Padatnya tumpukan sampah TPS Sandubaya memaksa para petugas kebersihan roda tiga mengantre berjam-jam dan menanggung beban mental akibat omelan warga karena sampah yang tak terangkut tepat waktu. Kondisi krisis ini bahkan membuat para petugas terpaksa membawa pulang limbah ke rumah hingga merogoh kocek pribadi untuk menyewa lahan pembakaran demi menghindari protes tetangga.
SANCHIA VANEKA, Mataram
Aroma tak sedap langsung menusuk hidung begitu mendekati kawasan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Sandubaya, Kota Mataram. Namun, bagi Mawardi dan puluhan penarik kendaraan roda tiga lainnya, bau busuk itu adalah kawan karib sehari-hari.
Matahari belum terlalu tinggi, namun antrean kendaraan roda tiga (tosa) sudah mengular panjang di sepanjang jalan akses TPS. Puluhan unit kendaraan yang sarat dengan tumpukan sampah rumah tangga mulai dari plastik, sisa makanan, hingga limbah rumah tangga yang sudah menghitam tampak bergeming menunggu giliran bongkar muat.
Mawardi, salah satu penarik sampah dari wilayah Sabdubaya tampak letih di balik helm pengaman putihnya. Wajahnya guratan lelah. Ia tak menampik bahwa kondisi saat ini kian menyulitkan para petugas kebersihan tingkat lingkungan.
“Sudah macet, penuh. Susah juga kita sekarang mau apa,” keluh Mawardi sembari menunjuk ke arah tumpukan sampah yang menggunung di bak kendaraannya, (6/1).
Baca Juga: Target Retribusi Sampah Mataram Meleset, DLH Ungkap Alasan di Balik Capaian Rp 6 Miliar
Persoalan utama yang dihadapi Mawardi dan rekan-rekannya adalah pembatasan waktu pembuangan. Saat ini, setiap kendaraan roda tiga hanya diperbolehkan membuang sampah satu kali dalam sehari ke TPS. Padahal, volume sampah dari warga yang harus ia layani tidak pernah berkurang.
Mawardi melayani wilayah yang padat penduduk, mencakup sekitar 1.600 Kepala Keluarga (KK). Dengan hanya satu kali angkut sehari, bak kendaraannya hanya mampu menampung sampah dari sekitar tujuh hingga sepuluh rumah saja dalam sekali jalan.
Sisanya? Terpaksa menumpuk dan menunggu giliran esok hari.
“Ini satu tosa aja baru tujuh warga yang punysa sampah diangkut, belum yang lain,” ucapnya.
Imbasnya, Mawardi menjadi sasaran protes warga.
“Sering sekali diomeli warga. Mereka tidak mau tahu, maunya sampah segera diambil karena sudah penuh dan bau di rumah mereka,” tuturnya.
Tak jarang, tekanan dari warga membuatnya kehilangan waktu istirahat. Baru saja hendak memejamkan mata di siang hari setelah lelah mengantre, pintu rumahnya sudah digedor warga yang meminta sampahnya diangkut.
“Maunya diangkut terus, udah bau ini katanya,” ujarnya.
Karena antrean yang terlalu panjang dan kuota buang yang terbatas, tak jarang Mawardi terpaksa membawa pulang sampah yang belum sempat dibongkar di TPS. Alhasil, ia harus rela bermalam dengan aroma busuk yang menguap dari kendaraan yang diparkir di depan rumahnya.
“Kadang tidur sama sampah di rumah. Baunya minta ampun, apalagi kalau habis hujan,” katanya.
Idealnya, menurut Mawardi, dengan jumlah penduduk yang mencapai ribuan KK, ia harus melakukan pengangkutan minimal dua kali sehari agar sampah di lingkungan tidak menumpuk. Namun, regulasi satu kali angkut per hari membuatnya harus memutar otak, sementara keluhan warga terus menghujani setiap langkahnya.
Terlihat para petugas kebersihan tetap bekerja di bawah terik matahari, mengenakan sepatu bot kuning dan masker ala kadarnya, memilah di antara tumpukan limbah yang menggunung setinggi atap kendaraan mereka. Mereka hanya bisa berharap ada solusi konkret dari pemerintah kota agar napas lingkungan di wilayah Sandubaya tidak tercekik oleh sampah yang mereka angkut sendiri.
Begitu juga denban Faesal, petugas kebersihan dari Kelurahan Turide, Kecamatan Sandubaya, rutinitas mengangkut sampah kini berubah menjadi ujian kesabaran yang menguras energi.
Jika dulu ia bisa pulang ke rumah dengan cepat sebelum siang hari, kini Faesal harus rela terpanggang matahari di atas tumpukan limbah.
“Kadang-kadang kita mengantre lebih dari lima jam. Dari jam delapan pagi sampai jam dua siang baru bisa bongkar. Saking lamanya, kami sampai kelaparan di tengah antrean,” tuturnya.
Kondisi ini merupakan imbas dari melambatnya pengangkutan sampah dari TPS menuju Tempat Pembuangan Akhir Regional (TPAR). Akibatnya, terjadi penumpukan luar biasa yang memicu kebijakan pembatasan kuota buang.
Situasi ini menciptakan efek domino hingga ke tingkat lingkungan. Sampah-sampah milik pelanggan setianya di Kelurahan Turide seringkali tidak terangkut hingga satu minggu lamanya. Faesal pun harus menanggung beban mental karena menjadi sasaran kemarahan warga yang menganggapnya sengaja menunda pekerjaan.
“Sering diomel-omeli warga, dikira kita cari alasan. Padahal saya selalu kirim video bukti kalau antreannya separah ini,” katanya sembari menunjukkan deretan kendaraan roda tiga di depannya.
Namun, menyadari bau busuk yang menyengat akan mengganggu tetangga, Faesal harus merogoh kocek sendiri untuk menyewa lahan kosong.
“Terpaksa kita balik dan bawa sampah ke rumah. Kalau ada lahan, ya kita sewa lahan untuk pembakaran sampah itu, asalkan jauh dari kampung supaya tidak diprotes warga,” ungkapnya.
Fasilitas TPS yang macet total sejak penutupan sementara beberapa waktu lalu di bulan November, menurut Faesal, telah mengubah pola hidup para petugas kebersihan. Baginya dan kawan-kawan seprofesi, status sebagai garda terdepan kebersihan kota kini terasa sangat berat tanpa dukungan percepatan pengangkutan dari pemerintah.
“Beginilah keadaannya, kami hanya bisa berharap ada perubahan, karena ini sudah terjadi berbulan-bulan,” terangnya.
Editor : Kimda Farida