Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Darurat Sampah Mataram: TPS Penuh Akibat TPAR Kebon Kongok Kritis, Pemprov NTB Diminta Mediasi Solusi Lahan

Sanchia Vaneka • Rabu, 10 Desember 2025 | 22:49 WIB

 

Pembuangan sampah di TPS Lawata
Pembuangan sampah di TPS Lawata


LombokPost
– Kota Mataram kini menghadapi darurat sampah menyusul kondisi kritis di Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR) Kebon Kongok. Keterbatasan ruang di TPA regional tersebut menyebabkan penumpukan sampah parah di berbagai Tempat Penampungan Sementara (TPS) di ibu kota NTB, bahkan salah satunya di Sandubaya dilaporkan sudah penuh.

Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram kini mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB untuk segera turun tangan memediasi dan mencarikan solusi darurat lahan pembuangan sementara.

“Kami juga mengeluh sebenarnya, Pemerintah Kota mengeluh juga. Tapi kondisinya begini. Kondisinya kan kami juga tidak bisa (mencari) lahan di kota, sehingga perlu koordinasi lintas (daerah),” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, pada Selasa (9/12).

Keterbatasan daya tampung dan ruang manuver di TPAR Kebon Kongok secara otomatis membatasi ritase (frekuensi pembuangan) truk sampah dari Mataram. Akibatnya, sampah menumpuk di TPS.

Kepala TPAR Kebon Kongok, Radyus Ramli, membenarkan bahwa TPA telah mencapai ambang batas. Kondisi ini membuat antrean truk sampah memanjang, bahkan memaksa hingga 20 kendaraan pengangkut harus menginap beberapa hari lalu karena area yang licin dan sempit.

“Itulah konsekuensinya, karena ruangan sempit, tidak bisa lancar seperti biasa arus masuknya sampah itu ke sana,” ujar Radyus.

Sebagai langkah darurat, TPAR Kebon Kongok telah mengusulkan pembatasan ritase truk sampah harian kepada Pemkot Mataram dan Pemkab Lombok Barat (Lobar). Pembatasan ini bertujuan untuk:

* Memberikan TPA waktu untuk optimasi ruang landfill yang tersisa.
* Memperpanjang usia operasional TPA.

Lalu Alwan Basri menekankan pentingnya mediasi Pemprov NTB untuk mempertemukan Mataram dan Lobar guna mencari lokasi keluangan lahan sementara.

“Kami mohon pemerintah provinsi juga harus mencarikan solusi terbaik. Ini kan permasalahan bukan Mataram saja, Lombok Barat juga terdampak,” tegasnya.

Sementara itu, Radyus Ramli dari TPAR menegaskan bahwa krisis ini bukan hanya masalah di hilir. TPAR membutuhkan kolaborasi total dari semua pihak untuk perbaikan tata kelola sampah dari hulu hingga hilir, termasuk pemilahan di sumber dan pusat pengolahan sampah di kedua daerah.

“Dari sumber dan dari pusat pengolahan sampah yang ada di Kota Mataram dan Lobar harus diperbaiki,” pungkas Radyus.

Editor : Marthadi
#TPAR Kebon Kongok #darurat sampah #Sampah Mataram #kebon kongok #Pemprov NTB