Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Animan Megalamat: Flamenco Guitar dan Penyanyi Multibahasa dari Rembiga

Lalu Mohammad Zaenudin • Rabu, 16 April 2025 | 22:20 WIB
Animan Megalamat
Animan Megalamat

 

 

Meski namanya tak setenar musisi panggung-panggung besar, Animan tetaplah seniman musik bertalenta. Di balik  ketenangannya, ia menyimpan ribuan nada, ratusan panggung, dan puluhan lagu dari berbagai negara dikuasainya.

 

---

 

NAMANYA Iman. Tapi di dunia musik, ia memakai nama panggung Animan Megalamat.

Sosok yang mungkin terdengar asing bagi publik luas, tapi sangat dikenal dalam lingkaran komunitas musik lintas acara di NTB.

“Kadang-kadang saya juga sengaja merahasiakan identitas saya. Di luar sana, nggak semua orang harus tahu kita siapa. Cukup yang perlu saja,” katanya dalam wawancara yang santai, Rabu (16/4).

Iman mengaku mencintai musik sejak lama.

Bahkan sebelum panggung-panggung itu memanggilnya, sebelum orang-orang mengenal aksennya dalam menyanyikan lagu berbahasa asing, dan sebelum ia menjadi additional player dalam banyak proyek musik lintas kota.

Namun, di balik cintanya terhadap musik, tersimpan rasa lelah yang dalam.

“Sebenarnya bukan musiknya yang bikin lelah. Tapi sistem-sistem yang ngatur dunia musik itu,” katanya sambil menarik napas pelan.

Menurutnya, banyak aturan di dunia musik yang justru tidak diikuti oleh orang-orang yang membuatnya.

Hal ini menciptakan suasana yang kontradiktif, membatasi kreativitas, bahkan kadang mematikan gairah berkesenian itu sendiri.

“Banyak yang suka ngatur, tapi mereka sendiri nggak mematuhi aturannya. Aneh, kan? Jadi kadang saya rasa, udah, dunia ini udah terlalu lelah,” ujarnya, lebih sebagai refleksi daripada keluhan.

Iman tidak hanya dikenal sebagai penyanyi solo.

Ia juga seorang pengajar gitar selama lebih dari 25 tahun.

Selain tentang kemampuannya yang kaya bakat di bidang musik, Animan rupanya seorang yang jago dalam bela diri wushu.

Soal ini, ia masih menyimpan baik bukti yang tak banyak penyuka wushu memilikinya.

Bukti itu berupa, sertifikat resmi yang ia peroleh pada tahun 2006, meski ia tak pernah membanggakannya di depan umum.

“Saya bukan tipe orang yang suka pamer sertifikat. Tapi kalau mau bukti, ya saya punya. Cuma saya rasa, pengakuan tidak datang dari kertas,” tuturnya.

Kembali ke panggung musik, Animan mengaku sudah tidak bisa menghitung lagi berapa panggung musik yang pernah menjadi lokasi perform-nya.

“Banyak sekali. Dari panggung kecil, pernikahan, acara komunitas, sampai yang besar-besar. Tapi saya nggak hitung. Buat apa?” ujarnya sembari tertawa.

Bahkan sering ia menjadi vokalis pengganti, datang tiba-tiba, langsung tampil, dan pulang tanpa banyak bicara.

Yang lebih mencengangkan adalah kemampuannya membawakan lagu dalam berbagai bahasa: Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Portugis, Spanyol, Jepang, Korea, Brazil, bahkan Meksiko.

“Saya mungkin nggak ngerti semua artinya, tapi saya pelajari aksennya, pengucapannya. Karena rasa itu bisa sampai lewat suara, meski kita nggak paham semua kata,” jelasnya.

Iman mengakui, ia tidak sembarang membawakan lagu. Ia selalu mencari tahu maknanya terlebih dahulu.

Jika lagunya bicara soal ibu, patah hati, atau keluarga, ia mencoba memahami emosinya sebelum menyanyikannya.

“Saya nggak mau asal nyanyi. Lagu itu harus ada rasanya. Kita nggak bisa nyanyi lagu sedih sambil ketawa-tawa, atau lagu bahagia tapi kita malah murung. Saya pelajari dulu maknanya,” terangnya.

Ia bahkan pernah berada dalam situasi unik: seseorang membayar agar lagu tertentu tidak dibawakan, sementara orang lain pada saat bersamaan meminta lagu itu dinyanyikan.

“Waktu itu saya cari jalan tengah. Saya bilang ke mereka: saya bisa bawain lagu ini dalam 100 versi. Akhirnya saya nyanyi lagu yang sama tapi dengan versi berbeda. Dia tertawa dan bilang, ‘kalau gitu, saya suka’,” kenangnya.

Dalam dunia musik yang menuntut kecepatan, Iman pernah menghadapi situasi ekstrem: seseorang meminta lagu yang belum ia hafal, bahkan beberapa menit sebelum tampil.

Tapi dengan percaya diri, ia meminta waktu dua menit saja.

“Kalau otak lagi enak, saya bisa pelajari lagu dalam dua menit. Saya dengarkan, saya tangkap nuansanya, saya modif sedikit. Pernah ada yang bilang, ‘Are you human?’ Saya jawab, ‘Yes, of course’,’” ceritanya bangga.

Modifikasi lagu juga jadi jurus andalan.

Bila lupa lirik atau belum menguasai sepenuhnya, ia akan meracik aransemen baru agar tetap bisa tampil tanpa mengecewakan penonton.

Dalam percakapan panjang itu, satu hal menjadi jelas: Animan bukan mencari popularitas.

Ia bukan tipe yang mengejar sorotan.

Ia lebih suka dunia yang sunyi, tempat musik bisa mengalir apa adanya, tanpa perlu penilaian yang bising.

“Siapa sih saya ini? Banyak yang mungkin nggak tahu. Tapi saya tetap menyanyi. Karena musik ini bagian dari hidup saya,” katanya lirih, seperti sedang menyanyikan bait terakhir dari lagu favoritnya yang belum selesai. (Bersambung/r6)

 

 

Editor : Prihadi Zoldic
#Kota Mataram #lagu #musik #panggung #Rembiga