LombokPost - Di tengah kontroversi soal keamanan pendakian Rinjani, seorang siswi kelas 5 dari Mataram justru mencatat sejarah pribadi: berdiri di puncaknya yang menjulang 3.726 meter di atas permukaan laut.
Namanya Shafirra Aqilla Rachman. Ia baru 9 tahun. Tapi prestasinya jauh dari biasa.
Siswi SD Integral Luqmanul Hakim Mataram itu bukan hanya berhasil mendaki Rinjani—gunung tertinggi ketiga di Indonesia—tapi juga melakukannya meski mengidap asma ringan.
"Saya bawa alat sesak, tapi nggak pernah kumat,” ujarnya tenang, Kamis (3/7).
Pendakian dimulai pukul 01.00 WITA dini hari. Udara dingin, jalur pasir “letter E” yang licin, dan medan curam tak membuatnya mundur.
Setiap 20 langkah, ia berhenti sebentar. Tapi tak sekalipun ia mengeluh.
Di belakangnya, seorang porter bernama Herkules siaga mendampingi. “Om Herkules pegang tangan biar nggak kepleset,” kenang Shafirra.
Tiba di puncak sekitar pukul 06.40 pagi, ia berdiri di antara awan dan langit—dan berdoa.
"Senang banget, nggak nyangka bisa sampai. Rasanya kayak nggak percaya,” ucapnya sambil tersenyum malu-malu.
Di tengah perdebatan soal keselamatan pendakian pasca insiden wisatawan asal Brasil Juliana Marins, pendakian Shafirra dilakukan penuh prosedur: izin resmi, pendamping profesional, perlengkapan lengkap.
Ia bahkan membawa tasnya sendiri sampai Pos Pelawangan, dan baru dibantu saat menuju puncak.
"Bapak awalnya nggak kasih naik, tapi saya pengen,” katanya lugas.
Yang paling ia ingat bukan hanya sunrise, tapi juga keramahan sesama pendaki.
“Di letter E mereka teriak, ‘Semangat Dek!’ Seru, ramah semua,” ceritanya.
Sayangnya, ia tak sempat turun ke Danau Segara Anak karena jalurnya terlalu curam untuk anak-anak.
“Pengen ajak teman-teman juga ke sana,” tambahnya sambil tersenyum.
Kisahnya tak berhenti di gunung. Shafirra adalah atlet pencak silat berprestasi.
Pada Kejuaraan Nasional Lombok Championship II 2024, ia meraih Juara II Tanding Kelas H (40–42 kg) Putri Usia Dini.
Ia juga pernah menyabet Juara I lomba mewarnai gambar edukatif bertema Islam.
"Anak ini bukan hanya aktif, tapi juga tekun belajar, berani, dan tidak gampang menyerah,” ujar ayahnya, Abd Rachman, Ketua DPD Partai Gerindra Kota Mataram.
Sebagai orang tua, Abd Rachman mengaku sempat khawatir, mengingat medan yang berat dan usia putrinya yang masih sangat muda.
"Tapi alhamdulillah, semua terbayar. Rasa syukur dan bangga tak bisa diungkapkan,” ucapnya haru.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin