Langkah pertama dimulai dari sebuah lorong sunyi.
Tak ada suara gaduh.
Hanya tanda larangan masuk dan kode steril yang tergantung di dinding.
“SEBELUM masuk, kita harus steril total,” ujar Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.O.G., Subsp.F.E.R., M.Kes., M.Sc, pada Lombok Post, Selasa (8/7).
Eka selain orang nomor satu di jajaran rumah sakit kebanggaan Kota Mataram itu, juga dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan konsentrasi di bidang fertilitas.
Keberadaan fasilitas bayi tabung ini relevan dengan spesialisasinya.
Sementara itu, sebelum masuk ruangan, kami diberi perlengkapan lengkap.
APD steril satu set: baju operasi, masker medis, penutup kepala, hingga sandal khusus.
“Ruang bayi tabung ini bukan ruang sembarangan,” kata dr. Eka. “
Ia menekankan, setiap elemen, termasuk manusia yang masuk ke dalamnya harus bersih. Sebelum bisa melihat ruang tindakan, satu prosedur penting harus dilalui: sterilisasi manual dan otomatis.
Begitu masuk, kami disambut oleh wastafel, namun tanpa keran.
“Untuk menyalakan air, cukup gerakkan tangan ke bawah, nanti sensor aktif,” jelas dr. Eka sambil mempraktikkannya.
Sabun dan air, semua serba sensor. “Kenapa serba sensor? Karena di ruangan ini, satu sentuhan bisa membawa ribuan bakteri. Jadi kita hilangkan semua potensi sentuhan,” tegasnya.
Pintu menuju ruang tindakan pun tidak bisa dibuka sembarangan. Ada dua pilihan, sensor tangan atau sensor kaki.
“Kadang kalau tangan kita belum kering setelah sterilisasi, kita buka pakai kaki,” tambahnya.
Di ruangan itu, ada perangkat menonjol di dinding: panel gas digital dan manual. Ada dua jenis gas yang disuplai: Oksigen (O₂) dan Karbon Dioksida (CO₂).
Fungsinya? Untuk mendukung kehidupan calon embrio. “Embrio itu hidup di lingkungan yang sangat spesifik. Dia butuh oksigen dan CO2 dalam kadar tertentu, dalam tekanan tertentu,” terang dr. Eka.
Gas disuplai dari pusat ke seluruh ruangan, tapi ruang embrio harus punya pengaman sendiri. Karena itulah panel ini hadir.
Jika tekanan terlalu rendah atau terlalu tinggi, alarm akan langsung menyala.
“Panel digital bisa error, jadi kita siapkan juga versi manualnya. Semua harus double check. Keselamatan pasien dan embrio adalah prinsip utama kami,” tegasnya.
Setelah membuka pintu ruang tindakan dengan sensor, ruang tindakan itu terasa dingin dan hening.
Permukaan logam berkilau, lantai bersih mengilat. Bed operasi berdiri gagah di tengah, dikelilingi oleh alat-alat canggih, termasuk lampu operasi HEISZ yang bisa diatur intensitas cahayanya.
Setiap alat memiliki posisi. Setiap langkah memiliki prosedur. Tidak ada ruang untuk kelalaian.
“Kami bekerja di bawah protokol ketat. Karena di sinilah, awal dari kehidupan itu dipersiapkan,” kata dr. Eka sambil menatap ke arah ruang inkubator.
Kunjungan ini bukan sekadar melihat ruangan. Ini adalah perjalanan menyaksikan bagaimana sains dan harapan bertemu.
Bahwa teknologi tidak hanya soal mesin dan sensor, tapi tentang menjaga harapan sepasang manusia yang bertahun-tahun menunggu garis dua.
“Setiap pasien yang masuk ke sini membawa harapan. Tugas kami menjaga harapan itu tetap hidup,” tutup dr. Eka dengan suara pelan, namun penuh keyakinan. (zad/van/r9)
Editor : Kimda Farida