LombokPost – Tersendatnya distribusi air bersih PTAM Giri Menang selama delapan hari berturut-turut di kawasan Rembiga, Kota Mataram, memantik kekesalan publik dan sorotan tajam DPRD. Di tengah krisis kebutuhan paling dasar, warga justru dibiarkan bertahan dengan cara-cara darurat, sementara respons institusi penyedia air dinilai lamban dan minim empati.
Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram Irawan Aprianto, secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap kinerja PDAM. “Ini kebutuhan paling asasi, air bukan soal kenyamanan, tapi soal hidup. Tapi tidak ada tindakan nyata,” tegas Irawan, pada Lombok Post, Senin (12/1).
Menurutnya, masyarakat berada dalam situasi tanpa pilihan. Air bersih hanya bergantung pada PDAM.
Alternatif seperti sumur bor terbentur regulasi dan biaya, sementara kualitas air permukaan sudah tercemar bakteri E. coli. “Maju kena, mundur kena. Masyarakat dikunci tanpa opsi,” ujarnya.
Irawan menegaskan, jika persoalan distribusi air ini terus berulang tanpa solusi jangka panjang, Komisi II akan meminta pertanggungjawaban serius dari PDAM. Bahkan, wacana pemisahan pengelolaan kembali digulirkan jika kinerja pelayanan dinilai terus mengecewakan.
“Kalau direksi ingin tetap bersama (Pemkot Mataram dan Pemkab Lombok Barat, Red), maka pelayanan harus diatensi sungguh-sungguh,” tekannya.
Namun bila terus berulang, wacana pemisahan PDAM yang telah lama digaungkan akan kembali didorong. “Kami akan panggil ulang PDAM, Asisten II yang membidangi infrastruktur, bahkan mengajak Komisi III untuk rapat bersama. Bila perlu kota pisah saja,” tegasnya.
Sementara itu di lapangan, krisis air telah memukul kehidupan warga Rembiga. Warga mengaku air PDAM tidak mengalir sama sekali selama delapan hari.
Baca Juga: Maskapai TransNusa Hidupkan Lagi Jalur Langit Lombok-Australia
Mereka bertahan dengan menunggu hingga malam, berharap air mengalir, namun hasilnya nihil. Seorang warga, Nirkomala Sari, mengatakan warga terpaksa berkumpul di rumah tetangga yang memiliki sumur bor.
Namun solusi ini tidak merata karena tidak semua warga memiliki akses sumur. “Mana bantuan pemerintah?” sungutnya sekenanya.
Dalam kondisi sulit itu, untung ada warga yang berbaik hati membuka sumur bor. “Kalau tidak, kami benar-benar tidak tahu harus bagaimana,” ujarnya.
Keluhan warga semakin pilu ketika menyentuh kebutuhan dasar rumah tangga. Air untuk minum, memasak, hingga sanitasi nyaris tidak tersedia.
“Kami tidak punya air untuk minum, masak, bahkan untuk bersihkan anak setelah buang air pun tidak ada. Sampai kapan begini?” keluh seorang ibu.
Warga mempertanyakan kehadiran pemkot di tengah situasi krisis tersebut. Mereka berharap, setidaknya selama air PDAM belum normal, bisa menurunkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki secara rutin.
“Kalau air belum bisa hidup, paling tidak kirim air tangki. Pemerintah Kota Mataram ke mana?” kata warga dengan nada kesal.
Menanggapi hal ini, Sekretaris PTAM Giri Menang Indah Paramita, menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan di wilayah Gegutu dan Rembiga. “Gangguan distribusi terjadi akibat perbaikan jaringan pipa berdiameter 12 inci di kawasan Telaga Ngembeng,” katanya melalui rilis yang disampaikan pada koran ini.
Baca Juga: Sepanjang 2025, Lapas Lombok Barat Catat Nol Kasus Overstaying
Menurut manajemen, pekerjaan fisik telah rampung dan saat ini dilakukan pemulihan aliran secara bertahap. Proses normalisasi meliputi pengaturan tekanan udara dan air, rekayasa jaringan dengan penambahan valve dan washout, inspeksi jaringan, serta penyisiran langsung ke wilayah pelanggan.
PTAM Giri Menang juga mengklaim telah menyiagakan armada truk tangki untuk menyalurkan bantuan air bersih gratis bagi wilayah terdampak. “Dapat menghubungi WhatsApp Center: 0819-9902-9903 atau Call Center (0370) 611999 dengan menyertakan lokasi detail dan nomor handphone yang aktif,” terangnya
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin