LombokPost - Kaki pengkor atau clubfoot adalah kelainan bawaan yang membuat kaki bayi bengkok ke dalam atau terkadang keluar.
Di Indonesia, kondisi ini terjadi pada sekitar satu dari 800 bayi. Tantangan utama penanganan clubfoot adalah deteksi dini dan perawatan berkelanjutan.
Di sinilah LombokCare hadir memberikan harapan bagi anak-anak di NTB dengan penanganan komprehensif, termasuk penyediaan alat bantu yang mahal secara gratis.
Pembina Yayasan LombokCare Mindie Schreurs menjelaskan, kendala terbesar dalam penanganan clubfoot adalah rendahnya kesadaran orang tua.
“Biasanya kita nemunya di usia 2 tahun ke atas," ujar Mindie.
Orang tua, terutama dari kalangan ekonomi rendah, sering tidak mengetahui kondisi ini atau ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis karena kekhawatiran biaya atau operasi.
“Masalahnya di penyampaian informasinya saja, kendalanya di situ," tambahnya.
Banyak orang tua yang tidak menyadari adanya masalah jika bidan belum mendeteksi, dan setelah deteksi pun masih sulit mendapatkan diagnosis serta penanganan lanjutan.
LombokCare bekerja sama dengan dokter ortopedi di Lombok menangani clubfoot melalui tiga fase utama.
Pertama, fase gips atau koreksi posisi kaki, di mana posisi kaki bayi dikoreksi bertahap menggunakan gips.
Kedua, tenotomi, yaitu operasi kecil untuk memanjangkan tendon Achilles yang hanya dilakukan dokter ortopedi.
Ketiga, fase brace, yang paling lama dan krusial, di mana anak harus memakai sepatu khusus dengan penahan (brace) minimal selama empat tahun.
Fase ini sering menjadi kendala.
“Kendala di Lombok, khususnya di NTB, memang dokter di rumah sakit pun bingung memfasilitasi brace, karena alat ini mahal. Selain itu, harus diganti sesuai pertumbuhan anak, bisa sampai lima sampai enam kali," jelas Mindie.
Brace penting karena tanpa itu kaki berpotensi kembali pengkor meskipun sudah dioperasi. Alat ini biasanya dibuat khusus oleh ortoteks atau prosteteks.
LombokCare mengatasi masalah ini dengan bermitra Medical Fit dan Dokter Share, sehingga mendapatkan pasokan brace langsung dari Amerika.
“Kita dikirimin alat-alat brace ini dari Amerika. Mereka yang supply, kita tinggal distribusi ke anak," kata Mindie.
Sejak berdiri empat tahun lalu, LombokCare telah menangani 78 anak di seluruh NTB, termasuk dari Bima, Dompu, Sumbawa Besar, dan lima kasus di Kota Mataram.
“Ada yang dari Bima, ada yang dari Dompu, Sumbawa Besar itu ada," sebut Mindie.
Daerah dengan kasus terbanyak adalah Lombok Tengah dengan 28 kasus, disusul Lombok Timur dan Lombok Utara.
Awalnya banyak kasus baru terdeteksi saat anak berusia dua tahun ke atas, namun kini sudah mulai ada bayi yang ditangani lebih awal.
Meski jumlah kasus di Mataram lebih sedikit, Mindie menekankan pentingnya peran LombokCare menyediakan brace, khususnya bagi keluarga kurang mampu.
Mengenai penyebab clubfoot, Mindie menyebut belum ada penyebab pasti secara ilmiah.
Namun, faktor risiko yang mungkin berkontribusi meliputi gizi ibu saat hamil, faktor genetik, pernikahan usia dini, atau pernikahan sedarah.
Kabar baiknya, clubfoot adalah disabilitas yang tidak permanen dan bisa diperbaiki.
“Sebetulnya kalau clubfoot itu bisa, kalau saya bilang mencegah menjadi disabilitas yang permanen," tegas Mindie.
Ia menceritakan salah satu anggota tim LombokCare yang juga menderita clubfoot tapi tidak pernah ditangani saat kecil, sehingga kini di usia 42 tahun harus menggunakan tongkat.
Ini menjadi bukti pentingnya penanganan dini.
Yang melegakan, seluruh penanganan LombokCare, termasuk penyediaan brace, diberikan gratis.
“Gratis semua. Kita nggak ada biaya untuk apapun," ujar Mindie.
Untuk operasi, biaya ditanggung penuh BPJS, sehingga LombokCare mendorong orang tua melengkapi administrasi BPJS agar tidak ada penundaan penanganan.
Kolaborasi antara bidan yang melakukan deteksi dini, rumah sakit untuk penanganan medis, dan komunitas seperti LombokCare yang menyediakan aftercare krusial menjadi kunci agar anak-anak dengan clubfoot di NTB bisa tumbuh dan berjalan normal, mencegah disabilitas permanen.
Ketua IBI Mataram, Rohani menjelaskan, program Stimulasi Deteksi Intervensi Tumbuh Kembang Dini (SDI-DTK) dilakukan rutin minimal setahun sekali. Jika ditemukan kasus, bidan langsung merujuk ke RSUD Kota Mataram untuk penanganan spesialis anak.
“Kalau data detailnya saya kurang tau ya,” ucapnya.
Meski data pasti kasus masih dikumpulkan, Rohani optimistis angka di Mataram rendah. Ia menekankan pentingnya peran komunitas seperti LombokCare yang membantu penanganan dan menyediakan brace gratis. Ke depan, IBI akan terus sosialisasi melalui webinar untuk meningkatkan kesadaran dan kerja sama lintas pihak. (SANCHIA VANEKA/r7)
Editor : Jelo Sangaji