Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dari Oven Seadanya ke Ribuan Roti, Usaha Harmaen Tembus MBG

Lalu Mohammad Zaenudin • Sabtu, 17 Januari 2026 | 22:05 WIB
Harmaen (kanan), ayah, dan saudaranya tengah membentuk adonan roti.
Harmaen (kanan), ayah, dan saudaranya tengah membentuk adonan roti.


DI sudut dapur produksi, sebuah mesin berdiri kokoh. Badannya tak terlalu besar, tapi suaranya menentukan ritme kerja.

“Iya betul. (Alat) untuk (mengaduk) selai,” jawab Harmaen, sambil menepuk ringan bodi mesin itu, Senin (12/1). 

Kini, ia memiliki dua unit mixer. Satu bertenaga listrik, satu lagi bisa dioperasikan dengan genset. 

Fungsinya sama: mengaduk adonan selai agar produksi roti bisa dipercepat.

“Setelah dapat bantuan ini, produksi bisa naik. Dulu sedikit, sekarang bisa sampai delapan kali adukan,” katanya.

Bantuan mesin itu diterima Desember 2025 lalu, melalui Dinas Pemuda dan Olahraga. Sebagiannya dibeli sendiri, sebagian lain berasal dari fasilitasi anggota dewan.

“Karena ini lewat pemuda. Yang buka usaha di sini kan rata-rata masih muda,” ujarnya.

Harmaen bukan pendatang baru di dunia roti. Ia tumbuh dari dapur orang lain.

Awalnya ikut keluarga, lalu menumpang belajar di rumah pamannya, Basri. Upah bukan tujuan utama.

“Dulu saya tidak kejar uang. Yang penting bisa dulu cara buat roti,” tuturnya.

Setelah cukup paham, ia mengajak istrinya membuka dapur produksi sendiri. Modal awal seadanya. 

Oven dibuat mandiri dengan biaya sekitar Rp 3 juta, belum termasuk loyang dan perlengkapan lain. “Satu loyang itu bisa seratus ribu. Di sini ada puluhan. Tinggal dikalikan saja,” katanya.

Usaha itu mulai digeluti sekitar setahun lalu, bertepatan dengan bulan puasa. Pelan-pelan, ia berdiri di atas kakinya sendiri.

Pesanan datang silih berganti, bergantung musim. “Sebelum MBG, kadang 15 keranjang, kadang 10, kadang cuma lima,” ujarnya.

Lanskap berubah ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan. Permintaan melonjak tajam.

“Kalau sekarang, sekali produksi bisa dua sampai tiga sak (roti). Kalau dikeranjangkan, bisa 50 sampai 60 keranjang,” katanya.

Satu keranjang berisi 50 roti. Artinya, ribuan roti keluar dari dapur Babakan setiap hari.

“Empat ribu sampai lima ribu roti untuk satu dapur MBG,” ucapnya.

Pesanan datang melalui pengepul. Dari merekalah roti-roti Babakan mengalir ke dapur-dapur MBG.

“Kami produksi, pengepul yang menyalurkan,” jelasnya.

Soal omzet, Harmaen tak mau berspekulasi. Semua urusan keuangan dipegang sang istri.

“Yang jelas alhamdulillah. Cukup untuk keluarga dan sekolah anak,” katanya sambil tersenyum, menolak menghitung detail.

Jika dirata-ratakan, produksi meningkat sekitar dua setengah kali lipat sejak MBG berjalan. “Dulu satu setengah sak. Sekarang bisa dua, tiga, bahkan empat sak,” katanya.

Biaya produksi ikut membesar. Tepung, gula, mentega, dan ramuan lain harus disiapkan.

Baca Juga: Pengurus KDMP Lombok Barat Bentuk Forum, Soroti Dana dan Lahan Bermasalah

“Sekali produksi bisa jutaan. Tergantung jumlahnya,” ujarnya.

Di dapur itu, ayahnya ikut membantu. Tenaga kerja bertambah seiring pesanan.

Pendidikan Harmaen sendiri hanya sampai SD. Selebihnya, hidup adalah sekolah panjangnya.

“Setelah lulus, saya ke sana kemari cari pengalaman,” katanya.

Ia pernah bekerja tanpa upah, demi belajar. Pernah pula digaji Rp 60 ribu per sak roti.

Kini, upah itu naik—dan tak lagi menjadi satu-satunya sandaran. “Sekarang sudah punya usaha sendiri,” ucapnya pelan.

Dua anaknya kini bersekolah, kelas 3 dan kelas 1 SD. Rumah berdiri. Dapur produksi bertambah. 

Ia bahkan sempat merantau ke Malaysia setahun lamanya untuk mengumpulkan modal. “Tanah ini warisan keluarga,” katanya.

Setiap hari, dapur itu kembali hidup. Adonan diaduk, roti dipanggang, selai diracik.

Dari gang sempit Babakan, ribuan roti mengalir ke meja makan anak-anak. “Kalau order ada, kami gas,” ujarnya singkat.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#produksi roti #Roti Rumahan #Makan Bergizi Gratis #babakan #Harmaen