LombokPost – Aktivitas belajar mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Mataram terusik parah oleh bau tak sedap yang berasal dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Lawata di Dasan Agung Baru, Kecamatan Selaparang.
Keluhan ini menjadi viral setelah sebuah video yang menunjukkan siswa-siswa menutup hidung di ruang kelas beredar luas di media sosial TikTok.
Pihak sekolah mengonfirmasi bahwa masalah bau sampah ini telah berlangsung bertahun-tahun, dengan intensitas yang meningkat drastis, terutama saat musim hujan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 2 Mataram, Fathul Mubin, menjelaskan bahwa posisi sekolah yang berseberangan langsung dengan TPS memaksa ratusan siswa dan guru berjuang melawan aroma busuk.
Bau sangat menyengat, terutama saat hujan atau setelah proses pengangkatan sampah, sehingga aroma busuk sangat mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM).
Siswa dan guru terpaksa menggunakan kipas portable atau masker untuk mengurangi paparan bau.
Bau busuk juga dirasakan oleh lembaga-lembaga pendidikan dan instansi lain yang berada di sekitar sekolah.
“Iya, kalau hujan berarti makin bau dia. Begitu diangkat, pas kena hujan malamnya itu, kan dia nguap. Nah, itu dah tempatnya, menyengat sekali baunya itu,” ujar Fathul Mubin (8/12).
Baca Juga: TPS Sandubaya Diprotes Bulog karena Ancam Kualitas Beras, Pemkot: Sandubaya Solusi Darurat, Pemkot Tak Punya Lahan Alternatif Siap Pakai
SMKN 2 Mataram telah berulang kali melayangkan surat keluhan kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram. Namun, solusi yang didapat dinilai belum maksimal.
Salah satu solusi yang pernah diusulkan adalah meninggikan tembok pembatas TPS. Namun, harapan terbesar pihak sekolah saat ini adalah penyesuaian waktu operasional pengangkutan sampah.
Saat ini, proses pengangkutan sampah di TPS Lawata dimulai sekitar pukul 09.00 WITA, waktu yang bertepatan dengan jam aktif KBM.
“Mungkin kalau kita, dia jangan ada proses pengangkutan di jam anak lagi belajar. Iya, mungkin anak-anak sudah pulang atau apa, baru ini. Sekarang kan dia ngangkutnya mulai jam 9, masuk sampah,” jelas Fathul, berharap proses pengangkutan bisa dilakukan di luar jam sekolah.
Secara terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Denny, memberikan klarifikasi mengenai penyebab penumpukan sampah di TPS Lawata.
Menurut Denny, penumpukan terjadi karena penuhnya Tempat Pemrosesan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok. Kondisi ini memaksa sampah untuk sementara harus ditampung (di-keep) di TPS.
“Sementara sampah yang belum bisa terbuang kami keep dulu di TPS,” kata Denny.
Hingga saat ini, pihak sekolah mengaku hanya bisa bersabar dan menunggu kebijakan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Editor : Siti Aeny Maryam