LombokPost - Kolam renang anak di kawasan Mataram Water Park (MWP), Kota Mataram, mengalami kebocoran dan belum bisa difungsikan.
Kondisi ini menyebabkan salah satu wahana renang itu tidak lagi bisa digunakan.
Koordinator pengelola MWP, Damhuri, mengatakan kebocoran di kolam anak sudah terjadi cukup lama.
“Sudah lama, jadi setiap diisi airnya dengan cepat menyusut,” katanya, Kamis (1/5).
Namun hingga saat ini belum ada perbaikan karena keterbatasan anggaran.
Ia menuturkan, pengelola telah menyampaikan laporan kepada dinas terkait, dengan harapan bisa segera dapat diatensi.
“Kalau pemeliharaan kolam, sekitar kolam seperti sampah, rumput, setiap hari tetap kita bersihkan,” terangnya.
Fasilitas ini sebenarnya sangat diminati anak-anak. Terlebih ada fasilitas perosotan anak.
“Dibanding kolam utama, ini lebih aman untuk anak karena lebih dangkal. Kalau kolam utama dalam sekali, sampai tiga meter,” ucapnya.
Damhuri bahkan meyakinkan jika kolam itu diperbaiki dan ditambah fasilitas pendukung lainnya maka dapat menarik minat lebih banyak pengunjung.
“Tapi karena fasilitasnya belum memadai, kami juga belum berani berpromosi besar-besaran,” ucapnya.
Menurutnya, kolam anak merupakan daya tarik utama MWP.
Jika fasilitas itu diperbaiki dan kawasan dikelola lebih optimal, ia yakin MWP bisa bersaing bahkan melebihi kolam-kolam renang favorit lainnya di Kota Mataram.
Selama ini, pengelolaan MWP mengandalkan pendapatan dari tiket, namun belum mencukupi untuk membiayai perbaikan infrastruktur.
“Kalau didukung anggaran yang memadai, kami bisa hidupkan lagi semua fasilitas. Potensinya besar, karena tempat ini dulu sempat ramai,” kata Damhuri.
Pantauan di lapangan menunjukkan kolam anak dalam kondisi kering.
Beberapa keramik kolam terkelupas. Tidak terlihat aktivitas pengunjung di sekitar kolam tersebut.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Mataram Soehartono Toemiran membenarkan keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam perbaikan fasilitas MWP.
Ia mengatakan pemerintah kota sedang mengevaluasi skema pengelolaan agar kawasan ini bisa kembali aktif dan menarik minat masyarakat.
“Kami menyadari ada potensi besar di MWP. Tapi kondisi keuangan daerah terbatas, sehingga kami harus benar-benar selektif dalam mengalokasikan anggaran,” ujarnya. (zad/r7)
Editor : Kimda Farida