LombokPost – Gelombang tinggi akhir Oktober lalu kembali menggerus pesisir Ampenan.
Kampung Bugis, Pondok Prasi, hingga Bintaro, sisa-sisa pasir dan sampah laut masih menumpuk di depan rumah warga.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning, menuturkan geobag digunakan sebagai perlindungan sementara.
“Kita tidak mau kehilangan garis pantai dulu. Kalau ini dibiarkan, abrasi bisa makin dekat ke rumah warga,” ujarnya, Selasa (4/11).
Lale menambahkan, upaya ini bagian dari strategi berlapis sebelum membangun struktur permanen seperti revetment atau pemecah ombak beton.
“Material geotekstil yang digunakan punya ketahanan cukup tinggi terhadap abrasi dan sinar matahari, jadi ini langkah cepat sambil menunggu pembangunan permanen,” terangnya.
Pemkot sejauh ini masih bergantung pada bantuan pusat untuk menangani abrasi di pesisir Ampenan. Proyek perlindungan pantai masih menunggu pendanaan baru.
“Geobag ini solusi darurat, bukan akhir dari persoalan,” katanya.
Kini, garis pantai itu kembali dipagari dengan tumpukan geobag, karung raksasa berisi pasir yang disusun memanjang untuk menahan abrasi.
Selama dua hari terakhir, tim Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) tampak bekerja di bawah terik matahari.
Sekitar 70 pekerja dibagi dalam empat regu, memindahkan satu per satu geobag berukuran lebih dari satu meter. “Dari 400 unit yang kami dapat, sekitar 300 sudah terpasang, sisanya tinggal di bagian utara Mushola Pondok Prasi,” ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air PUPR Kota Mataram Lalu Agus Kurniadi.
Pemasangan geobag ini bukan hal baru. Awal tahun lalu, metode serupa sudah dilakukan dan hasilnya dinilai cukup efektif menahan hantaman ombak.
Beberapa karung lama masih utuh, hanya bergeser dari posisi awal. “Secara fisik masih bagus, meskipun tergeser waktu gelombang tinggi akhir Oktober,” kata Agus.
Menurut Agus, gelombang 31 Oktober lalu tidak sampai merusak jalan dan fasilitas umum. “Yang rusak parah itu sisa bencana Februari lalu, sekarang kami fokus memperkuat titik rawan,” jelasnya.
Namun, dari pantauan di lapangan, garis pantai di beberapa titik sudah menipis. Di bagian utara mushola, jarak bibir laut ke permukiman tak lebih dari lima meter.
Sementara itu, warga menunggu hasilnya. Mereka tahu, laut yang dulu jadi halaman depan kini perlahan jadi ancaman yang datang setiap musim.
Bagi warga Pondok Prasi, ombak besar bukan lagi pemandangan aneh. “Setiap musim barat, air bisa sampai ke jalan,” ujar Hasan, warga setempat. (zad/r9)
Editor : Pujo Nugroho