LombokPost – Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah di Kota Mataram menjadi ajang muhasabah diri.
Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, mengajak ASN lingkup Pemkot Mataram dan seluruh warga untuk tidak hanya bersyukur atas bertambahnya usia.
Tetapi menyadari waktu hidup justru semakin berkurang.
“Bertambah usia berarti jatah hidup kita otomatis berkurang,” kata TGH Mujib, Kamis malam (26/6).
Ia menegaskan, pergantian tahun harus dimaknai sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan sekadar perayaan seremonial.
“Tahun baru Islam harus jadi momen untuk mengevaluasi hidup dan memperbanyak amal,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Wakil Wali Kota juga mengutip penafsiran ayat tentang waktu kitab tafsir Shawathi’ut Tafasir karya Imam Ali Ash-Shabuni.
Ayat tersebut menjelaskan, manusia sejatinya berada dalam kerugian apabila menyia-nyiakan waktu.
“Imam Ash-Shabuni menyinggung fenomena orang-orang yang gembira menyambut ulang tahun, padahal sejatinya mereka kehilangan satu hari lagi dari jatah hidupnya,” ucapnya.
Menurut TGH Mujib, banyak orang saat ini justru larut dalam euforia ketika umur bertambah. Padahal, semestinya pergantian waktu menjadi pengingat, kematian semakin dekat dan waktu untuk berbuat baik semakin sedikit.
“Bukan berarti kita tak boleh bahagia, tapi kita harus tahu batas. Jangan sampai lupa diri,” tambahnya.
Selain soal waktu dan kematian, TGH Mujib, juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentengi generasi muda dari pengaruh negatif zaman.
Ia menilai banyak tantangan yang harus dihadapi keluarga, mulai dari pergaulan bebas hingga penyalahgunaan teknologi.
“Orang tua jangan lepas tangan. Keluarga adalah benteng utama. Jika keluarga longgar, anak-anak bisa kehilangan arah,” tegasnya.
TGH Mujib, berharap momentum tahun baru Hijriah ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat nilai-nilai keislaman dan membangun kembali kedekatan antar anggota keluarga.
Peringatan 1 Muharram ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama, pejabat pemerintahan, dan masyarakat dari berbagai wilayah di Kota Mataram.
Kegiatan berjalan khidmat dan ditutup dengan doa bersama.
Dalam kesempatan itu, masyarakat diingatkan untuk tidak sekadar menjadikan tahun baru sebagai formalitas acara, melainkan menghidupkan kembali makna spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau bukan dari sekarang kita menyiapkan bekal akhirat, kapan lagi?” tutupnya. (zad/r9)
Editor : Kimda Farida