Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tanpa Pesta, Tanpa Kembang Api: Cara Mataram Memulai 2026 Ini Bikin Suasana Lebih Hening

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 5 Januari 2026 | 12:35 WIB
Wali Kota dan Wakil Wali Kota, bersama jajaran Forkopimda saat malam pergantian tahun.
Wali Kota dan Wakil Wali Kota, bersama jajaran Forkopimda saat malam pergantian tahun.

LombokPost — Ketika banyak kota menutup 2025 dan membuka 2026 dengan pesta, kembang api, dan sorak sorai, Pemerintah Kota Mataram justru memilih jalan yang berbeda. Tanpa euforia, tanpa kemeriahan. Pergantian tahun dilalui dalam suasana hening, doa, dan empati sebuah pilihan yang belakangan memantik refleksi banyak orang.

Di Pendopo Wali Kota Mataram, lantunan tahlil, dzikir, dan doa bersama menggantikan hiruk-pikuk perayaan malam tahun baru. Suasana yang tercipta sederhana namun khidmat, seolah mengajak siapa pun yang hadir menundukkan kepala dan memulai tahun dengan kesadaran.

Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, menegaskan bahwa keputusan menyambut tahun baru dengan doa merupakan sikap moral dan kemanusiaan pemerintah daerah dalam membaca situasi kebangsaan.

“Di tengah saudara-saudara kita yang sedang berduka, kami merasa perlu memulai tahun dengan empati,” katanya, Rabu malam (31/12).

Keheningan malam itu bukan sekadar absennya pesta. Ia menjadi ruang bersama untuk merenung—bahwa pergantian tahun tidak selalu harus dirayakan dengan kebisingan, tetapi bisa dimaknai sebagai momentum menata niat dan kepedulian.

Doa bersama dipanjatkan sebagai wujud rasa syukur, sekaligus solidaritas kepada masyarakat di Sumatra dan Aceh yang tengah diuji musibah bencana alam.

“Malam ini kita berdoa bersama, memohon kekuatan dan ketabahan bagi mereka yang terdampak musibah,” imbuh Mohan.

Selain untuk para korban bencana, doa juga dipanjatkan bagi Kota Mataram agar tetap berada dalam suasana aman, sejuk, dan harmonis. Mohan menyebut, ketenteraman kota tidak hanya ditentukan oleh pengamanan fisik, tetapi juga ikhtiar batin dan kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat.

“Kita berharap doa yang kita panjatkan bersama-sama diijabah oleh Allah SWT, agar Kota Mataram tetap kondusif, aktivitas masyarakat berjalan aman, dan tahun 2026 kita awali dengan niat yang baik,” ujarnya.

Doa bersama tersebut diikuti jajaran aparatur sipil negara (ASN) Kota Mataram, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, serta sejumlah undangan lainnya. Pendopo Wali Kota malam itu berubah menjadi ruang refleksi, tempat menutup satu tahun perjalanan dan membuka lembaran baru dengan ketenangan.

Usai rangkaian doa, agenda malam itu tidak berhenti pada simbolik. Wali Kota Mataram bersama unsur Forkopimda dan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) turun langsung memantau kondisi kota. Kehadiran pemerintah di lapangan menjadi penegasan bahwa ketenangan harus dijaga, bukan hanya dirayakan.

Sejumlah titik strategis yang berpotensi menjadi pusat keramaian disambangi, di antaranya Simpang Kebon Roek, Simpang Pajang, serta kawasan Epicentrum Mall. Pemantauan dilakukan untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga sepanjang malam pergantian tahun.

“Kehadiran pemerintah di lapangan penting untuk memastikan masyarakat merasa aman. Kita ingin memastikan malam pergantian tahun berlangsung tertib dan kondusif,” ujar Mohan di sela-sela patroli.

Tidak hanya soal keamanan, perhatian juga diarahkan pada kesiapsiagaan layanan dasar. Wali Kota Mataram didampingi Sekretaris Daerah Kota Mataram, Lalu Alwan Basri, meninjau Puskesmas Pagesangan serta Unit Gawat Darurat RSUD H Moh Ruslan.

Sekda Kota Mataram Lalu Alwan Basri menegaskan, layanan kesehatan menjadi sektor krusial yang harus dipastikan siap siaga, terutama pada momentum pergantian tahun yang kerap diiringi peningkatan kasus darurat.

“Kita ingin memastikan seluruh fasilitas kesehatan dalam kondisi siap,” katanya.

Menurut Alwan, pengamanan malam tahun baru tidak hanya dimaknai sebagai penjagaan lalu lintas dan keramaian, tetapi kesiapan negara dalam menjamin layanan dasar bagi masyarakat. Koordinasi lintas sektor, kata dia, menjadi kunci menjaga stabilitas kota.

Pergantian Tahun Baru 2026 di Kota Mataram pun berlalu dalam suasana tenang. Tanpa letupan kembang api, tanpa sorak sorai. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan pesan yang lebih dalam.

Di tengah dunia yang kerap merayakan pergantian waktu dengan kebisingan, Mataram memilih hening, berdoa untuk sesama, berjaga untuk warganya, dan menata langkah menuju tahun yang baru dengan kesadaran dan tanggung jawab. Sebuah cara memulai 2026 yang, bagi banyak orang, justru mengajak untuk berhenti sejenak dan merefleksikan diri. 

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#Kota Mataram #refleksi #tahun baru 2026 #doa bersama #wali kota #layanan publik #malam pergantian tahun