Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kembalinya Robbyan Abel Ramdhon ke Panggung Sastra, Momentum Pas Mempromosikan Karya

nur cahaya • Rabu, 16 April 2025 | 21:55 WIB

 

HOBI: Abel saat duduk membaca buku koleksinya, beberapa tahun lalu. 
HOBI: Abel saat duduk membaca buku koleksinya, beberapa tahun lalu. 
 

Dua Tahun Vakum, ”Di Sebuah Kota” Mengantarnya ke Ubud Writers & Readers Festival. Setelah dua tahun vakum dari dunia kepenulisan, Robbyan Abel Ramdhon kembali mengejutkan dunia sastra. Cerpen yang ditulis dalam sehari mengantarnya ke salah satu festival sastra paling prestisius di Asia Tenggara, yakni Ubud Writers & Readers Festival.

---------------------------------

Perjalanan Robbyan menuju Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun ini terasa istimewa. Ia bukan hanya menjadi satu-satunya perwakilan dari NTB, tetapi juga karena perjalanannya sebagai penulis sempat mengalami "mati suri" selama dua tahun. Kini, pena yang sempat diam itu kembali menari di panggung sastra Asia Tenggara.

Yayasan Mudra Swari Saraswati selaku penyelenggara UWRF baru-baru ini mengumumkan daftar penulis terpilih untuk program Emerging Writers. Dari 647 naskah yang masuk, dewan kurator memilih sepuluh nama dengan kualitas dan orisinalitas karya yang menjanjikan. Di antara nama-nama dari Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Makassar, terselip nama Robbyan, sebuah kejutan manis bagi komunitas literasi di Lombok.

Perjalanan Robbyan bukanlah kisah lurus seorang penulis yang terus berkarya. Sejak aktif menulis di bangku SMA, ia juga sempat mendalami dunia teater yang memperkaya kepekaan literasinya.

Photo
Photo

Namun, setelah menyelesaikan kuliah Ilmu Komunikasi di Universitas Airlangga, masa produktifnya berlangsung dari 2019 hingga 2022. Tahun berikutnya, ia mulai menepi dari dunia kepenulisan.“Banyak yang dikerjakan di luar bidang kepenulisan,” ujarnya singkat.

Dua tahun berlalu tanpa satu pun karya yang tercipta. Namun, panggilan untuk kembali menulis tak bisa ditahan selamanya.

“Saya hanya merasa perlu untuk menulis. Entah karena apa, saya merasa perlu kayak bernafas,” ucapnya terkekeh.

Dorongan untuk kembali muncul begitu saja. Sebuah ide sederhana menjadi pemicunya: mengikuti festival.

“Karena sudah lama tidak terdengar nama saya, ya sudah ikut festival aja,” ungkap Robbyan dengan nada polos, menyimpan semangat untuk membuktikan eksistensinya kembali.

Ia pun mengirimkan cerpen berjudul Di Sebuah Kota, sebuah karya sepanjang 2.500 kata yang lahir dari proses kreatif singkat namun intens. “Siangnya saya tulis, malamnya saya kirim,” kenangnya.

Cerpen yang mengangkat tema budaya dan kehidupan perkotaan itu rupanya berhasil memikat dewan kurator UWRF. Keputusan terpilihnya Robbyan menjadi kabar menggembirakan, terlebih setelah dua tahun ia “menghilang” dari dunia literasi. Ini menjadi bukti bahwa bakat tak pernah benar-benar hilang. Hanya tertidur sejenak.

Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian pribadi. Bagi komunitas literasi di NTB, ini adalah kabar baik. Robbyan, sebagai satu-satunya wakil dari Lombok, membawa misi untuk menunjukkan potensi intelektual dan literasi daerahnya.

Meski belum memiliki rencana khusus terkait isu-isu lokal yang akan dibawanya di forum internasional nanti, Robbyan ingin menyoroti eksistensi komunitas literasi di Lombok yang kecil namun konsisten.

Ia mengakui, kebudayaan dan dinamika terkini di Lombok belum sepenuhnya “siap angkat cerita”, terutama karena daerahnya tengah berada dalam masa transisi pemerintahan. Ia juga merasa belum banyak hal yang bisa diamati dari sektor pariwisata saat ini.

Menjelang pelaksanaan UWRF pada akhir November mendatang, Robbyan mempersiapkan diri tak hanya untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengan penulis-penulis dari berbagai negara, tetapi juga untuk memperkenalkan karya-karyanya, termasuk buku perdananya yang akan segera dirilis, Tuhan Bersembunyi Seperti Kancing Cadangan.

“Menurut saya ini menjadi momentum yang pas. Karena sejak awal saya berencana untuk masuk ke acara ini bagus untuk promosi buku saya,” terangnya.

Di tengah geliat sastra yang terus tumbuh, kembalinya Robbyan menjadi pengingat bahwa jeda tak selalu berarti akhir. Kadang, ia hanya pembuka bagi babak baru yang lebih bermakna. (SANCHIA VANEKA/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#internasional #dunia #cadangan #NTB #teater #Dinamika #Lombok