LombokPost – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram Siti Fitriani Bakhreisyi, kembali mendorong penguatan inovasi pariwisata Kota Mataram dengan pendekatan yang lebih membumi dan realistis. Menurutnya, kebangkitan sektor pariwisata tidak selalu harus dimulai dari event besar, tetapi justru dari pengelolaan keramaian yang terencana dan konsisten.
Pipit, sapaan akrabnya, menilai perlu ada “jam ramai” yang sengaja diciptakan di kawasan wisata dan kuliner. Keramaian tersebut, kata dia, bisa dipicu melalui event-event kecil yang rutin dan terjadwal sehingga perlahan membentuk kebiasaan pengunjung.
“Harus ada jam ramai yang dipaksakan. Misalnya dengan event kecil tapi konsisten, seperti pertunjukan tari khas Sasak atau gendang beleq,” ujarnya, Selasa (20/1/2026).
Ia mencontohkan pola yang selama ini diterapkan di Bali. Di sejumlah titik kuliner, pertunjukan seni seperti tari kecak selalu digelar pada jam tertentu. Pola ini dinilai efektif menarik kerumunan dan menciptakan daya tarik tambahan bagi wisatawan.
“Orang datang bukan hanya untuk makan, tapi juga untuk menikmati suasana dan atraksi. Itu yang perlu kita tiru dan sesuaikan dengan karakter Mataram,” katanya.
Selain atraksi, Pipit juga menekankan pentingnya penyesuaian harga dengan kondisi ekonomi masyarakat. Menurutnya, daya beli masyarakat harus menjadi pertimbangan utama agar lokasi wisata dan kuliner tidak ditinggalkan pengunjung.
“Kita tidak bisa memaksakan harga tinggi kalau kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih. Wisata itu harus inklusif, bisa dinikmati semua kalangan,” tegasnya.
Aspek kebersihan juga disebut sebagai faktor krusial yang kerap diabaikan. Pipit menilai kebersihan justru merupakan daya tarik utama yang menentukan kenyamanan dan minat kunjungan ulang wisatawan.
“Orang mungkin bisa memaafkan fasilitas sederhana, tapi sulit memaafkan tempat yang kotor. Kebersihan ini wajib jadi prioritas,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mendorong adanya dukungan kedinasan agar setiap kegiatan formal maupun nonformal pemerintah dapat memanfaatkan lokasi-lokasi kuliner di Kota Mataram. Namun demikian, pemanfaatan tersebut tetap harus memperhatikan aturan dan prinsip tata kelola yang berlaku.
“Kalau ada kegiatan, kenapa tidak diarahkan ke titik-titik kuliner kota. Ini bentuk keberpihakan sekaligus stimulus ekonomi, tentu dengan tetap mematuhi aturan,” tekannya.
Politisi Nasdem ini juga menyoroti fenomena lapak kuliner pinggir jalan yang justru lebih diminati masyarakat karena harga lebih terjangkau dibandingkan kawasan wisata pantai. Menurutnya, kondisi ini perlu disikapi dengan kebijakan penataan yang tepat.
Ia menegaskan, penataan sentral kuliner yang terintegrasi dengan atraksi seni, kebersihan, dan harga yang ramah akan menjadi fondasi penting dalam membangkitkan pariwisata. Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, sektor pariwisata diharapkan kembali bergerak dan berkontribusi nyata terhadap pendapatan asli daerah.
“Lapak pinggir jalan lebih murah karena tujuannya hanya makan. Ini realitas. Ke depan sebaiknya ditata dan dijadikan sentral kuliner dengan standar harga yang wajar,” jelasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin