LombokPost — Program digitalisasi pasar menunjukkan perkembangan pesat. Di Pasar Dasan Agung—pilot project pertama di Kota Mataram —pedagang dengan transaksi terbanyak kini mendapat reward khusus, sementara pembeli yang paling aktif juga dikategorikan sebagai penerima hadiah. Skema dua arah ini diyakini menjadi kunci meningkatnya frekuensi transaksi digital.
“Ini khusus untuk pedagang. Siapa yang paling banyak transaksinya, sekarang dikasih reward oleh Bank NTB,” ujar Asisten 2 Kota Mataram Miftahurrahman, Kamis (11/12).
Menurutnya, QRIS kini berjalan bukan hanya sebagai sistem pembayaran, tetapi sebagai ekosistem digital pasar. Pedagang menerima poin untuk setiap transaksi, sedangkan pembeli mencatat poin yang kemudian diundi secara berkala.
“Sudah dua kali kita lakukan untuk ASN Kota Mataram, siapa yang transaksi terbanyak dapat reward,” ujarnya.
Sebagai langkah akselerasi, Pemkot Mataram telah mengarahkan pegawai sekretariat kota untuk berbelanja di Pasar Dasan Agung menggunakan QRIS selama empat hingga lima bulan terakhir.
“Itu bagian dari kepedulian pemerintah,” jelasnya.
Langkah ini ternyata efektif. Transaksi dari pegawai mendorong pedagang semakin terbiasa menggunakan sistem digital, sekaligus memancing masyarakat umum untuk ikut bertransaksi tanpa uang tunai.
Meski Pasar Dasan Agung masih menjadi fokus, Bank NTB dan Pemkot Mataram telah menyiapkan rencana pengembangan ke sejumlah pasar lain.
“Ada rencana pengembangan ke pasar Mandalika, ACC, dan beberapa pasar lain. Cuma ini masih berproses,” katanya.
Pemkot menilai keberhasilan program digital tidak hanya bergantung pada penyedia sistem, tetapi pada arus transaksi yang berputar. Karena itu, penekanan diarahkan pada dua sisi: pedagang aktif menerima transaksi, pembeli aktif melakukan transaksi.
“Yang penting transaksi jalan. Pedagang hidup, pembeli diuntungkan," ucapnya.
Program ini tidak lagi terbatas pada pedagang tertentu. Semua kategori telah masuk menjadi peserta.
“Tadi ada pedagang sayuran, pedagang buah, pedagang ikan, daging ayam, pedagang snack. Semuanya," ucapnya.
Dengan skema tersebut, pedagang kecil yang sebelumnya tak tersentuh layanan keuangan digital kini bisa mencatat tabungan langsung dari setiap transaksi. “Secara tidak langsung, masyarakat juga nabung di situ,” ujarnya.
QRIS Sebagai Jalan Baru Perputaran Ekonomi Pasar
Melalui reward, poin, dan sistem transaksinya yang cepat, KRIS semakin diterima sebagai alat transaksi utama di pasar tradisional Mataram. Para pedagang tidak hanya merasakan manfaat kelancaran pembayaran, tetapi juga insentif tunai dan tabungan digital yang terbentuk dari kebiasaan baru mereka.
“QRIS sebagai bagian dari transaksi juga hidup,” ucapnya menegaskan.
Dengan rencana perluasan ke pasar-pasar lain dan peningkatan partisipasi pembeli, Pemkot menargetkan ekosistem ini menjadi standar baru transaksi di pasar tradisional. "Yang lebih modern, aman, dan berkelanjutan," pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin