LombokPost–Indikasi kebocoran retribusi parkir di sejumlah destinasi wisata di Kota Mataram, khususnya di kawasan Taman Ampenan Kota Tua, kembali terjadi.
Meskipun potensi pendapatan harian cukup menjanjikan, realisasi setoran jauh di bawah angka sesungguhnya.
Menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas pengelolaan dan pengawasan.
“Sudah kita sampaikan,” kata Kepala UPTD Parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram Lalu Muhammad Sopandi, Kamis (17/7).
Sopandi menjelaskan, adanya perbedaan antara potensi dan realisasi setoran harian.
Sebelum uji petik dan revitalisasi kawasan, potensi setoran harian dari area parkirnya mencapai Rp 100 ribu.
Angka ini melonjak menjadi Rp 120 ribu per hari pasca-uji petik dan revitalisasi.
Namun, ia menyiratkan potensi sebenarnya jauh lebih besar dari angka tersebut.
“Padahal, potensinya bisa lebih besar dari ini,” ujarnya.
Di Ampenan Kota Tua sendiri, terdapat 49 jukir yang terbagi dalam 7 kelompok.
Dengan target setoran Rp 120 ribu per hari per jukir, potensi pendapatan bulanan dari satu jukir saja bisa mencapai Rp 3 jutaan.
Angka ini tentu signifikan jika dikalikan dengan total jukir yang beroperasi.
Sopandi juga menduga kemungkinan adanya oknum yang menyalahgunakan kepercayaan dalam pengelolaan parkir.
“Pihaknya tidak mungkin mendaftarkan jukir kalau memang tidak ada rekomendasi dari dinas terkait. Yang jelas Pak Kadis pasti menunjuk orang yang bisa dipercaya. Tapi ini biasanya ada oknum. Biasanya oknum, menyalahgunakan kepercayaan,” jelasnya.
Kepala TU UPTD Parkir Dishub Kota Mataram Nanok Subiyanto merincikan, potensi pendapatan parkir per tahun dari jukir ini di Kota Tua Ampenan cukup besar yakni Rp 23,52 juta.
Namun hingga saat ini ada sekitar Rp 9 juta yang tidak disetorkan kepada pihak Dishub.
“Mungkn bukan kebocoran ya, tapi target yang harusnya dicapai sampai bulan Juli kurang Rp 9 juta,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram Cahya Samudera, mengungkapkan destinasi wisata di Kota Mataram, khususnya kawasan Kota Tua Ampenan, masih ramai dikunjungi wisatawan.
Ia menyebutkan kawasan tersebut merupakan satu kesatuan yang terdiri dari Ampenan Bois, Jalan Niaga, dan Eks Pelabuhan Ampenan.
“Itu satu kesatuan,” jelasnya.
Ia memprediksi, pengunjung di Eks Pelabuhan Ampenan pada akhir pekan bisa mencapai dua ribuan orang yang terlihat dari estimasi seribuan kendaraan yang terparkir.
Mengenai indikasi kebocoran parkir yang mencuat di Kota Tua Ampenan, Cahya tidak merespons secara detail.
Ia menyerahkan sepenuhnya masalah tersebut kepada Dinas Perhubungan.
“Sudah ada omongan dengan Dishub, tapi yang menjawabnya nanti dari Dinas Perhubungan saja,” katanya singkat.
Terkait dengan pembagian retribusi parkir di Kota Tua Ampenan, ia membenarkan adanya kesepakatan pembagian 50:50 antara pihak pengelola kawasan dan Dishub.
“Pembagian 50:50 itu memang sudah menjadi kesepakatan,” tandasnya. (chi/r9)
Editor : Kimda Farida