LombokPost - Di Saksak Dance, sebuah karya tak lahir dari latihan singkat atau proses kilat.
Sanggar ini menjadi rumah bagi para penari muda, bertumbuh perlahan melalui proses panjang selama bertahun-tahun.
Jumlah anggota sengaja dibatasi hanya 40 orang.
“KAMI tidak kejar kuantitas,” kata Pendiri Saksak Dance Lalu Suryadi Mulawarman.
Meski peminatnya banyak, Suryadi memilih menjaga kualitas ketimbang menampung semua.
Pembatasan ini memungkinkan setiap penari dipantau secara detail perkembangan teknik dan risetnya. “Proses mereka panjang,” tekannya.
Rata-rata anggota berlatih selama lima hingga sepuluh tahun. Mereka hanya berhenti jika kuliah di luar daerah atau menikah.
Bagi Suryadi, kesabaran dalam berproses adalah fondasi utama lahirnya karya besar.
“Baru berhenti kalau menikah,” tegasnya.
Kegiatan latihan pun lebih banyak dilakukan di sanggar. Hanya pada momen tertentu mereka menggunakan fasilitas Taman Budaya NTB.
Sejak 30 April lalu, Suryadi dipercaya menjadi Kepala Taman Budaya, posisi yang memperluas kiprahnya di dunia seni dan budaya daerah. “Jarang latihan di Taman Budaya,” katanya.
Ia melihat masih banyak masyarakat, baik nasional maupun internasional, yang belum mengenal produk budaya lokal secara utuh. Karena itu, pengalaman pribadinya sebagai koreografer digunakan sebagai pintu membangun citra lembaga kebudayaan.
“Kami manfaatkan personal branding,” ujarnya.
Lewat strategi ini, nama Taman Budaya mulai terangkat dalam berbagai agenda besar. Momentum besar seperti Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) menjadi titik awal pengenalan lembaga ke publik.
Penampilan kolosal dengan 500 penari di Fornas kemudian membuka jalan menuju undangan tampil di Istana Negara dengan 200 penari. “Pencapaian luar biasa,” ungkapnya penuh syukur.
Selama dua tahun terakhir, langkah Saksak Dance semakin diperhitungkan. Tidak hanya tampil dalam agenda prestisius, mereka juga mulai menorehkan prestasi.
Para penari muda berhasil meraih juara pertama tingkat provinsi dan masuk enam besar di ajang nasional di Jakarta. “Masuk enam besar,” ujarnya.
Perjalanan belum berhenti. Oktober mendatang, mereka kembali akan mewakili NTB dalam Festival Lomba Seni Siswa Nasional.
Di momen, parade MotoGP kemarin, Saksak Dance mementaskan 16 penari terbaiknya. Termasuk delapan penari untuk kategori karnaval.
Capaian demi capaian ini menjadi bukti proses panjang tidak pernah sia-sia. Di balik setiap gerakan tari yang memukau, ada dedikasi, riset, dan latihan bertahun-tahun yang dijalani dengan tekun.
Saksak Dance bukan sekadar sanggar. Ia adalah ruang pembentukan karakter, tempat mimpi-mimpi muda disemai.
“Kami ingin menjadi kekuatan seni yang berbicara di panggung nasional dan kelak, di panggung dunia,” harapnya. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r9)
Editor : Jelo Sangaji