LombokPost - Ruang ini tidak sepopuler ruang inkubasi atau cryopreservation dalam dunia IVF.
Namun bagi setiap pasangan yang menjalani proses, di sinilah titik awal langkah-langkah teknis dimulai.
DI BALIK satu pintu putih yang tampak biasa dari lorong fasilitas IVF RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram. Sebuah ruangan terhampar sebagai titik awal awal perjalanan istimewa.
Ini adalah Ruang Pemeriksaan. Meski tidak seluas laboratorium embriologi atau senyap seperti ruang fertilisasi, ruangan ini menyimpan atmosfer yang tidak kalah penting.
“Di tempat ini menjadi ruang konsultasi medis, pemeriksaan fisik, hingga edukasi mendalam tentang kesiapan menjalani prosedur inseminasi buatan atau bayi tabung,” kata Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. NK Eka Nurhayati, SpOG., SubspFER., M.Kes., M.Sc., Minggu (3/8).
Begitu memasuki ruangan, nuansa netral dan bersih langsung terasa. Dinding-dinding, berwarna abu muda lembut, dipadukan dengan lantai keramik mengilap dan pencahayaan putih terang membuat suasana ruangan terkesan jernih.
Di sisi kiri ruangan, sebuah tempat tidur pasien berwarna kuning terang menjadi titik fokus visual. Warnanya yang mencolok tidak hanya fungsional, tapi juga memberikan efek psikologis: mengurangi ketegangan dan kecemasan pasien.
“Tempat tidur ini dirancang khusus untuk pemeriksaan reproduksi,” terangnya.
Tempat tidur ini lengkap dengan sandaran kaki berbentuk U dan pijakan ergonomis yang bisa disesuaikan. Di atasnya terlipat rapi selimut berwarna oranye bata, disiapkan memberi kenyamanan tambahan saat pasien menjalani prosedur.
“Lalu ada trolley cart berisi aneka perlengkapan steril,” jelasnya.
Tersedia antara lain, cotton roll, sarung tangan cadangan, tabung reaksi kecil, kapas alkohol, spuit injeksi. “Ada juga antiseptik,” jelasnya.
Peralatan itu tertata rapi di dua laci transparan. “Yang penting mudah dijangkau tanpa harus berpindah tempat, untuk memudahkan penanganan,” imbuhnya sembari tersenyum.
Tak jauh dari sana, terdapat pula sebuah bangku kecil dan pedal kaki. “Alat bantu yang biasa digunakan untuk pemeriksaan atau saat pasien memerlukan reposisi cepat,” jelasnya.
Lebih ke dalam ruangan, tepat setelah tirai abu-abu tebal yang dapat ditarik untuk menjaga privasi pasien, terdapat satu set meja kerja berwarna abu gelap dengan tiga kursi: satu di belakang meja untuk dokter, dua di hadapan meja untuk pasien dan pasangan.
“Pembahasan di sini seputar obrolan paling mendasar,” jelasnya.
Antara lain hasil pemeriksaan hormon, kondisi rahim, saluran telur, kualitas sperma, hingga psikologis pasangan. “Semua dimulai dari sini,” ucapnya.
Jadi bukan di laboratorium, bukan di ruang transfer embrio. Semuanya berlangsung di meja konsultasi yang tenang, empatik, dan penuh harap.
Ruangan ini kembali ditegaskan fungsinya yang sangat vital. “Bagi kami, ruangan ini bukan sekadar tempat pemeriksaan, namun ruang untuk membangun kepercayaan,” tekannya.
Banyak pasangan datang dengan harapan, tapi juga dengan beban. Di ruangan ini menjelaskan apa yang realistis dan apa yang masih bisa diupayakan.
“Tidak semua harus langsung ke IVF, ada yang cukup dengan terapi hormon atau inseminasi,” jelasnya.
Ia juga menyebut, ruang ini didesain untuk membuat pasien merasa diperlakukan manusiawi, bukan sebagai objek tindakan medis. “Tempat tidur berwarna terang itu dipilih bukan tanpa alasan, tentu kami ingin suasana lebih hangat dan tidak menyeramkan,” ucapnya.
Sesungguhnya, datang ke ruangan seperti ini bukan hal mudah. “Apalagi bagi perempuan yang baru pertama kali menjalani pemeriksaan dalam,” ujarnya.
Meskipun tidak dipenuhi alat-alat berteknologi tinggi seperti mikroskop ICSI atau inkubator CO₂, ruangan ini tetap memainkan peran kunci. Di sinilah keputusan awal diambil.
“Apakah pasien perlu dilakukan USG transvaginal, apakah ada indikasi PCOS, endometriosis, atau masalah lain yang menghambat kehamilan,” jelasnya.
Selain alat-alat dasar seperti speculum dan lampu periksa fleksibel yang bisa disesuaikan, tersedia juga formulir pemeriksaan awal yang ditandatangani langsung oleh dokter. “Setelah diskusi dan analisis rekam medis,” paparnya.
Setelah pemeriksaan selesai, pasien yang layak menjalani IVF akan diarahkan melanjutkan ke ruang-ruang tindakan seperti OPU (Ovum Pick-Up), kemudian ke laboratorium fertilisasi, inkubasi embrio, hingga transfer embrio. Namun semua tahapan itu tak akan pernah dimulai tanpa tahap awal dari ruang ini.
“Sebelum meninggalkan ruangan, biasanya akan diberikan briefing tentang persiapan lanjutan,” ucapnya. (zad/r9)
Editor : Prihadi Zoldic