Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tengkong Mulai Diburu! Lapak Jamur Bulan Bermunculan di Lingkar Selatan

Lalu Mohammad Zaenudin • Senin, 2 Februari 2026 | 15:08 WIB
Pedagang tengkong atau jamur bulan yang tengah melapak di Jempong, Limgkar Selatan.
Pedagang tengkong atau jamur bulan yang tengah melapak di Jempong, Limgkar Selatan.

 

Dari tanah-tanah lembap, dari kayu-kayu lapuk yang tersentuh air, muncul satu tanda musim yang sudah lama dikenali warga: jamur bulan. Ia tumbuh diam-diam, sebentar, lalu menghilang lagi ketika hujan berhenti.

 

----


RUAS jalan di kawasan Lingkar Selatan Jempong, sekitar Tugu Mataram Metro berubah sedikit lebih ramai. Bukan oleh pasar besar, melainkan lapak-lapak kecil yang muncul di tepi jalan. 

Di atas karung plastik atau tikar tipis, jamur berwarna krem pucat disusun rapi. Ada yang tersaji di atas piring, lainnya lagi ditusuk berjajar pada bilah bambu, sebagian lain dikemas dalam plastik bening.

“Agak sulit sekarang pak,” ujar Aswi, salah seorang penjual tengkong atau jamur bulan, berupaya meyakinkan harganya masih realistis, pada koran ini, Senin (26/1). 

Ia dan penjual lainnya datang sejak pagi. Memanfaatkan momen ketika pasokan jamur sedang banyak dicari orang. 

Baca Juga: Produksi Jagung NTB 2025 Terkoreksi Tipis, Bagaimana Nasib Stok Awal 2026?

Bagi sebagian warga, keberadaan lapak-lapak itu menjadi penanda musim jamur bulan benar-benar telah tiba. “Orang-orang juga mulai cari,” imbuhnya. 

Jamur bulan merupakan salah satu sayur musiman favorit masyarakat. Teksturnya kenyal, aromanya khas, dan rasanya dianggap lebih “hidup” dibandingkan sayuran budidaya. 

Ia sering diolah secara sederhana: ditumis dengan bawang dan cabai, dimasak bening, atau digoreng sebagai lauk pendamping nasi.

“Apalagi kalau dibakar (dipanggang, Red) lebih nikmat,” jelasnya. 

Baca Juga: LPSK Tolak Permohonan Perlindungan 15 Anggota DPRD NTB Penerima Gratifikasi, Begini Alasannya!

Di lapaknya, Aswi menjual jamur bulan dalam satuan porsi. Satu porsi biasanya berupa satu ikat atau satu kemasan plastik kecil berisi beberapa helai jamur berukuran sedang hingga besar. 

Harganya berkisar antara Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per porsi. “Kalau yang besar-besar dan masih segar, Rp 25 ribu. Kalau sedang, Rp 20 ribu,” katanya.

Jamur-jamur itu tidak ia cari sendiri. Setiap pagi, ada warga yang datang membawa hasil buruan mereka. 

Mereka menyusuri kebun, semak-semak, hingga area yang banyak ditumbuhi kayu lapuk, mencari jamur yang muncul setelah hujan semalaman. “Mereka memang sudah biasa cari jamur. Sudah tahu tempatnya di mana,” ujarnya.

Warga yang berburu jamur umumnya memiliki pengetahuan turun-temurun tentang jenis jamur yang aman dikonsumsi. Mereka mengenali bentuk, warna, serta ciri-ciri jamur bulan yang biasa dimakan. 

Dari hasil buruan itulah, pasokan ke para penjual kemudian mengalir. Bagi para pencari jamur, aktivitas ini bukan sekadar hobi. 

Dalam kondisi tertentu, hasil penjualan jamur bisa menjadi tambahan penghasilan. “Lumayan buat beli beras atau kebutuhan dapur,” katanya.

Di sisi lain, bagi pembeli, jamur bulan lebih dari sekadar sayur. Ia membawa kenangan.

Nurhayati, salah seorang warga yang singgah membeli, mengaku selalu mencari jamur bulan setiap musim hujan. “Dulu waktu kecil, kalau hujan, orang tua sering masak tengkong. Sekarang kalau lihat ada yang jual, pasti beli,” katanya.

Ia biasanya mengolah jamur bulan dengan cara ditumis sederhana. “Pakai bawang putih, bawang merah, cabai, sedikit terasi. Sudah enak,” ujarnya.

Kemunculan jamur bulan yang singkat justru membuatnya terasa istimewa. Tidak seperti sayuran pasar yang tersedia sepanjang tahun, jamur bulan hadir mengikuti siklus alam. 

Baca Juga: Kasus Pimpinan Ponpes Diduga Cabuli Santriwati di Lombok Tengah Dilimpahkan ke Polda

Ada musimnya, ada masanya. Di tengah kota yang terus bergerak, jamur bulan seolah mengingatkan sebagian sumber pangan masih bergantung pada hujan, tanah, dan kesabaran. 

Dari semak-semak yang basah, berpindah ke tangan para pencari, lalu ke lapak-lapak kecil di pinggir jalan, hingga akhirnya tiba di meja makan. Musim hujan pun tidak hanya membawa cerita tentang banjir atau cuaca buruk. 

Di sudut-sudut Kota Mataram, ia juga menghadirkan cerita sederhana tentang warga yang berburu jamur bulan, dan tentang sayur musiman yang selalu ditunggu ketika hujan datang. “Tanpa tengkong rasanya musim hujan tak lengkap,” tutup Nur, sambil tersenyum.

Editor : Lalu Mohammad Zaenudin
#sayur musiman #jamur bulan Mataram #musim hujan #tengkong Lombok #penjual jamur bulan