LombokPost – Gangguan distribusi air bersih kembali menampar wajah pelayanan publik. Kali ini, wilayah Rembiga menjadi korban.
Sedikitnya 632 kepala keluarga (KK) di Rembiga Utara terdampak krisis air bersih akibat tersendatnya layanan dari PTAM Giri Menang — perusahaan yang mengelola air bersih di Kota Mataram dan Lombok Barat – telah memasuki hari kesembilan.
“Informasi sementara sebanyak 632 KK yang terdampak di Rembiga Utara,” ungkap Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Mataram M Ramdhani pada Lombok Post, Selasa (13/1).
Di tengah keluhan warga yang kian meluas, pemkot akhirnya turun tangan dengan langkah darurat. Bantuan air bersih disalurkan sebagai respons cepat menutup kekosongan layanan yang semestinya menjadi tanggung jawab utama PDAM.
Ramdhani, menegaskan pemkot tidak tinggal diam menghadapi krisis kebutuhan dasar tersebut. Menurutnya, pemenuhan air bersih bagi warga menjadi prioritas meskipun proses pemulihan jaringan masih berlangsung.
“Pemerintah Kota Mataram hadir di tengah masyarakat. Kami memastikan kebutuhan air bersih tetap terpenuhi melalui distribusi air menggunakan mobil tangki di wilayah terdampak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan dilakukan secara lintas sektor. Melibatkan BPBD Kota Mataram serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan.
Armada tangki air disiagakan di sejumlah titik rawan sebagai solusi darurat agar warga tidak sepenuhnya kehilangan akses air bersih. “Sejauh ini telah didrop tiga tanki air sebanyak 15.000 liter,” terangnya.
Baca Juga: IRT Pengedar Sabu Diringkus Saat Main Judi Domino
Selain distribusi air menggunakan kendaraan tangki, pemkot juga menempatkan tandon air di lingkungan warga. Langkah ini diambil memastikan ketersediaan air dapat diakses lebih merata selama gangguan distribusi belum sepenuhnya pulih.
Ramadhani menekankan, meski bersifat sementara, langkah ini mencerminkan tanggung jawab pemerintah daerah menjamin pelayanan dasar masyarakat. “Air bersih bukan sekadar layanan teknis, tapi kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Selaparang Mulya Hidayat, mengungkapkan dampak gangguan distribusi air terjadi di kawasan Rembiga Utara. Ia menyampaikan proses pemulihan jaringan air bersih saat ini telah menunjukkan perkembangan.
Hingga Selasa, progres pemulihan distribusi air dilaporkan telah mencapai sekitar 80 persen. “Masih ada beberapa titik yang menjadi fokus penanganan, khususnya di Rembiga Utara. Penanganan terus berjalan dan kami pantau langsung di lapangan,” jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah kecamatan dan kelurahan juga menyiapkan langkah komunikasi kepada warga. Sosialisasi terkait kondisi jaringan dan progres perbaikan akan dilakukan melalui pertemuan langsung agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas dan akurat.
“Kami ingin warga mengetahui apa yang sedang dikerjakan dan tidak merasa ditinggalkan. Komunikasi ini penting agar keresahan tidak berkembang menjadi ketidakpercayaan,” tambahnya.
Sementara itu, PTAM Giri Menang sebagai pengelola layanan air bersih masih melakukan penanganan teknis secara bertahap. Pemerintah kota memastikan koordinasi terus dilakukan agar pemulihan layanan tidak kembali tersendat.
Pemkot menegaskan akan mengawal penanganan krisis ini hingga distribusi air bersih benar-benar normal. Namun di tengah respons cepat pemerintah, sorotan publik tetap mengarah pada PDAM: krisis ini menjadi pengingat kelalaian layanan dasar selalu berujung pada penderitaan warga.
Janhadi, warga di Dasan Lekong, Rembiga mengungkapkan keluhan belum hadirnya bantuan air bersih dari pemkot. “Di Gang Maluku, kami belum dapat bantuan air bersih,” keluhnya.
Ia berharap pemkot segera mendistribusikan air bersih ke lingkungannya. Ia dan warga lainnya kesulitan menjalankan aktivitas air bersih untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Ini sudah hari ke sembilan yang keluar dari keran angin saja tidak ada, jangankan untuk mandi, memasak harus minta air bersih ke warga yang punya sumur bor,” keluhnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin