LombokPost-Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Pada 2021, tercatat 305 kasus per 100 ribu kelahiran hidup. Pemerintah menargetkan penurunan AKI menjadi 70 per 100 ribu pada 2030. Untuk itu, dibutuhkan upaya bersama dan terstruktur. NTB sendiri masuk sepuluh besar provinsi dengan AKI tertinggi, yakni 257 kasus per 100 ribu kelahiran hidup pada 2022.
Dr dr Yusra Pintaningrum menegaskan pentingnya intervensi sejak dari fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas. “Tidak bisa dari hilirnya tapi harus dari hulunya. Dari hulunya yakni dari faskes pertama yakni Puskesmas,” ujarnya dalam diskusi penurunan AKI di Kota Mataram.
Dengan melibatkan 11 Puskesmas di Mataram, informasi diharapkan bisa tersampaikan secara akurat. Menurut dr Yusra, dokter di rumah sakit tidak mungkin menjangkau langsung ke tingkat hulu. Karena itu, strategi edukasi dan pemberian informasi kepada Puskesmas menjadi sangat penting.
“Sehingga dapat mendeteksi secara awal di faskes. Kalau sudah begitu kan dapat menekan angka kematian ibu,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini kehamilan yang disertai penyakit jantung, serta kewaspadaan terhadap ibu hamil dengan riwayat hipertensi. Pasien dengan kondisi tersebut harus segera dirujuk ke fasilitas yang lebih memadai.
“Kalau sudah dirujuk maka kita tahu, kelahirannya mau normal atau SC,” terangnya.
Penanganan yang tepat diharapkan mampu menekan risiko komplikasi yang berujung pada kematian ibu. Sebagai bagian dari upaya ini, dr Yusra menyebutkan akan diluncurkan buku panduan penanganan penyakit jantung pada kehamilan. Buku tersebut memuat panduan berbasis bukti ilmiah sejak awal kehamilan hingga pendekatan multidisiplin.
“Tujuannya adalah untuk mengurangi faktor risiko bagi ibu dan janin secara signifikan,” imbuhnya.
Buku panduan ini juga akan mengintegrasikan skrining ibu hamil melalui program Integrasi Layanan Primer (ILP). Program ini merupakan pilar transformasi sistem kesehatan dari Kementerian Kesehatan.
“Integrasi ini diharapkan dapat memperkuat deteksi dini risiko pada ibu hamil di tingkat layanan primer,” tambahnya.
Sementara itu, dr Wahyu Sulistya Affarah mengakui angka kematian ibu di Kota Mataram relatif lebih rendah dibanding daerah lain di NTB. Namun demikian, kasus AKI di Mataram tetap menjadi perhatian.
“Memang Kota Mataram kasus Angka Kematian Ibu (AKI) paling rendah dibandingkan dengan kabupaten dan kota lain di NTB. Tetapi kasusnya masih ada. Padahal dari jumlah akses geografis mudah, jumlah faskes juga banyak. Tapi kok masih ada kasusnya. Itu yang perlu jadi perhatian kita semua,” tegas dr Wahyu.
Ia juga mengungkapkan perbedaan mencolok AKI di Mataram dengan daerah lain, di mana mayoritas kasus justru terjadi pada masa nifas, bukan saat kehamilan atau persalinan.
“Bedanya lagi, yang di Mataram dengan kabupaten kota lain kasus AKI ternyata didominasi saat nifas atau bersalin. Jadi bukan saat persalinan atau saat kehamilan tapi saat nifas,” jelasnya.
Hasil simposium menunjukkan salah satu penyebab utama AKI di Mataram adalah kelainan jantung yang muncul setelah persalinan.
“Hasil kita simposium hari ini karena ada kelainan di jantung, yang baru muncul saat setelah melahirkan,” pungkas dr Wahyu. (chi/r7)
Editor : Kimda Farida