LombokPost – Paguyuban Mel Bao dari Kota Mataram akan berhadapan dengan Paguyuban Adi Luhung asal Lombok Timur dalam pagelaran Tarung Pepadu Peresean di Taman Wisata Loang Baloq, Minggu (21/12). Pertemuan dua paguyuban ini menjadi bagian dari strategi penguatan atraksi budaya berbasis local wisdom yang digagas Dinas Pariwisata Kota Mataram.
Peresean kali ini tidak sekadar diposisikan sebagai tontonan, melainkan sebagai cultural experience yang dirancang berulang dan terjadwal. Dengan menghadirkan paguyuban aktif dari dua wilayah berbeda, Dispar Kota Mataram ingin menjaga dinamika pertunjukan sekaligus kualitas performa tradisi.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Cahya Samudra mengatakan, pemilihan Mel Bao dan Adi Luhung merupakan bagian dari proses kurasi paguyuban agar Peresean tampil sebagai representasi budaya yang hidup, kompetitif, dan bermartabat.
“Kami tidak ingin Peresean berhenti di level event. Ini kami dorong sebagai proses institusionalisasi atraksi budaya, sehingga tradisi hadir secara konsisten dan punya positioning yang jelas dalam ekosistem pariwisata,” ujar Cahya Samudra, Jumat malam (19/12).
Menurutnya, Peresean mengandung nilai simbolik yang kuat—keberanian, sportivitas, dan penghormatan antarpepadu—yang harus diterjemahkan secara tepat dalam konteks pariwisata modern. Karena itu, setiap pagelaran disiapkan dengan pendekatan curated performance, bukan sekadar adu fisik.
“Yang kita tampilkan adalah ekspresi budaya, bukan kekerasan. Ada rule, ada referee, ada etika adat. Ini penting agar Peresean dipahami sebagai seni tradisi, bukan sekadar spectacle,” jelasnya.
Cahya menambahkan, Loang Baloq dipilih sebagai ruang utama karena kawasan ini memiliki destination appeal yang lengkap. Perpaduan wisata pantai, religi, dan budaya dinilai ideal untuk membangun pengalaman kunjungan yang utuh.
“Loang Baloq kita desain sebagai cultural stage terbuka. Wisatawan tidak hanya datang melihat, tapi mengalami. Ini soal experience, bukan hanya attendance,” katanya.
Pagelaran Peresean di Loang Baloq sendiri telah ditetapkan sebagai agenda rutin yang digelar setiap Minggu sore pada pekan ketiga setiap bulan. Pola ini dimaksudkan untuk menciptakan predictable schedule yang memudahkan promosi dan perencanaan kunjungan wisata.
“Wisata butuh kepastian. Kalau ritmenya jelas, semua bergerak—paguyuban siap tampil, pelaku UMKM siap berjualan, wisatawan tahu kapan datang,” ujar Cahya.
Selain aspek budaya, Dispar juga menargetkan dampak ekonomi langsung dari setiap pagelaran. Kehadiran penonton diharapkan menjadi multiplier effect bagi pedagang lokal dan komunitas sekitar.
“Budaya harus berdampak. Kalau tradisi hidup tapi ekonomi tidak bergerak, itu belum ideal. Peresean ini kita posisikan sebagai penggerak dua hal sekaligus,” tegasnya.
Ke depan, Dispar Kota Mataram berencana terus mempertemukan berbagai paguyuban Peresean lintas daerah agar atraksi tetap segar dan berkelanjutan.
“Selama tradisi dikelola dengan konsistensi dan mindset yang tepat, Peresean akan terus relevan. Ini bukan nostalgia, tapi future-oriented culture,” pungkas Cahya Samudra.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin