Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dulu Takut Uang Palsu, Kini Mulianah Diam-Diam Menabung Berkat QRIS!

Lalu Mohammad Zaenudin • Kamis, 11 Desember 2025 | 10:55 WIB
Mulianah saat melayani Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang berbelanja ke lapaknya.
Mulianah saat melayani Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang berbelanja ke lapaknya.

LombokPost — Di sudut lorong masuk Pasar Dasan Agung, berdiri sebuah meja sederhana berisi bubur tradisional, klepon, dan aneka kue basah. Di balik meja itu, Ibu Mulianah bekerja dengan ramah, menyapa setiap pembeli yang mampir pagi itu.

Senyumnya tampak berbeda hari itu, lebih hangat, lebih percaya diri. “Alhamdulillah, dagangan saya laku,” ujarnya lirih, Kamis (11/12).

Selama 4–5 bulan terakhir, Mulianah tidak hanya menjual jajanan. Ia tengah merasakan kemudahan baru lewat penggunaan QRIS, sistem pembayaran digital yang kini semakin menjamur di pasar tradisional.

Keputusan menggunakan QRIS awalnya sederhana: ikut arus. “Waktu itu ramai yang pakai, jadi saya coba juga,” katanya.

Namun, sama seperti pedagang kecil lainnya, pengalaman itu berubah menjadi sebuah titik balik.

Dalam sehari, pendapatannya dari jualan bubur dan jajanan hanya sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Jumlah yang mungkin tampak kecil.

Tapi ada trik yang ia jalankan tanpa sengaja. “Kalau ada yang bayar cash, itu buat modal hari itu. Kalau bayar QRIS, uangnya masuk rekening… jadi otomatis nabung,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Ia mengaku kerap terkejut ketika mengecek saldo. “Tahu-tahu sudah banyak. Bisa buat bayar sekolah anak,” katanya.

Bagi seorang pedagang kaki lima, pengalaman seperti itu bukan hal kecil, itu adalah bentuk kemandirian finansial versi mereka.

QRIS, tanpa disadarinya, bukan sekadar alat pembayaran, tapi alat menabung yang efektif.

Sama seperti pedagang lainnya, Mulianah pernah punya kekhawatiran soal uang palsu, uang sobek, kembalian kurang, kembalian tidak ada.

QRIS menyelesaikan semuanya. “Tidak takut uang palsu. Tidak pusing cari receh,” katanya.

Bagi pedagang kecil, kepastian seperti itu sangat berarti. “Saya kerja lebih tenang,” tambahnya.

Ada anggapan bahwa transaksi digital hanya cocok untuk nominal besar. Mulianah membantahnya.

“Di sini jualannya cuma lima ribu, sepuluh ribu rupiah. Anak-anak muda malah lebih suka begitu,” ujarnya.

 Baca Juga: Gubernur NTB Turun ke Pasar Dasan Agung! Belanja Pakai KRIS, Pedagang Sorak Gembira

Kehadiran Gubernur: Dagangan Diborong, Kepercayaan Diri Naik

Pagi itu, suasana pasar menjadi lebih hidup dari biasanya. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal datang meninjau penggunaan transaksi digital di Pasar Dasan Agung.

Di antara sekian banyak pedagang, Gubernur menghampiri lapak Mulianah. Ia masih menahan rasa haru dengan momen itu.

“Beliau beli jajanan saya. Diborong sampe lima puluh ribu rupiah,” ujarnya, masih tak percaya.

Tidak semua jajanan itu habis dimakan, tentu saja. Tapi bagi Mulianah, itu bukan intinya.

“Yang penting beliau datang, belanja. Saya senang sekali,” katanya.

 Baca Juga: 9.800 Transaksi QRIS! Konyu Caturwarga Jadi Jawara NTB, Pengusaha Lain Patut Belajar

Pasar yang Kian Bergeliat: Bukan Lagi Tempat “Orang Tua Saja”

 

Satu hal yang disadari Mulianah adalah perubahan wajah pengunjung pasar. “Sekarang banyak pegawai datang pagi-pagi belanja. Anak-anak muda juga banyak,” ujarnya.

Ia melihat rombongan pegawai dari Bank NTB Syariah, kantor-kantor pemerintahan, hingga para pekerja swasta yang mampir sebentar sebelum berangkat kerja. Semuanya memilih lapak yang bisa menerima pembayaran cashless.

Cukup bawa HP, scan, bayar—selesai.

Fenomena itu membuka segmen pasar baru. Pasar yang dulunya didominasi ibu-ibu dan bapak-bapak kini kedatangan generasi milenial yang sensitif terhadap kemudahan teknologi.

Pasar Dasan Agung menerapkan standar kebersihan ketat: pedagang wajib memakai celemek, penutup kepala, dan sarung tangan. Mulianah mengakui hal itu membuat lapaknya terlihat lebih profesional.

“Agak panas sih pakai celemek dan penutup kepala. Tapi pelanggan jadi lebih senang,” katanya.

Ditambah pembayaran non-tunai, transaksi terasa makin bersih. Tidak ada uang kotor, tidak ada tangan bergantian memegang kembalian.

“Jadinya dijamin bersih,” ucapnya.

Baca Juga: Ratusan Guru Ngaji Kota Mataram Ikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi  

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#UMKM digital #Pasar Dasan Agung #menabung #pedagang kecil #QRIS