LombokPost - Di tengah kompleks Kota Mataram, Gallery Dekranasda tak sekadar berdiri sebagai ruang pajang. Ia hadir sebagai pertemuan antara tangan-tangan perajin dan harapan agar karya lokal tak kalah bersaing dengan produk pabrikan.
“Dekranasda berfungsi sebagai wadah pembinaan, promosi, sekaligus penguatan kualitas produk perajin,” ujar Ketua Dekranasda Kota Mataram Hj. Kinnastri Mohan Roliskana.
Peresmian galeri dilakukan Wali Kota Mataram Mohan Roliskana bersama Ketua Dekranasda Kota Mataram Hj. Kinnastri Mohan Roliskana. Pengguntingan pita menjadi penanda dimulainya babak baru pembinaan UMKM dan kriya lokal.
Baca Juga: Baru Diangkat, 4 PPPK Paro Waktu di Mataram Langsung Diberhentikan Januari 2026
Dekranasda Kota Mataram selama ini berperan sebagai simpul. Ia menghubungkan perajin dengan pasar, ide dengan peluang, serta tradisi dengan inovasi.
Peran itu kian nyata setelah galeri menjadi ruang permanen bagi promosi produk lokal. Saat ini, Gallery Dekranasda melibatkan 46 pelaku usaha.
Mereka terdiri dari 16 UKM produk kriya dan 30 UKM produk makanan. Angka itu mencerminkan ekosistem kecil yang tumbuh perlahan, namun konsisten.
Baca Juga: Presiden Prabowo Teguhkan Semangat Bela Negara Sebagai Fondasi Kekuatan RI!
Kinnastri memaparkan, geliat ekonomi itu terlihat dari capaian penjualan. Pada 2024, omzet Gallery Dekranasda tercatat mencapai Rp 215.843.000 dengan laba Rp 31.451.721.
“Sedangkan tahun 2025 hingga pertengahan Desember, omzet sudah mencapai Rp 151.404.000 dengan laba Rp 17.014.450,” ungkapnya.
Di balik angka-angka itu, ada proses panjang: peningkatan kualitas kemasan, seleksi produk, hingga pendampingan perajin agar mampu membaca selera pasar tanpa kehilangan jati diri.
Baca Juga: Pengelola Taman Narmada Diminta Tingkatkan Keamanan
Kinnastri menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Mataram atas dukungan yang membuat Dekranasda kini memiliki galeri yang lebih representatif. Menurutnya, galeri ini bukan sekadar etalase.
“Gallery Dekranasda kami harapkan menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan UMKM,” katanya.
Ke depan, Dekranasda menyiapkan langkah yang lebih berani. Enam kampung batik ditargetkan terbentuk di enam kecamatan pada 2026 sebagai pusat produksi sekaligus identitas kawasan.
“Motifnya akan dikembangkan dari perpaduan pakem Sasak dan elemen Gerbang Sangkareang,” pungkasnya
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin