LombokPost-Sejumlah orang tua siswa di sekitar lingkungan sekolah melaporkan adanya penjualan jarum suntik oleh pedagang mainan. Laporan ini memicu kekhawatiran, terutama terkait potensi bahaya jika alat suntik tersebut merupakan barang bekas atau mengandung jarum tajam.
Menindaklanjuti laporan itu, Dinas Kesehatan Kota Mataram langsung menurunkan tim teknis bersama petugas Puskesmas Tanjung Karang untuk menelusuri kebenarannya. Lokasi penelusuran mencakup sekolah yang dimaksud dan toko-toko mainan di sekitarnya.
“Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, kami pastikan bahwa suntikan yang dijual bukan alat medis bekas pakai,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr Emirald Isfihan.
Ia menjelaskan, suntikan itu merupakan mainan yang dibeli dari toko, tidak menggunakan jarum logam, melainkan selang plastik. “Tentunya tidak tajam dan tidak berbahaya,” jelasnya.
Meski demikian, Dinkes tetap melakukan pemantauan untuk memastikan tidak ada penyimpangan. “Informasi lanjutan dari masyarakat tetap kami butuhkan untuk mengonfirmasi kembali temuan ini. Kami akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait,” tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, tim Dinkes memberikan edukasi kepada para penjual mainan mengenai pentingnya menjual produk yang aman bagi anak-anak. Penjual diimbau tidak lagi menggunakan komponen tajam, termasuk jarum suntik sungguhan atau bekas medis dalam bentuk apa pun.
Edukasi serupa disampaikan kepada toko mainan agar turut bertanggung jawab dalam mengawasi produk yang mereka jual. “Kami ingin memastikan keamanan anak-anak dan memberikan ketenangan kepada masyarakat. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga bentuk kepedulian bersama,” kata dr Emirald.
Ia menegaskan, pengelolaan limbah medis di Kota Mataram sudah berjalan sesuai standar. Fasilitas pelayanan kesehatan memiliki sistem pemusnahan limbah medis yang ketat dan diawasi secara berkala. “Tidak mungkin limbah medis, apalagi alat suntik bekas, bisa beredar bebas di masyarakat,” tegasnya.
Atas laporan yang masuk, dr Emirald menyampaikan apresiasi kepada warga yang peduli terhadap lingkungan. Ia menyebut pelaporan seperti ini sebagai bukti bahwa masyarakat Mataram aktif menjaga keamanan dan kesehatan publik.
“Kami mendorong masyarakat lainnya untuk tidak ragu menyampaikan pertanyaan atau kekhawatiran mereka langsung kepada pihak berwenang. Dengan begitu, kita bisa menghindari kesalahpahaman dan penyebaran informasi yang tidak tepat,” ucapnya.
Soni, salah satu penjual, mengaku tidak tahu bahwa produk yang ia jual menimbulkan kekhawatiran. Ia menyebut suntikan mainan itu dibeli dari toko grosir mainan di kota. “Jarumnya juga bukan besi, cuma selang plastik,” ujarnya.
Ia mengaku sempat kaget saat didatangi petugas kesehatan. Namun setelah dijelaskan, ia merasa lega. “Ya, anak-anak suka beli, mungkin karena bentuknya bisa dipakai main dokter-dokteran,” ucapnya. (zad/r7)
Editor : Prihadi Zoldic