Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mataram Masuk 10 Besar Nasional! Tak Ada Pasien Gagal Dapat Darah, Zero Unmet Need Terjaga

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 11 Desember 2025 | 10:01 WIB

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirald Isfihan menerima piagam Menteri Kesehatan RI atas keberhasilan Kota Mataram masuk 10 besar daerah dengan pemenuhan kecukupan darah tertinggi nasional.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirald Isfihan menerima piagam Menteri Kesehatan RI atas keberhasilan Kota Mataram masuk 10 besar daerah dengan pemenuhan kecukupan darah tertinggi nasional.

LombokPost
 — Kota Mataram kembali mencatatkan prestasi nasional. Pada peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, Ibu Kota Provinsi NTB ini masuk daftar 10 daerah di Indonesia yang dinilai paling berhasil memenuhi kebutuhan darah warganya.

Mewakili Wali Kota Mataram, Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr Emirald Isfihan menerima penghargaan ini. “Intinya, kalau pasien membutuhkan darah, kita penuhi. Tidak boleh ada yang tidak terlayani selama stok tersedia,” katanya menjelaskan capaian tersebut, saat ditemui, Rabu (10/12).

Dijelaskan dr Emirald, penghargaan ini diberikan setelah pemerintah pusat menilai kecukupan darah secara nasional melalui input real-time dari Unit Transfusi Darah (UTD). Kota Mataram dinilai mampu menjaga konsistensi zero unmet need.

”Tidak ada pasien yang tidak bisa dilayani karena kekurangan darah,” terangnya.

Baca Juga: Dikes Mataram Luncurkan MENARI di KOLAM, Ada “Manager Hari Ini” Berkeliaran di Setiap Puskesmas

Menurutnya jaminan pelayanan ini tersedia, sangat subtil karena menyangkut keselamatan nyawa. Berbeda dengan obat-obatan yang bida diproduksi massal, darah hanya akan tersedia bila ada pendonor.

Namun dengan keterbatasan dalam menyetok kantong darah itu — tergantung pada ketersediaan pendonor — Kota Mataram bisa tetap aman kantong darahnya. “Tanpa misalnya harus mencari pengganti kantong darah yang dipakai saat itu juga,” paparnya.

Tidak ada ukuran baku berupa jumlah kantong tertentu yang harus tersedia. “Profesionalnya nggak bisa ditentukan begitu. Ukurannya sederhana saja: kebutuhan pasien terpenuhi,” paparnya.

Keberhasilan ini, kata dia, bukan hasil kerja satu pihak, melainkan kolaborasi lintas lembaga. Mulai dari UTD rumah sakit hingga PMI.

Baca Juga: Gubernur NTB Turun ke Pasar Dasan Agung! Belanja Pakai KRIS, Pedagang Sorak Gembira


Salah satu pembeda Mataram dibanding kota lain adalah komitmen seluruh UTD menghentikan praktik lama yang mewajibkan “pendonor pengganti” sebelum pasien mendapat darah. “Kalau dulu orang harus membawa pengganti dulu baru dapat darah. Sekarang tidak. Kami buat aturan bahwa jika ada stok, tidak boleh menolak pasien,” ujarnya.

Kebijakan ini ditegaskan melalui penandatanganan surat komitmen oleh seluruh UTD saat izin operasional diterbitkan. Kini, setiap permintaan darah langsung ditangani, dan kebutuhan pasien diinput dalam sistem nasional sehingga transparan dan dapat dipantau.

Saat ini Kota Mataram ditopang tiga UTD yakni UTD RSUD Provinsi NTB, UTD RSUD Kota Mataram, dan UTD PMI. Ketiganya berperan menjaga ketersediaan seluruh golongan darah yang dibutuhkan masyarakat.

“Selain suplai reguler, kegiatan donor darah massal yang rutin digelar pemerintah, PMI, komunitas, dan lembaga pendidikan juga ikut memperkuat cadangan darah kota,” paparnya.

Baca Juga: ASN Serbu Pasar! Strategi Pemkot Mataram Ini Dongkrak Transaksi QRIS Secara Gila-Gilaan

Dinkes kini mendorong setiap rumah sakit memiliki Bank Darah Rumah Sakit (BDRS). Fasilitas ini memungkinkan setiap faskes menyimpan darah sesuai kebutuhan layanan sehingga distribusi jauh lebih cepat.

“BDRS itu penting supaya rumah sakit bisa memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Kita dorong terus,” ujarnya.

Penghargaan ini bukan hanya simbol, tetapi validasi atas tata kelola pelayanan darah yang selama ini dibangun. Meski belum ada intervensi khusus dari pemerintah pusat pasca-penghargaan, Emirald menegaskan penghargaan ini adalah bukti bahwa Kota Mataram berada di jalur yang benar.

“Ini menunjukkan peran aktif semua pihak, bukan hanya pemerintah,” katanya.

Baca Juga: 9.800 Transaksi QRIS! Konyu Caturwarga Jadi Jawara NTB, Pengusaha Lain Patut Belajar

Dengan sistem yang ada, masyarakat kini tidak perlu khawatir soal ketersediaan darah. Regulasi yang disiapkan pemerintah kota memastikan pelayanan darah lebih mudah, cepat, dan adil.

Prestasi ini sekaligus menempatkan Mataram sebagai salah satu kota rujukan nasional dalam pemenuhan kebutuhan darah, sebuah capaian yang mempertegas arah reformasi layanan kesehatan di daerah. “Salah satu kemudahan utama masyarakat adalah mengakses darah. Itu yang kita jamin, insya Allah,” tutup dr. Emirald. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #darah #PMI #Dinas Kesehatan #prestasi #penghargaan #UTD