LombokPost — Di tengah hiruk-pikuk posyandu, para tenaga kesehatan tengah menjalankan misi besar.
Mereka berpacu dengan waktu, menembus gang-gang sempit perkampungan.
Untuk memastikan 1.753 bayi mendapatkan imunisasi hexavalen.
“Ini vaksin terbaru dengan enam perlindungan sekaligus,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Dewi Ayu Murniati.
Program ini sebagai uji ketahanan sistem imunisasi dasar.
Sejak diluncurkan awal Oktober 2025, Mataram bersama Yogyakarta dan Bali ditunjuk sebagai daerah percontohan nasional penerapan vaksin kombinasi ini.
“Untuk kita di NTB, pelaksanaan dimulai 6 Oktober,” terangnya.
Baca Juga: Capaian Imunisasi Campak Lombok Tengah Baru 49 Persen
Setiap puskesmas kini memiliki target sendiri. Data bayi usia 2–4 bulan dikumpulkan, disinkronkan, lalu dijadwalkan imunisasi Hexavalen pada tiga tahap yakni usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan.
Di sisi lain, petugas harus memastikan rantai dingin vaksin (cold chain) tetap terjaga di tengah cuaca tak menentu.
“Kami harus memastikan suhu vaksin stabil, sampai pencatatan datanya benar,” terangnya.
Hexavalen menggantikan Pentavalen yang sebelumnya digunakan.
Bedanya, vaksin baru ini melindungi enam penyakit sekaligus.
Baca Juga: Lindungi Generasi Emas, Dinkes Mataram Perluas Imunisasi HPV Hingga SMP
“Ada difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, Haemophilus influenzae type B, dan polio (IPV),” terangnya.
Tambahan komponen polio suntik membuat proses imunisasi jadi lebih efisien. “Anak tidak perlu disuntik terpisah lagi,” terangnya.
Di lingkungan-lingkungan padat penduduk seperti Tanjung Karang dan Bertais, para kader posyandu menjadi garda depan.
Mereka mendata, mengundang, bahkan menjemput warga yang belum datang.
“Kadang ada ibu yang takut anaknya terlalu sering disuntik,” ungkapnya.
Mataram menjadi satu dari tiga kota yang dipercaya menjadi yang pertama menjalankan vaksin Hexavalen.
Di balik itu, tersimpan kepercayaan besar terhadap kesiapan infrastruktur kesehatan daerah.
“Pemerintah pusat menilai Mataram punya sistem pencatatan imunisasi yang baik, tenaga kesehatan terlatih, dan masyarakat yang relatif terbuka terhadap inovasi,” jelasnya.
Lebih dari sekadar teknis, tantangan terbesar justru ada pada psikologis masyarakat. Banyak orang tua masih trauma dengan isu-isu vaksinasi di masa lalu.
Karenanya, Dinas Kesehatan kini lebih aktif melakukan edukasi dan pendampingan langsung di lapangan.
“Jadi kita jelaskan manfaatnya dengan baik,” ujarnya.
Baca Juga: Imunisasi Anak di NTB Diperkuat, PAUD Jadi Sasaran Vaksinasi Kejar
Dengan target 1.753 bayi dan pelaksanaan di seluruh puskesmas dan posyandu, program Hexavalen diharapkan mampu mempercepat capaian imunisasi dasar lengkap.
“Kalau capaian kita bagus, Mataram bisa jadi contoh nasional untuk perluasan Hexavalen,” ucapnya. (zad/r9)
Editor : Kimda Farida