LombokPost - Di bawah rindang pepohonan dan gemerlap lampu jalan, belasan gerobak tahu tek-tek menjelma menjadi magnet kuliner khas kota.
Dari sore hingga larut malam, kawasan ini hidup, berdenyut seperti pasar malam dadakan. Dari Jalur Cepat jadi Jalur Kenyang.
---
TAK JAUH dari Gerbang Tembolak, deretan gerobak tahu tek-tek kini menjadi ikon baru di selatan Mataram. Kawasan yang dulunya sepi dan sempat rawan kejahatan ini, menjelma jadi sentra kuliner yang ramai saban sore hilang larut malam.
Entah siapa yang pertama kali memulai, tahu-tahu di sana menjadi pangkalan utama tahu tek-tek. Warna-warni gerobak menambah semarak kawasan.
“Sore sudah mulai jualan,” kata Siti Aisyah salah satu pedagang yang dijumpai, Kamis (17/6).
Pedagang-pedagang tahu tek-tek memarkir gerobaknya umumnya, sejak pukul 4 sore, dan baru akan bubar saat jarum jam menyentuh tengah malam. “Pembeli memang makin ramai setelah Isya,” imbuhnya.
Lokasi mangkal tahu tek-tek ini rupanya tak hanya menarik wisatawan lokal. Wisatawan nasional, hingga mancanegara pernah singgah ke sana hanya untuk menikmati kelezatan tahu yang diguyur sambal kacang.
“Banyak yang bawa tamu ke sini, ada yang dari Jakarta, Medan, Surabaya, ada juga turis (bule, Red),” tuturnya.
Umumnya, para tamu itu datang ke Kota Mataram untuk kunjungan kerja atau kepentingan bisnis, lalu menginap di hotel-hotel berbintang di ibu kota. Saat malam hari, para tamu itu menyebar untuk mencari makanan khas.
Namun sesungguhnya kuliner ini makanan khas dari Jawa Timur, terutama Surabaya dan sekitarnya yang sudah merantau ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Mataram. Nama “tek-tek” berasal dari bunyi ketukan spatula ke wajan yang dibuat oleh abang penjualnya saat memasak: tek-tek-tek!
Selain bunyi saat memasak, bunyi ini juga untuk manggil pelanggan. Jadi bukan karena bahannya.
Aisyah mengatakan menu ini terdiri dari tahu goreng yang biasanya dipotong kotak-kotak. Selanjutnya, lontong atau kadang diganti nasi.
“Pakai tauge atau ada yang ganti pakai kol,” terangnya.
Selanjutnya, telur dadar atau ceplok; kerupuk (biasanya kerupuk udang); bumbu kacang kental dengan sentuhan petis (saus khas berbahan dasar fermentasi udang).
“Sambal rawit buat yang suka pedas,” imbuhnya.
Karena asalnya yang dari Jawa, barangkali ini juga yang membuat kuliner ini dengan cepat diterima para tamu yang berasal dari luar daerah. Penyajiannya yang hangat-hangat langsung dari wajan dan punya aroma petis yang tajam, khas Jawa Timuran membuatnya nikmat disantap pagi atau malam hari.
Rasa gabungan antara gurih, manis, asin, dan pedas. Uniknya, di Mataram tahu tek-tek ini berkembang dengan ciri khas lokal terutama dari sisi rasa.
Meski papan menunya nyaris sama, “Tahu Tek-Tek Telur Ceplok”, “Tahu Tek Double Telur”, dan “Tahu Tek Original”, namun setiap gerobak punya rasa khas sendiri. Mulai dari racikan bumbu kacang, kerenyahan tahu, hingga tingkat kepedasan sambal, tiap penjual menyajikan identitas rasa tersendiri.
“Saya langganan yang di ujung dekat tenda merah itu, bumbunya gurih banget,” ujar Fadli, seorang pengunjung asal Pagesangan.
Suasana malam di sini begitu hidup. Deru motor yang lalu lalang bersahut dengan denting spatula memukul wajan.
Beberapa pemuda terlihat duduk di atas tikar kecil, menikmati tahu tek-tek di pinggir trotoar yang cukup lebar. Di sisi lain, hamparan sawah menyuguhkan pemandangan alami yang menenangkan.
“Sering ke sini serlah magrib, suasananya, adem dan banyak pilihan makanannya,” ungkap Yuli.
Dengan harga mulai dari Rp 10.000 per porsi, tahu tek-tek di kawasan ini menawarkan kepuasan setimpal. Porsinya besar, topping-nya lengkap, dan tentu saja, mengenyangkan.
Beberapa pedagang mengaku bisa meraup omzet ratusan ribu rupiah dalam satu malam. “Kalau malam Minggu bisa lebih dari Rp 500 ribu tergantung kalau ramai,” ujar Usman, pedagang lainnya.
Namun di balik keramaian ini, para pedagang menyimpan satu kekhawatiran besar: rencana relokasi.
“Kami sadar tempat ini numpang di bahu jalan, tapi kami harap pemerintah tidak memindahkan terlalu jauh, tempat ini sudah jadi ikon tahu tek-tek,” tuturnya.
Para pedagang berharap jika pun harus dipindah, maka lokasi pengganti tetap berada di sekitar kawasan Bypass. Semata-mata menjaga branding kawasan sebagai surga tahu tek-tek tetap terjaga. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r9)
Editor : Jelo Sangaji