Di sebuah sudut kota yang semakin sesak oleh lalu-lalang kendaraan dan gedung-gedung tinggi, aroma kopi tercium. Sebuah kedai mungil tiba-tiba memeluk hidung dengan lembut.
KEDAI itu bernama Madjoe Kopi, berdiri tanpa papan nama besar, tapi justru karena kesederhanaannya, ia memikat. Di balik bar kopi yang rapi dan hangat itu, berdiri seorang pria bernama Anta Muzakir.
Bukan jebolan sekolah barista, bukan pula lulusan akademi kopi ternama. Anta adalah pria biasa dari Lombok Barat yang menjadikan Madjoe Kopi sebagai wujud cinta dan perlawanan.
Cinta pada kopi lokal. Perlawanan terhadap anggapan bahwa kualitas harus datang dari label besar.
“Saya mulai dari satu alat manual brew dan satu bangku kayu,” kenangnya dengan senyum tipis, saat ditemui di kedai mungilnya di kawasan Cakranegara.
Suaranya tenang, seperti seduhan V60 yang ia racik: pelan tapi terasa.
Anta membangun kedai ini dari nol. Tanpa mentor.
Tanpa modal besar. Hanya berbekal rasa penasaran, ketekunan belajar secara otodidak, dan satu hal yang tak bisa dibeli: semangat.
Ia menghabiskan malam-malam dengan membaca referensi, mencoba metode seduh, dan mencicipi hasil racikannya sendiri.
Sebelum akhirnya berani menyajikan cangkir pertama untuk orang lain.
Kini, Madjoe Kopi bukan hanya tempat ngopi. Ia tumbuh menjadi ruang temu.
Tempat di mana mahasiswa, pekerja kantoran, bahkan seniman lokal bisa duduk berdekatan, bercerita. Atau sekadar diam ditemani kopi yang jujur dari tangan tuannya.
“Bagi saya, kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah jembatan,” ujar Anta.
Jembatan antara dirinya dan orang-orang baru, antara satu ide ke ide lain. Dan mungkin, antara Lombok dengan dunia yang lebih luas.
Setiap hari, Anta tetap turun langsung. Ia menyapa pelanggan, menyeduh dengan tangannya sendiri, dan mendengar cerita-cerita yang tertinggal di cangkir.
Di era ketika kedai waralaba menjamur dengan mesin otomatis dan dekorasi megah, Madjoe Kopi tampil dengan kejujuran rasa dan kehangatan suasana. “Yang penting bukan besar atau kecilnya kedai,” katanya sambil merapikan cangkir-cangkir.
“Yang penting, ada cerita yang bisa dibagikan,” tekannya penuh makna.
Kini, dua tahun sejak kedai itu berdiri, pelanggan mulai berdatangan tak hanya karena ingin ngopi, tapi karena merasa pulang. Mereka mengenal Anta.
Mereka tahu bahwa setiap tegukan kopi punya cerita. Dan di Madjoe Kopi, cerita itu diracik tanpa tergesa.
Anta tak menargetkan pertumbuhan kilat. Ia bermimpi perlahan.
Suatu hari, kopi dari Lombok bisa punya nama di luar pulau. Dan Madjoe Kopi? Ia ingin menjadikannya jembatan yang membawa rasa lokal menyeberang lebih jauh. (IVAN MARDIANSYAH, Mataram/r9)
Editor : Siti Aeny Maryam