LombokPost - Kepadatan luar biasa menyelimuti Tanah Suci Makkah seiring dengan kedatangan hampir seluruh jamaah haji dari berbagai penjuru dunia.
Situasi ini menjadi perhatian serius penyelenggara haji, termasuk Pemkot Mataram, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), dan Kementerian Agama (Kemenag), yang terus memantau perkembangan di lapangan.
Informasi terbaru menyebutkan distribusi jamaah haji menuju Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) tidak lagi berbasis kloter, melainkan berbasis syarikah atau perusahaan penyedia layanan.
“Kita terus memantau dari grup WhatsApp yang ada, bersama IPHI, Kemenag, dan Kakanwil yang langsung menjadi pengawas haji di sana,” kata Asisten I Setda Kota Mataram Lalu Martawang.
Martawang mengungkapkan, telah terjadi pertemuan intensif antarpenyelenggara haji di masing-masing hotel.
“Ketika berada di tenda-tenda Arafah maupun saat bergerak menuju Muzdalifah, lalu kemudian tenda-tenda yang di Mina, itu kemungkinan antar satu kloter dengan kloter lainnya akan terpisah karena berbasis syarikah,” jelas Martawang.
Namun, ia menegaskan bahwa situasi ini telah diantisipasi.
Kebijakan terbaru Kemenag yang dikoordinasikan dengan Pemerintah Arab Saudi memungkinkan terjadinya perpindahan jamaah yang terpisah.
“Misalnya, suami dengan istri, atau orang tua dengan anaknya yang butuh pendampingan, itu sudah secara bertahap diurai atau dipertemukan. Kalau sudah mereka ketemu, itu bisa berpindah hotelnya. Ini akan lebih membantu kemungkinan yang terjadi ketika jamaah haji berpindah dari Makkah ke Armuzna,” terangnya.
Salah satu persoalan krusial yang masih dihadapi adalah terkait nusuk. Martawang mengakui, masih ada jamaah yang belum menerima nusuk.
Ini menjadi persoalan mengingat ketatnya pengawasan di Masjidil Haram dan berpotensi memengaruhi proses memasuki Armuzna.
Ia tidak menyebutkan angka pasti karena jumlahnya terus bergerak.
“Sudah berkurang dari 40 persen yang lalu. Yang penting semua sudah langsung ditangani oleh petugas di situ dan menjadi atensi khusus pengawas haji,” ucapnya.
Menurut Martawang, persoalan nusuk dapat diselesaikan jika jamaah lebih “melek” teknologi dengan menggunakan aplikasi Nusuk secara daring.
Namun, ia menyadari masih ada jamaah yang tidak terbiasa menggunakan aplikasi melalui ponsel pintar.
“Nah itu yang oleh petugas haji diupayakan maksimal untuk bisa dipenuhi ketersediaan nusuk yang tidak berbasis teknologi informasi,” jelasnya.
Ia juga telah berkoordinasi langsung dengan Kepala Kanwil Kemenag NTB yang saat ini berada di Makkah.
Koordinasi itu dilanjutkan dengan pihak Dakkar Makkah dan kunjungan langsung ke jamaah kloter 9.
“Kalau di kloter 3 sudah aman semua nusuknya,” imbuhnya.
Perhatian khusus juga diberikan kepada sejumlah jamaah yang dititipkan di kloter luar Kota Mataram secara parsial.
Tujuannya agar mereka tidak terpisah dan tetap terlayani secara maksimal.
Martawang berharap sebelum jamaah berpindah dari Makkah ke Armuzna, persoalan nusuk sudah terselesaikan.
Hal ini penting agar jamaah merasa tenang dan dapat melaksanakan rangkaian puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan Mina, dengan sempurna.
“Selesai itu, bisa melaksanakan keseluruhan rangkaian rukun wajib dan sunnah dengan sempurna,” tandasnya. (chi/r7)
Editor : Siti Aeny Maryam