Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Wali Kota: Teknologi Demokratisasi Film! Anak NTB Kini Bisa Bikin Karya Besar dari Hal Kecil

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 15 Desember 2025 | 10:49 WIB

Wali Kota Mataram Mohan Roliskana memberikan pernyataan media didampingi Sekda Lalu Alwan Basri dan Kepala Dispar Cahya Samudra.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana memberikan pernyataan media didampingi Sekda Lalu Alwan Basri dan Kepala Dispar Cahya Samudra.

LombokPost
 — Wali Kota Mataram Mohan Roliskana, menegaskan bahwa Festival Film Sangkareang (FFS) telah berkembang menjadi ruang strategis bagi tumbuhnya sineas muda di Lombok dan Nusa Tenggara Barat. Festival ini dinilai tidak sekadar ajang kompetisi, tetapi wadah pembelajaran, ekspresi, dan penguatan ekosistem ekonomi kreatif perfilman daerah.

Hal tersebut disampaikan Mohan Roliskana saat memberikan sambutan pada malam puncak Festival Film Sangkareang 2025 yang tahun ini memasuki penyelenggaraan tahun kedua.

“Saya mengapresiasi program yang diinisiasi Dinas Pariwisata Kota Mataram. Festival ini kita sepakati sebagai ruang dan wadah bagi sineas muda untuk menampilkan karya dan talenta mereka,” ujar Mohan, Minggu malam (14/12). 

Ia menilai, di tengah kemajuan teknologi, industri perfilman kini semakin terbuka dan demokratis. Proses produksi film tidak lagi identik dengan sesuatu yang mahal dan eksklusif, melainkan dapat diakses oleh generasi muda yang memiliki gagasan dan konsistensi berkarya.

Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menyerahkan penghargaan pada pemenang film pendek kategori Umum.
Wali Kota Mataram Mohan Roliskana menyerahkan penghargaan pada pemenang film pendek kategori Umum.

“Teknologi telah mendemokratisasi proses produksi yang terpenting adalah bagaimana anak-anak kita menghadirkan kreativitas, gagasan, konsistensi, dan sentuhan emosional kepada penonton,” katanya.

Menurut Mohan, perfilman tidak berdiri sendiri sebagai produk seni, melainkan membangun ekosistem yang melibatkan komunitas kreatif, penonton, hingga pelaku industri. Karena itu, festival film memiliki peran penting dalam membangun jejaring dan memperkuat subsektor ekonomi kreatif di daerah.

“Ini bukan hanya soal film, tetapi tentang membangun komunitas dan industri kreatif yang saling terhubung,” tegasnya.

Atas dasar itu, Mohan menyatakan komitmen pemkot untuk mendukung keberlanjutan Festival Film Sangkareang, bahkan mendorong agar festival ini kembali digelar pada 2026 dengan konsep yang semakin matang dan semarak.

“Saya berharap kegiatan seperti ini terus konsisten, mengangkat cerita dan kearifan lokal, dengan tetap menjaga nilai sosial dan edukasi lingkungan dalam setiap karya,” pungkasnya.

FFS 2025 mencatat 51 film yang disubmit oleh sineas muda dari berbagai daerah di NTB. Seluruh karya tersebut melalui proses assessment, penilaian, dan kurasi, hingga akhirnya 10 nominasi terbaik tampil pada malam puncak, terdiri dari lima kategori pelajar dan lima kategori umum.

Penyelenggaraan FFS 2025 merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Pariwisata Kota Mataram bersama Yayasan Lombok Inspira, sebagai upaya memperkuat ruang ekspresi dan regenerasi perfilman lokal.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra, menyebut FFS sebagai bagian dari strategi pengembangan subsektor ekonomi kreatif berbasis talenta lokal.

“Festival ini bukan hanya soal penghargaan, tetapi proses. Ada edukasi, jejaring, dan regenerasi. Ini penting untuk menyiapkan sineas muda NTB agar siap bersaing di level yang lebih luas,” ujar Cahya.

Ia menegaskan, kehadiran kategori baru seperti wedding videography dan video perpisahan sekolah (yearbook) menunjukkan bahwa ekosistem audiovisual NTB terus berkembang dan semakin inklusif.

“Kita ingin semua pelaku audiovisual punya ruang apresiasi, tidak terbatas pada film konvensional saja,” tambahnya.

Direktur FFS 2025, Budi Daryono, menyampaikan FFS sejak awal dirancang sebagai perayaan sinema, bukan semata ajang lomba.

“Film kami posisikan sebagai medium untuk menyampaikan aspirasi, realitas, dan imajinasi dari sudut pandang lokal,” kata Budi.

Ia menyebut antusiasme peserta terus meningkat, termasuk keterlibatan pelajar dari Lombok, Pulau Sumbawa, hingga wilayah lain di NTB. Menurutnya, hal ini menjadi indikator kuat regenerasi sineas lokal sedang berlangsung.

“Kami ingin festival ini menjadi ruang bersama, tempat karya-karya audiovisual dirayakan dan tumbuh,” ujarnya.

Pada malam puncak tersebut, panitia mengumumkan sejumlah pemenang utama:

Film Pendek Umum Terbaik: Jenggala; Film Terbaik Kategori Pelajar: Kukira Teduh; Film Favorit Pilihan Penonton: Diary; Wedding Videografi Terbaik: Athaya dan Lana Videografer (Golden Studio); Video Perpisahan Sekolah Terbaik (Yearbook): Navaria.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #FFS #digital #sangkareang #festival film #Cahya samudra #Demokratisasi #Mohan Roliskana #2025