Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

RATU PERMATA, Senjata RSUD Ruslan Lawan Tuberkulosis

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 11 September 2025 | 07:20 WIB
SEMAKIN DI DEPAN: Tim dari RSUD H. Moh Ruslan menerima penghargaan Juara I Lomba Inovasi Daerah Bidang Pelayanan Publik pada HUT Kota Mataram ke-32 berpose bersama usai penyerahan hadiah di Mataram.
SEMAKIN DI DEPAN: Tim dari RSUD H. Moh Ruslan menerima penghargaan Juara I Lomba Inovasi Daerah Bidang Pelayanan Publik pada HUT Kota Mataram ke-32 berpose bersama usai penyerahan hadiah di Mataram.

LombokPost – RSUD H. Moh. Ruslan kembali mencatat sejarah dengan menyabet Juara I Lomba Inovasi Daerah Bidang Pelayanan Publik lewat program RATU PERMATA (Gerakan Aktif Temukan Tuberkulosis dan Pantau Tuntas Terapi untuk Mataram Bebas TB).

“Ini bukan sekadar piala atau hadiah uang tunai, melainkan komitmen untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa warga Mataram,” kata Direktur RSUD Ruslan, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, SpOG., SubspFER., M.Kes., M.Sc, Rabu (10/9).

Ia menjelaskan, RATU PERMATA lahir dari kegelisahan melihat masih banyak pasien TB yang tidak terdeteksi atau putus berobat.

 

 

“Kalau kita biarkan, satu pasien TB bisa menulari belasan orang lain. Di sinilah RATU PERMATA mengambil peran,” tegasnya.

 

Tuberkulosis (TB) sendiri masih menjadi momok di NTB.

“NTB termasuk provinsi dengan angka TB tinggi,” ungkapnya.

 

Data 2024 mencatat penemuan kasus baru hanya 58,67 persen dari target 90 persen.

“Angka ini menunjukkan masih ada pasien yang tidak pernah memulai terapi, atau berhenti di tengah jalan,” jelasnya.

Untuk menjawab tantangan itu, RSUD Ruslan meramu strategi: skrining massal dengan bus Medical Check-Up (MCU), deteksi dini aktif di komunitas, dan sistem digital berupa aplikasi serta chatbot.

 

“RATU PERMATA bukan sekadar nama manis, tapi sebuah rangkaian tahapan yang terukur,” ucapnya.

Aplikasi digital memberi notifikasi kepada pasien yang lalai mengambil obat, sementara chatbot TTS (Tanya Tuberkulosis Sehat) menyalurkan pertanyaan langsung ke dokter spesialis.

“Pasien kini lebih disiplin karena ada notifikasi digital,” tambahnya.

Hasilnya, kunjungan ke poli paru naik 11 persen per bulan dan poli TB sekitar 6 persen.

“Warga juga lebih berani memeriksakan diri, bahkan saat skrining dilakukan di kampung mereka sendiri,” jelas Eka.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#inovasi kesehatan #RATU PERMATA #RSUD Ruslan #Skrining digital #Tuberkulosis Mataram