsung mengarah ke fotografi, perjalanan Jack Firman menuju puncak dunia visual merupakan kisah inspiratif.

Perjalanan hidupnya mengajarkan tentang ketekunan, strategi, dan keberanian menantang arus.


“Ya saya bangga dan bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini,” ucapnya memulai kisah, kemarin (26/3).

Jack Firman atau yang dikenal di media sosial dengan nama tersebut, memiliki nama asli Firman Ayatullah.

Ia lahir dan besar di Ampenan, Lombok, dan kini berusia 46 tahun.


Dunia fotografi bukan sesuatu yang asing baginya, tetapi awalnya hanya sebatas hobi yang ia tekuni sejak tahun 2009.

“Kalau dulu, saya motret hanya karena suka. Saya tidak terlalu memikirkan apakah ini bisa menjadi pekerjaan utama,” kenang Jack.

Namun, situasi pandemi Covid-19 mengubah cara pandangnya.

Saat itu, banyak pekerjaan lain yang terhenti, dan ia pun mulai menyeriusi fotografi sebagai sumber utama penghasilan.

“Saya sadar, kalau diseriusin, fotografi ini bisa jadi profesi yang bukan hanya sekadar bertahan hidup, tapi benar-benar membuat hidup dan punya makna,” katanya.

Dari situlah, ia mulai membaca peluang dan memetakan strategi.

“Saya membangun jaringan dengan fotografer profesional di dalam dan luar negeri,” ucapnya.

Keputusan menekuni fotografi secara profesional bukan tanpa tantangan.

Jack harus mencari cara agar bisa dikenal, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.

Salah satu caranya adalah dengan membangun hubungan dengan fotografer internasional dan bergabung dalam perjalanan mereka.

“Saya banyak belajar dari fotografer luar negeri, masuk ke dalam circle mereka, dan akhirnya mulai dikenal di komunitas internasional,” tuturnya.

Dari sana, tawaran workshop dan perjalanan fotografi mulai berdatangan.

“Memang ini tidak instan, bagi saya prosesnya cukup panjang,” ucapnya.

Keseriusannya berbuah manis.

Jack Firman kini telah berkeliling ke berbagai negara, termasuk Vietnam, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Islandia, Italia, Chile, hingga Argentina, untuk berburu foto dan mengajar fotografi.

“Perjalanan pertama saya ke luar negeri adalah ke Vietnam. Di sana, saya melihat bagaimana budaya dan alam bisa menjadi objek yang luar biasa untuk difoto,” katanya.

Keahliannya dalam menangkap momen terbaik di berbagai belahan dunia menarik perhatian berbagai pihak.

Salah satu pencapaiannya adalah mendapatkan sponsor dari DOS, salah satu toko kamera terbesar di Indonesia.

“DOS mendukung penuh kebutuhan fotografi saya. Mulai dari peralatan hingga pendanaan untuk perjalanan, semua mereka fasilitasi. Ini jadi modal besar bagi saya untuk terus berkembang,” jelas Jack.

Tidak hanya fokus pada karier pribadi, Jack juga ingin menciptakan generasi fotografer baru.

Ia kemudian mendirikan perusahaan Fototrip, sebuah program perjalanan fotografi yang dirancang untuk membantu fotografer pemula hingga profesional mendapatkan pengalaman langsung di lapangan.

“Fototrip ini bukan sekadar jalan-jalan sambil foto, tetapi program mentorship yang serius,” tekannya.

Ia yang langsung membimbing para peserta, dari teknik pemotretan hingga editing. “Bahkan strategi pemasaran foto,” jelasnya.

Jack dan timnya terlebih dahulu melakukan scouting, yaitu survei lokasi sebelum membuka trip.

Ia memastikan segala kebutuhan, seperti penginapan, transportasi, hingga pemandu lokal, sudah siap sebelum peserta datang.

“Saya ingin mereka fokus pada belajar dan menikmati prosesnya. Semua sudah diatur, mereka tinggal datang dan memotret,” terangnya.

Melalui program ini, Jack Firman berharap bisa melahirkan lebih banyak “Firman-Firman” baru yang dapat sukses di dunia fotografi.

Ia membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin belajar, tanpa memandang latar belakang.

“Saya tidak takut berbagi ilmu. Semakin banyak fotografer yang berkembang, semakin kuat komunitas kita,” tegasnya.

Jack Firman telah membuktikan, fotografi bukan sekadar hobi, tetapi bisa menjadi profesi yang menjanjikan jika ditekuni dengan serius.

Perjalanannya dari seorang hobiis menjadi fotografer profesional tingkat internasional adalah bukti bahwa dengan tekad dan strategi yang tepat, peluang bisa diciptakan.

Melalui program Fototrip dan mentorship-nya, Jack terus menginspirasi banyak orang untuk berani mengambil langkah di dunia fotografi.

Ia bukan hanya menangkap keindahan dunia lewat lensa, tetapi juga membuka jalan bagi generasi berikutnya untuk menjejakkan kaki di panggung global.

“Dulu saya hanya seorang yang suka memotret, sekarang saya bisa berbagi pengalaman dengan banyak orang. Dan saya yakin, masih banyak fotografer hebat yang bisa lahir dari Indonesia,” ucapnya. 

JACK Firman, seorang fotografer lanskap asal Indonesia, telah melintasi berbagai belahan dunia untuk mengabadikan keindahan alam dari perspektif yang unik.

Dari pegunungan Himalaya hingga lanskap es Islandia, perjalanannya bukan sekadar petualangan visual, tetapi juga kisah tentang membangun jaringan global, menggali sejarah.

“Dan menemukan kebahagiaan dalam fotografi,” ucapnya penuh makna, Rabu (26/3).

Jack Firman menekankan, perjalanan fotografi memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar berwisata.

“Banyak orang berpikir bahwa perjalanan fotografi lanskap itu seperti wisata biasa, padahal ini lebih dari sekadar jalan-jalan,” katanya.

Fotografi lanskap menuntut lebih dari sekadar kamera bagus dan pemandangan indah.

Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan, mulai dari cuaca, pencahayaan, hingga medan yang harus dilalui.

Jack Firman sering kali harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk mendapatkan satu jepretan yang sempurna.

“Kadang kita harus mendaki bukit selama dua sampai tiga jam untuk mendapatkan angle terbaik,” katanya.

Hal ini membuat fotografi lanskap menjadi tantangan tersendiri, berbeda dengan genre fotografi lainnya yang bisa dilakukan di studio atau tempat yang lebih nyaman.

Meskipun begitu, tantangan inilah yang justru membuatnya semakin mencintai pekerjaannya.

“Ada kepuasan tersendiri ketika bisa menangkap momen yang jarang dilihat orang lain,” ujarnya.

Seperti banyak fotografer lain di era digital, Firman memanfaatkan media sosial untuk membangun jaringan dan eksposur global.

“Instagram menjadi platform utama saya,” katanya.

Di sana, komunitas fotografer lanskap dari berbagai negara saling mengenal, meskipun belum pernah bertemu secara langsung.

Namun, membangun reputasi di dunia fotografi internasional tidak cukup hanya dengan mengunggah foto di media sosial. Firman juga aktif mengikuti berbagai kompetisi fotografi global.

“Walaupun tidak selalu menang, masuk nominasi saja sudah cukup untuk meningkatkan kredibilitas,” ujarnya.

Salah satu momen paling berkesan baginya adalah ketika fotonya dipamerkan di London dan Prancis.

“Itu seperti pengakuan bahwa karya saya memiliki nilai di kancah internasional,” tambahnya.

Keikutsertaan dalam kompetisi ini juga mempercepat penyebaran namanya di kalangan fotografer dunia.

“Di ruang lingkup fotografer, informasi menyebar dengan sangat cepat,” katanya.

Ini menjadi salah satu cara efektif untuk membangun koneksi dengan fotografer dari berbagai negara.

“Bahkan tanpa harus bertemu secara langsung,” paparnya.

Dari sekian banyak tempat yang telah dikunjunginya, kawasan Jalur Sutra menjadi salah satu yang paling berkesan.

“Saya suka sejarah, terutama sejarah peradaban Islam,” ujarnya.

Negara-negara seperti Kazakhstan, Kyrgyzstan, Uzbekistan, dan Tajikistan menawarkan perpaduan antara lanskap alam yang spektakuler dan jejak sejarah yang kaya.

“Berada di sana seperti kembali ke zaman kejayaan Islam,” katanya dengan antusias.

Baca Juga: Ngabuburit di LEM Ada Bazar Ramadan yang Banjir Diskon, Pilihan Kulinernya Banyak, Bisa Langsung Berburu Pakaian Lebaran

Jalur Sutra, dahulu menjadi jalur perdagangan utama antara Timur dan Barat, menyimpan banyak peninggalan sejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Baginya, mengunjungi tempat-tempat ini bukan hanya sekadar perjalanan fotografi, tetapi juga perjalanan spiritual yang membawanya lebih dekat dengan sejarah peradaban Islam.

Firman mengungkapkan, salah satu alasan utama ia menyukai fotografi lanskap adalah kemampuan menceritakan kisah melalui gambar.

“Saya ingin orang-orang yang melihat foto saya merasakan atmosfer yang sama seperti yang saya rasakan saat berada di sana,” katanya.

Fotografi lanskap bukanlah hobi murah. Firman menargetkan segmen pasar kelas menengah ke atas, khususnya mereka yang memiliki kecintaan terhadap fotografi dan finansial yang stabil.

“Kebanyakan klien saya adalah orang-orang yang sudah pensiun dan ingin menikmati hidup,” ujarnya.

Mereka memiliki waktu dan sumber daya untuk menjelajahi dunia sambil menekuni hobi baru. Paket perjalanan fotografi yang ditawarkannya pun tidak sembarangan.

“Untuk trip ke Islandia saja, biayanya bisa mencapai 48 juta per orang, belum termasuk tiket pesawat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, ia memilih untuk tetap bermain di kelas premium dan tidak mengambil semua tawaran yang datang.

“Saya lebih memilih segmen ini karena memang sejak awal sudah saya targetkan,” katanya.

Meskipun eksklusif, permintaan untuk fotografi trip tetap tinggi. Banyak orang yang rela menginvestasikan puluhan juta demi pengalaman dan foto yang tak ternilai.

“Mereka ingin sesuatu yang tidak bisa didapatkan dalam perjalanan wisata biasa,” ujarnya.

Jack Firman juga menyadari, ada segmen lain dalam dunia fotografi lanskap, yaitu mereka yang masih muda dan baru memulai karier.

“Anak-anak muda mungkin lebih memilih paket yang lebih terjangkau karena mereka masih dalam tahap membangun finansial,” katanya.

Namun, ia tetap teguh pada pilihannya untuk bermain di segmen premium.

“Saya sudah menentukan dari awal bahwa saya ingin bermain di level ini,” tegasnya.

Bagi Firman, fotografi bukan sekadar profesi atau bisnis, tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya.

Ia menikmati setiap perjalanan, setiap interaksi dengan klien, dan setiap momen yang berhasil diabadikannya.

“Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa membawa orang ke tempat yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya,” katanya.

Ia juga menekankan, kebahagiaan dalam fotografi tidak selalu datang dari aspek finansial.

“Tentu saja, penghasilan itu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menikmati prosesnya,” ujarnya.

Baginya, bisa berdiri di puncak bukit setelah perjalanan panjang dan melihat matahari terbit yang sempurna adalah hadiah yang tak ternilai.

“Ini momen yang sulit dilukiskan kata-kata,” ucapnya.

Dalam dunia fotografi lanskap yang penuh tantangan, Jack Firman telah menemukan jalannya sendiri. Bukan hanya berburu cahaya, tetapi juga menelusuri jejak sejarah, membangun relasi global, dan berbagi pengalaman dengan orang-orang yang ingin melihat dunia dari sudut yang berbeda. “Fotografi ini lebih dari sekadar hobi atau pekerjaan, ini adalah cara saya memahami dunia,” pungkasnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN/r7)

Editor : Kimda Farida
#bahagia #membangun #media sosial #fotografer #relasi #global #segmen #premium #klien #hubungan #luar negeri