Jumat sore, suara musik terdengar bertenaga. Halaman SDN 12 Cakranegara justru semakin ramai dari biasanya.
BUKAN acara biasa. Bukan pula pertunjukan kelulusan.
Tapi ruang pemulihan, trauma healing, untuk ratusan anak-anak yang baru saja dihantam banjir hebat pada Minggu 6 Juli 2025. Anak-anak mulai berdatangan satu per satu. Tak lama, halaman itu berubah menjadi penuh senyum.
“Ayo semua, gerakan badan,” MC membakar semangat anak-anak untuk melepaskan segala kepenatan, Jumat (11/7).
Dua lagu pembuka mengiringi gerak senam anak-anak. Mereka melompat, tertawa, mengikuti gerakan instruktur.
Wajah-wajah yang semula muram, perlahan cerah. “Ini kegiatan trauma healing, agar anak-anak kita bisa kembali berani dan bahagia,” kata Ketua TP PKK Kota Mataram Kinnastri Mohan Roliskana.
Mbak Kikin, sapaan akrabnya, mengatakan Senin pekan depan anak-anak ini akan mulai bersekolah. “Kami ingin mereka menyambut hari itu dengan semangat, meski seragamnya hanyut, sepatunya basah, dan tasnya rusak,” ucapnya.
Sekitar 300 anak hadir. Mereka berasal dari SDN 12, SDN 26, SDN 42 Cakranegara, SMPN 5, hingga SMPN 19. Semua adalah penyintas banjir. Semuanya, anak-anak Kota Mataram yang punya cerita kehilangan.
Kegiatan ini diinisiasi Tim Penggerak PKK, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), serta Rumah Hijau Consulting.
Baca Juga: NWDI Mataram Salurkan Ribuan Bantuan untuk Korban Banjir Selama Lima Hari tanpa Henti
Terapi diberikan dengan pendekatan bermain, menggambar, hingga gerakan bebas untuk melepaskan beban psikologis.
Tampak hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, Asisten 2 Miftahurrahman, Kepala Dinas Pendidikan Yusuf, Kepala Dinas Pariwisata Cahaya Samudera, Ketua GOW Kota Mataram, dan sejumlah pejabat lainnya.
“Kalian tidak sendirian, ada banyak orang yang peduli dan memberikan perhatian besarnya pada anak-anakku semuanya,” seru Kikin di hadapan anak-anak korban banjir tersebut.
Ia pun berharap kegiatan ini dapat memulihkan rasa trauma anak-anak setelah banjir besar melanda. “Gerak itu obat. Jangan mager! Mari lepaskan rasa takut bersama-sama,” serunya.
Yang tak kalah menyentuh, anak-anak secara spontan memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada TGH Mujib yang kebetulan berulang tahun pada 11 Juli. Musik ulang tahun menggema, dan serentak mereka melambaikan tangan kecilnya sambil meneriakkan.
“Selamat ulang tahun!” Seru mereka.
TGH Mujib hanya tersenyum. Tangannya melambai membalas sapaan anak-anak.
Tak banyak bicara, hanya ucapan terima kasih yang terus diulang. Ia kemudian menekankan pentingnya pemulihan mental bagi anak-anak korban banjir.
Kegiatan tersebut bukan hanya penghiburan semata, tapi bagian dari persiapan nyata menyambut tahun ajaran baru. “Kami ingin anak-anak kembali ke sekolah dengan kepala tegak, bukan dengan trauma. Kami siapkan alat tulis, buku, dan bingkisan kecil dari para donatur untuk menyampaikan satu pesan: kalian tidak sendiri,” katanya
Ia menegaskan, Warga Mataram saling mendukung dan bahu-membahu. Bahkan ia sendiri, bersama sang istri, turut menjadi korban banjir.
“Tapi yang penting, kita semua sehat, selamat, dan terus semangat,” ujar Tuan Guru.
Trauma healing hari itu adalah rangkaian pertama dari tiga titik yang akan dilaksanakan. Dua titik lain direncanakan di Kebon Duren dan Kekalik dan wilayah paling terdampak lainnya, Sabtu besok. Semua diarahkan khusus untuk anak-anak, agar luka dalam jiwa mereka bisa terobati bersama.
Di sela kegiatan, tim juga menyisipkan edukasi ringan tentang penyebab banjir. Anak-anak diajak memahami bahwa sampah dan curah hujan tinggi jadi penyebab utama. Mereka diajari pentingnya menjaga lingkungan mulai dari rumah. (zad/r9)
Editor : Prihadi Zoldic