Ada aroma pedas dan gurih yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Namun, mudah dikenang oleh lidah siapa pun yang pernah mencicipinya.
-----
NASI balap puyung “Inaq Esun”, bukan sekadar makanan, melainkan warisan, sebuah cerita panjang yang mengalir dari Puyung ke Pasar Kebon Roek. Dari bungkus nasi sederhana ke lidah para pejabat dan tokoh nasional.
Kini, gerai resminya di Jalan Airlangga, Kota Mataram, menjadi oase rasa yang menyalurkan kisah panjang seorang perempuan tangguh bernama Inaq Esun. Kisah ini bermula sekitar tahun 1970-an, Inaq Esun memulai segalanya dengan sederhana.
“Ia membawa nasi bungkus dari kampung halamannya di Puyung, Lombok Tengah, ke Pasar Kebon Roek, Mataram,” tutur Rismata Gita, Kamis (7/8).
Di sana, Inaq Esun menjualnya kepada para pedagang dan pelanggan tetap. Menariknya, bukan hanya dengan uang, tapi juga lewat sistem barter: sebuah sistem yang kini terasa asing, namun dulu adalah jembatan hidup.
“Nasi bungkus bisa jadi baju, bisa jadi kebutuhan dapur,” tutur pria yang akrab siapa Sigit ini.
Inaq Esun tak sekadar berdagang. Ia membangun hubungan.
Dan dari hubungan itulah, lahir sebuah kepercayaan. Nasi bungkus racikannya selalu ditunggu setiap pagi.
Sigit mengisahkan, awalnya sang nenek hanya iseng menjual makanan. Tujuan ia ke Kebon Roek sebenarnya untuk jualan pindang dan ikan asin.
Hingga kini, tantangan terbesar baginya adalah menjaga keaslian rasa. “Sangat susah menjaga resep rahasia,” akunya.
Meski banyak yang mencoba meniru, bahkan menambahkan varian lauk seperti belut atau ayam geprek, Sigit tetap teguh menjaga resep asli.
Tidak ada ritual khusus, katanya. Tidak ada mantra-mantra, kecuali satu: Bismillah.
“Saya hanya dapat bismillah, sudah buka, baru kita ambil sendok atau centong nasi,” ujarnya dengan senyum kecil.
Popularitas Nasi Balap Puyung Inaq Esun menembus batas-batas dapur dan warung kecil. Tokoh-tokoh nasional pun pernah menikmatinya, termasuk Ibu Negara Presiden RI ke 7 Iriana Jokowi.
“Beliau pernah disuguhi saat berada di Kuta, sayangnya waktu itu saya nggak bisa ketemu langsung karena penjagaan Paspampres,” katanya.
Tak hanya Ibu Negara, sederet artis ternama dan pejabat juga menjadi pelanggan. “Kalau artis, udah nggak kehitung,” katanya.
Gubernur NTB? “Pedopo 1 langganan,” jawabnya mantap.
Pembukaan gerai resmi di Jalan Airlangga, Mataram, disambut hangat oleh pelanggan-pelanggan loyal dari kalangan pemerintahan. Gerai ini membuat proses pengantaran ke instansi seperti Pendopo Gubernur dan Polda NTB menjadi lebih cepat dan efisien.
“Yang urus pemesanan biasanya bagian rumah tangga dari instansi-instansi itu, sekarang lebih gampang karena jaraknya dekat,” ungkapnya.
Baca Juga: Nasi Balap Puyung Bakal Tampil di MotoGP Mandalika
Meskipun saat ini banyak bermunculan varian nasi balap di kawasan Puyung, bagi Rismata dan banyak pelanggan lama, tidak ada yang bisa menyamai keotentikan racikan Inaq Esun. “Kalau sekarang banyak yang baru-baru, mulai 2013 itu mulai ramai ada yang pakai belut, macam-macam. Tapi sejarahnya? Ya dari Inaq Esun. Ini pelopor,” tegasnya.
Untuk menghindari pemalsuan dan menjaga nama baik keluarga, merek dagang “Nasi Balap Puyung Inaq Esun” telah terdaftar secara resmi dengan sertifikat Kemenkumham bernomor IDM001314569. Di bagian atas gerai mereka, terpampang logo halal sebagai pengingat bahwa makanan ini bukan sekadar dagangan, tapi warisan rasa yang bertahan lebih dari setengah abad. (*/r9)
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin