Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ketika Puskesmas Cakranegara Belajar Tersenyum: Layanan Baru, Kostum Baru, Cara Pandang Baru terhadap Pasien

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 8 Desember 2025 | 22:51 WIB

Gede Yasa mengenakan seragam formal saat menjalankan peran “manajer hari ini” untuk memastikan seluruh layanan berjalan optimal.
Gede Yasa mengenakan seragam formal saat menjalankan peran “manajer hari ini” untuk memastikan seluruh layanan berjalan optimal.

Perubahan kecil kadang membuka pintu besar. Di Puskesmas Cakranegara sebuah inovasi baru “Manajer Hari Ini” mengubah cara petugas memandang pekerjaan, dan cara masyarakat melihat layanan kesehatan.

---

PAGI itu, I Gede Yasa, SKM., M. Kes —yang biasanya duduk di balik meja TU—menata dasinya di depan cermin kecil ruang puskesmas. Hari itu ia bukan sekadar kepala TU.

Ia adalah “manajer hari ini” dari program inovasi yang digagas Dinas Kesehatan Kota Mataram yakni MENARI di KOLAM. Akronim dari Manajer Hari Ini di Puskesmas Kota Mataram.

Ia bertugas bertanggung jawab memantau seluruh alur pelayanan dari pagi hingga sore. “Inovasi ini luar biasa karena kami bisa melihat langsung situasi layanan hari itu, termasuk apa saja kendalanya,” ujar Yasa membuka percakapan pada Lombok Post, Jumat (5/12).

Tugas baru itu membuatnya berpindah dari kursi ke kursi, dari poli ke poli. Mengamati bagaimana dokter memulai pelayanan, bagaimana sarana prasarana bekerja, hingga bagaimana pasien menunggu dan bereaksi.

Baca Juga: Dikes Mataram Luncurkan MENARI di KOLAM, Ada “Manager Hari Ini” Berkeliaran di Setiap Puskesmas

Menurut Yasa, tantangan terbesar justru datang dari sisi manusia. Puskesmas setiap hari melayani puluhan hingga ratusan warga dengan karakter dan cara komunikasi yang sangat beragam.

“Kami pelajari psikologinya. Kalau ada komplain, kami bawa ke ruang khusus, interaksi harus lebih humanis,” terangnya.

Ruang itu memang disediakan untuk meredakan situasi, menjaga privasi, dan memastikan percakapan berlangsung elegan. Dinamika lima hari pertama program itu menunjukkan satu hal yang menonjol: poli sore menjadi pertanyaan paling sering dari masyarakat.

Layanan baru ini membuat warga antusias. “Mereka penasaran sekali. Setiap hari ada yang menanyakan itu,” ujarnya.

Baca Juga: Wagub NTB di Puskesmas Karang Pule: Suaminya Sayang Nggak?

Di lapangan, Yasa tidak hanya menjawab keluhan. Ia memantau pergerakan pasien, menghubungkan mereka dengan poli yang tepat, hingga memastikan tidak ada hambatan kecil yang bisa mengganggu pelayanan.

“Kami keliling semua klaster. Sampai UGD pun harus kami cek,” jelasnya.

Setiap temuan, baik masalah maupun potensi perbaikan, dicatat dan dilaporkan ke Kepala Puskesmas serta Dinas Kesehatan sebagai bahan strategi peningkatan layanan.

Peran ini berbeda dari kepala puskesmas yang mengatur kebijakan jangka panjang. “Manajer hari ini fokus pada hari ini saja. Apa masalahnya, apa solusinya, apa rekomendasinya,” ucapnya.

Baca Juga: Angin Kencang, Tower Timpa Atap Puskemas Kayangan

Namun ada satu hal yang membuat peran itu terasa lebih personal: kostum resmi.

“Harus pakai dasi. Yang perempuan pakai setelan khusus juga. Kesan profesionalnya lebih kuat,” tuturnya.

Perubahan penampilan membuat pasien lebih mudah menyapa, bertanya, bahkan memberi testimoni. “Secara umum kebanyakan memberi testimoni positif,” ungkapnya senang.

Di awal tugas, Yasa memperkenalkan diri kepada pasien yang sedang menunggu.

Baca Juga: Keluhan TPP dan Jaspel Puskemas yang Dibayar Molor, Emir: Tergantung Kesiapan Data

“Nama saya Yasa. Hari ini saya manajer layanan. Kalau ada hal yang kurang berkenan, mohon sampaikan ke saya,” ujarnya ke pengunjung puskesmas setiap memulai patroli kecil.

Senyum menjadi alat utama. Dan di sinilah salah satu rahasia kecil inovasi ini muncul: standar senyum 5-2-2.

“Senyumnya itu sekitar lima gigi terlihat, ujung bibir naik dua sentimeter,” Yasa menjelaskan sambil memperagakan.

Senyum ini bukan basa-basi, tetapi teknik pelayanan. “Supaya suasananya cair. Orang lebih mudah terbuka,” tuturnya.

Baca Juga: Keluhan TPP dan Jaspel Puskemas yang Dibayar Molor, Emir: Tergantung Kesiapan Data

Walau tampil rapi dan terus bergerak dari pagi hingga sore, Yasa mengaku belum pernah menemukan kasus pasien marah atau kesal. “Justru mereka antusias melihat layanan baru ini,” ujarnya.

Baginya, pengalaman menjadi manajer hari itu seperti membuka jendela baru. Teman-temannya pun merasakan hal sama.

“Ini tantangan sekaligus pengalaman yang luar biasa. Membuat kami melihat puskesmas dari sisi yang berbeda,” ucapnya antusias.

Baca Juga: Bupati Loteng: Pelayanan Puskemas Harus Maksimal dan Ramah

Inovasi sederhana ini bukan hanya soal manajemen. Ia soal cara baru menyapa masyarakat: lebih dekat, lebih hangat, lebih manusiawi.

“Cita-cita kami, layanan puskesmas semakin positif di masyarakat, dan mudah-mudahan tidak kalah dengan rumah sakit,” pungkasnya. (*/r9)

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#MENARI di KOLAM #inovasi kesehatan #manajer hari ini #puskesmas Mataram #pelayanan humanis