LombokPost – Dua inovasi unggulan RSUD H. Moh. Ruslan Mataram berhasil menembus 10 besar ajang Indonesia Healthcare Innovation Awards (IHIA) 2025 tingkat nasional.
Capaian itu menegaskan langkah strategis rumah sakit daerah ini untuk tidak sekadar menjadi tempat pengobatan.
Melainkan pusat inovasi kesehatan masyarakat yang berorientasi pada pencegahan, penanganan cepat, dan peningkatan kualitas hidup warga.
“Sesuai arahan dari bapak wali kota, RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram akan terus berinovasi meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat dalam mewujudkan kota yang semakin harum!” kata Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram dr. Hj. NK Eka Nurhayati, SpOG., SubspFER., M.Kes., M.Sc, saat dimintai tanggapan tentang pencapaian ini, Senin (6/10).
Pencapaian membanggakan ini juga ditegaskan sebagai komitmen dan rasa tanggung jawab pada amanat yang diberikan.
“Jadi ini bukan semata tentang prestasi saja,” tegasnya.
Salah satu inovasi yang berhasil menarik perhatian juri nasional adalah Raja Harum (Respon Cepat Serangan Jantung untuk Harapan Hidup Meningkat). Program ini lahir dari realitas pahit: penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia dan Indonesia.
Di RSUD Mataram sendiri, sekitar 70 persen pasien yang datang ke poli jantung adalah penderita gagal jantung. “Waktu adalah segalanya, setiap detik bisa menentukan hidup atau mati,” kata dr. Eka.
Raja Harum dirancang sebagai sistem pelayanan terpadu mulai dari tahap paling awal pengenalan gejala oleh masyarakat hingga penanganan kuratif dan rehabilitasi.
Program ini mengubah paradigma penanganan penyakit jantung dari sekadar respons klinis menjadi strategi berlapis.
“Mencakup edukasi, kesiapsiagaan publik, respons darurat, dan perawatan lanjutan,” paparnya.
Inovasi ini mencakup pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada tenaga kesehatan di puskesmas, personel BPBD dan Damkar, bahkan siswa SMA sebagai duta kesehatan.
Tujuannya, agar masyarakat mampu memberikan pertolongan pertama saat menemui kasus serangan jantung sebelum tim medis tiba.
Edukasi publik juga diperluas melalui sosialisasi tanda-tanda serangan jantung dan cara mengaktifkan sistem darurat melalui Emergency Button.
“Di mana sistem ini terhubung langsung dengan PSC 119 RSUD,” terangnya.
Pada tahap kuratif, pasien ditangani secara cepat melalui tindakan reperfusi seperti trombolitik intravena atau Percutaneous Coronary Intervention (PCI).
Tujuannya memulihkan aliran darah ke jantung.
“Kecepatan ini krusial karena “golden time” penanganan serangan jantung berada di bawah enam jam setelah gejala muncul,” ucapnya.
Tidak berhenti di fase akut, Raja Harum juga menaruh perhatian besar pada pasien yang sudah mengalami komplikasi gagal jantung. RSUD membentuk Poli Gagal Jantung yang dikelola oleh tim multidisiplin dari dokter spesialis, perawat terlatih, ahli gizi, farmasi klinik, hingga psikolog.
“Tujuannya memastikan pasien mendapat perawatan berkelanjutan, edukasi tentang pengobatan, pengaturan aktivitas, dan pendampingan melalui telemedicine,” paparnya.
Selain itu, pengembangan sistem digital SI PASTI (Sistem Informasi Pasien Terintegrasi) membantu pasien memantau kondisi. Mengingatkan waktu minum obat, dan berkonsultasi secara daring.
“Melalui rangkaian langkah ini, Raja Harum diharapkan mampu menekan angka kematian, menurunkan komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien jantung,” paparnya.
Inovasi kedua, Maharestu (Mataram Harum Rendah Stunting), merupakan jawaban atas persoalan gizi kronis yang masih menjadi masalah serius di Indonesia. Di NTB, prevalensi stunting masih cukup tinggi.
“Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi masa depan generasi,” tekannya.
Maharestu dibangun dengan dua strategi utama. Pertama, “Disunting AA” (Digital Penyuluhan Stunting Anytime Anywhere), yakni penyuluhan digital yang dapat diakses kapan saja melalui QR code yang terhubung ke konten edukasi di kanal resmi RS Ruslan.
Materinya mencakup pentingnya gizi seimbang pada 1.000 hari pertama kehidupan dan langkah pencegahan stunting sejak masa kehamilan. “Program ini menyasar ibu hamil, ibu menyusui, serta orang tua bayi di bawah usia dua tahun,” terangnya.
Kedua, Maharestu menciptakan sistem rujukan terpadu. Menghubungkan posyandu, kader PKK, puskesmas, dan rumah sakit dalam satu rantai penanganan.
Kasus yang terdeteksi di tingkat posyandu akan segera dirujuk ke fasilitas kesehatan primer dengan pendampingan ahli gizi. Jika memerlukan perawatan lanjutan, pasien akan diarahkan ke Poliklinik Stunting RS Ruslan.
“Yang memberikan pelayanan terpisah dan lebih cepat,” paparnya.
Dalam kasus darurat, masyarakat dapat mengaktifkan layanan PSC 119 melalui tombol darurat. Untuk kondisi non-darurat, tersedia e-reservasi yang langsung terhubung ke poliklinik.
Program ini juga melibatkan lintas sektor seperti BP2KB, Dinas Kesehatan, dan pemerintah kelurahan dalam literasi gizi. “Distribusi pangan khusus serta pendampingan keluarga,” ucapnya.
Melalui Maharestu, RS Ruslan tak hanya menangani stunting di ujung kuratif. “Tetapi juga berperan sebagai pusat koordinasi dalam strategi pencegahan berkelanjutan,” ulasnya.
Bagi dr. Eka, kedua inovasi ini bukan sekadar proyek jangka pendek atau sekadar meraih penghargaan. Keduanya merupakan pilar dari transformasi layanan kesehatan RS Ruslan yang lebih proaktif, kolaboratif, dan berbasis teknologi.
“Kami ingin RSUD menjadi motor perubahan, tidak hanya menyembuhkan, tetapi mencegah, mendidik, dan menjaga,” tegasnya.
Langkah ini sejalan dengan visi pembangunan Kota Mataram 2021–2026: Mataram yang HARUM (Harmoni, Aman, Ramah, Unggul, Mandiri). RSUD berkomitmen melanjutkan inovasi serupa di bidang lain, memperluas cakupan layanan digital, dan memperkuat jejaring kerja sama lintas sektor.
“Mewujudkan kota sehat dan berkualitas,” tegasnya.
Final IHIA 2025 akan berlangsung pada 11–12 Oktober secara daring. Namun bagi RSUD H. Moh. Ruslan, penghargaan hanyalah bonus.
Yang terpenting, inovasi ini telah membawa manfaat nyata: menyelamatkan nyawa, mencegah lahirnya generasi yang lemah, dan menghadirkan masa depan yang lebih sehat bagi warga Mataram.
“Perjalanan panjang menuju pelayanan kesehatan yang paripurna baru saja kita mulai,” ucapnya dalam. (zad/r9)
Editor : Kimda Farida