Perubahan besar tidak selalu hadir lewat pidato panjang atau proyek raksasa. Di Kota Mataram, ia datang pelan, menyentuh ruang paling sunyi dalam hidup warga: rumah.
----
DI Aula Pendopo Wali Kota Mataram, suasana terasa lebih hening dari biasanya. Deretan kursi dipenuhi warga dengan pakaian sederhana. Wajah mereka menyimpan cerita panjang tentang rumah, hujan, dan rasa cemas yang selama ini dipendam.
Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Tahun 2025 resmi dimulai. Wakil Wali Kota Mataram TGH Mujiburrahman menyerahkan bantuan secara simbolis kepada lima perwakilan penerima manfaat, didampingi Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri dan Kepala Disperkim Kota Mataram M Nazaruddin Fikri.
Salah satu penerima, Kasyono, warga Lingkungan Dasan Cermen Timur, Kelurahan Dasan Cermen, berdiri dengan mata berkaca-kaca. Pria 40 tahun itu tampak berusaha menahan haru saat diberi kesempatan berbicara.
“Setelah rumah saya direnovasi atau direhab ini oleh semua pihak, khususnya Pemerintah Kota Mataram melalui Dinas Perkim, tiang mengucapkan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya,” ucapnya lirih dalam bahasa Sasak.
Kasyono sehari-hari berjualan telur gulung. Penghasilannya tak menentu.
Rumah yang ia tempati selama ini berdiri dengan tiang-tiang rapuh dan atap yang tak sepenuhnya melindungi dari hujan. Kondisi itu menjadi bagian hidup yang ia jalani tanpa banyak pilihan.
“Alhamdulillah hirabbil ‘alamin, lamun endek arak nike jak tilah bale tiang marak laek (kalau tidak ada (bantuan ini), selamanya rumah saya seperti dulu),” ungkapnya.
Tanpa bantuan RTLH, rumah itu akan tetap seperti sebelumnya. Tidak layak dan jauh dari rasa aman.
Bagi Kasyono, perubahan rumah membawa perubahan hidup. Tidur tak lagi dibayangi rasa khawatir. Keluarga memiliki ruang yang lebih layak untuk bernaung, meski sederhana.
Program RTLH menjadi wujud kehadiran pemerintah pada persoalan paling dasar masyarakat. Rumah yang layak dipandang sebagai fondasi kehidupan, tempat kesehatan, ketenangan, dan masa depan keluarga bertumbuh.
Wakil Wali Kota Mataram TGH Mujiburrahman menegaskan, RTLH bukan sekadar pembangunan fisik. Lebih dari itu, program ini bertujuan mengembalikan martabat warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.
“Rumah yang aman dan sehat adalah hak warga. Dari rumah yang layak, kehidupan yang lebih baik bisa dimulai,” ujarnya.
Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri menambahkan, program ini dirancang agar bantuan benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan. Pemkot, kata dia, harus hadir tidak hanya lewat kebijakan, tetapi juga lewat dampak nyata.
Sementara Kepala Disperkim Kota Mataram M. Nazaruddin Fikri menyebut, RTLH disusun berbasis kondisi riil di lapangan. “Sesuai arahan dari Pak Wali, pendataan dilakukan ketat agar bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan,” ucapnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin