Ahmad Turmuji, seorang pengusaha muda yang dengan gigih merintis Terasi Teluk Jor dari warisan keluarga hingga menjadi bisnisnya sendiri.
Ini bukan sekadar tentang bumbu dapur, melainkan semangat pantang menyerah dan kemampuan melihat peluang di balik kebutuhan dasar.
AHMAD Turmuji, atau yang akrab disapa Muji, bukanlah orang baru dalam dunia terasi.
Ia tumbuh besar di tengah hiruk pikuk produksi terasi milik orang tuanya di wilayah pesisir Teluk Jor, Lombok Timur.
Sejak remaja, ia sudah akrab dengan aroma khas udang rebon dan proses pembuatan terasi tradisional.
Baginya, terasi bukan hanya produk, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas dan warisan keluarganya.
Sebelum menikah pada tahun 2023, Muji membantu orang tuanya memasarkan terasi di marketplace, dengan sistem bagi hasil 50-50.
Pengalaman ini memberinya bekal berharga, meski saat itu ia masih belum sepenuhnya mengelola bisnis sendiri.
“Dulu ya bantu-bantu orang tualah. Sekedar bantu ke pasar dan jual,” ucapnya.
Setelah menikah, Muji memutuskan mengambil langkah berani. Ia dan istrinya memulai usaha terasi sendiri, sepenuhnya mengelola produksi dan pemasaran, serta menikmati 100 persen dari keuntungan.
Pilihannya jatuh pada terasi karena satu alasan kuat. “Terasi adalah kebutuhan pokok di Nusantara ini. Semua orang menggunakan terasi. Sebanyak apapun pasti akan dibutuhkan," ujarnya yakin.
Visi ini menjadi pondasi bagi mimpinya untuk mengembangkan bisnis tanpa campur tangan orang tua, mulai dari membeli bahan baku udang rebon sendiri hingga mengelola seluruh rantai produksi. Perjalanan Muji merintis Terasi Teluk Jor tidak selalu mulus.
Awalnya, ia mencoba peruntungan berjualan di pasar tradisional. Namun, ia cepat menyadari keuntungan yang didapat tidak seberapa, hanya berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per hari.
“Kecil dan tidak efektif," kenangnya.
Muji kemudian beralih strategi, mencoba marketplace. Hari-hari pertama diisi dengan nihilnya respons.
Produk terasinya yang diunggah setiap hari seperti tenggelam di lautan digital. Namun, kegigihan Muji membuahkan hasil.
Perlahan, satu per satu pembeli mulai tertarik, menawar, hingga akhirnya menjadi pelanggan setia. “Ada beberapa yang mulai tawar dan sekarang jadi pelanggan,” ujarnya.
Kini, meski jumlah pelanggannya di marketplace belum terlalu banyak, sekitar 4 hingga 5 orang, omzet yang dihasilkan sangat menjanjikan. Muji mampu menjual terasi hingga Rp 8 juta per minggunya.
Yang menarik, sebagian besar pelanggannya berasal dari luar Lombok, seperti Bali dan Sumbawa, selain pelanggan lokal di Mataram. Ini menunjukkan kualitas Terasi Teluk Jor telah diakui hingga ke pelosok.
Produksi terasi Muji terbilang sederhana namun efisien. Udang rebon segar diolah dengan teliti, melalui proses penjemuran yang membutuhkan waktu dua hari. Muji memproduksi terasi sekali seminggu, menyesuaikan dengan pesanan yang masuk, sekitar dua hingga tiga kuintal per produksi.
Sistem ini memastikan tidak ada sisa produk di gudang, bahkan terkadang terjadi kekurangan. “Kami produksi sesuai order," jelas Muji, mencerminkan komitmennya terhadap kualitas dan kesegaran produk.
Untuk mendukung proses produksi, Muji kini telah mempekerjakan lima karyawan, memberikan lapangan kerja dan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Namun, seperti bisnis lainnya, Terasi Teluk Jor juga menghadapi tantangan.
Cuaca adalah kendala utama dalam produksi terasi. “Kalau mendung tidak bisa kering satu hari dua hari," keluhnya.
Penggunaan oven pun belum bisa menjadi solusi sempurna karena kapasitasnya terbatas dan hasil terasi tidak sebaik yang dijemur di bawah sinar matahari. Terasi yang dioven terkadang kering di luar namun masih lembek di dalam, mempengaruhi kualitas akhir produk.
Untuk mengatasi hal ini, Muji menyiasati dengan melakukan stok produksi besar-besaran saat musim kemarau, mengantisipasi datangnya musim hujan yang bisa menghambat proses penjemuran. Ia bahkan bisa menyetok udang rebon hingga 9 sampai 10 ton untuk memastikan kelangsungan produksi.
“Ya satu-satunya Solusi itu, kalau kita kan bisa prediksi lah cuaca di Indonesia ini kalau tidak hujan ya panas. Jadi waktu panas kita stok banyak,” urainya.
Muji juga menyoroti perbedaan antara terasi mentah yang dijual di pasar dan terasi kemasan yang mereka produksi. Terasi mentah hanya bertahan sekitar dua minggu sebelum berubah warna, menjadi becek, dan mengeluarkan bau tak sedap.
Sebaliknya, terasi kemasan Teluk Jor memiliki kadar air yang lebih rendah, sehingga daya tahannya lebih awet dan kualitasnya terjaga lebih lama. Melihat ke depan, Muji memiliki ambisi besar.
Ia ingin membuka satu outlet fisik di Mataram untuk lebih memperkenalkan Terasi Teluk Jor sebagai bagian dari kekayaan kuliner khas Lombok. Saat ini, ia masih dalam proses mengumpulkan modal dan mengembangkan kemasan yang lebih menarik untuk produknya. (SANCHIA VANEKA, Mataram/r9)
Editor : Siti Aeny Maryam