LombokPost - Wacana pengembangan kawasan Kali Jangkuk sebagai destinasi wisata arung jeram kembali mengemuka setelah Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Mataram mewacanakan kajian potensi sungai tersebut. Komisi II DPRD Kota Mataram menilai gagasan itu relevan, namun mengingatkan agar tidak berhenti pada tataran dokumen semata.
Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram Irawan Aprianto, mengatakan hasil kajian Brida perlu diapresiasi karena disusun melalui pendekatan ilmiah. “Tapi kami tidak ingin kajian ini hanya menjadi dokumen. Kalau memang sudah dikaji secara ilmiah, tentu di dalamnya sudah ada pertimbangan dan dasar yang kuat. Maka ini harus benar-benar diaplikasikan,” tegas Irawan, Kamis (28/1).
Ia mengungkapkan, wacana arung jeram di Kali Jangkuk sebenarnya bukan hal baru. Bahkan sejak tahun 2018 ide ini telah mengemuka.
Baca Juga: Banjir Rob dan Gelombang Tinggi Kembali Mengintai, Ratusan Warga Pesisir Ampenan Terancam!
Namun hingga kini, realisasinya belum terlihat. “Jangan sampai ini mengulang pola yang sama. Sudah ada wacana, sudah ada kajian, tapi tidak pernah sampai pada tahap pelaksanaan,” tegasnya.
Menurut politisi PKS ini, salah satu persoalan klasik di lingkungan Pemerintah Kota Mataram adalah banyaknya inovasi dari organisasi perangkat daerah (OPD) yang tidak diikuti dengan dukungan anggaran. Akibatnya, inovasi tersebut berhenti sebagai rencana.
“Kami sering melihat OPD punya ide dan perencanaan inovasi yang bagus, tapi tidak disupport anggaran. Jangan sampai anggaran hanya habis untuk kajian, lalu berakhir sebagai laporan penelitian saja,” ujarnya.
Ia menambahkan, kota ini memang harus lebih kreatif dalam mengembangkan sektor pariwisata, mengingat keterbatasan potensi wisata alam yang dimiliki. Karena itu, konsep sport tourism dinilai menjadi salah satu alternatif yang realistis.
“Seperti sebelumnya kita pernah mengadakan MXGP, sekarang ada peluang arung jeram. Kalau memungkinkan, di kawasan pantai juga bisa dikaji untuk dibuat spot sport tourism lainnya. Selain wisata budaya, ini bisa menjadi penguat,” imbuhnya.
Komisi II DPRD, lanjutnya, secara prinsip mendukung pengembangan wisata arung jeram di Kali Jangkuk karena dinilai relevan dengan kebutuhan kota serta potensi wilayah yang ada. “Kami di Komisi II mendukung. Ini ide yang relevan dan bisa menjadi salah satu motor penggerak sektor pariwisata kota,” ujarnya.
Irawan juga menekankan keberadaan wisata sungai akan mendorong peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan. Khususnya di kawasan bantaran sungai.
“Kalau kawasan itu benar-benar dihidupkan sebagai lokasi arung jeram, kesadaran warga menjaga kebersihan sungai akan meningkat. Karena mereka sendiri yang akan merasakan manfaat ekonominya,” jelasnya.
Ia menilai, masyarakat bantaran sungai berpotensi menjadi pelaku ekonomi, baik sebagai pengelola wisata melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis) maupun sebagai pelaku UMKM di sekitar lokasi. “Ketika mereka merasakan langsung manfaat ekonomi, akan tumbuh rasa memiliki. Dari situ kesadaran untuk menjaga lingkungan akan muncul dengan sendirinya,” tambahnya.
Meski demikian, ia mengakui persoalan sampah tidak hanya bersumber dari wilayah kota, melainkan juga terbawa dari daerah hulu. Namun hal tersebut tidak boleh menjadi alasan menunda langkah.
“Memang sampah ini juga mengalir dari hulu. Tapi ini harus kita mulai. Paling tidak ini bisa menjadi trigger untuk perbaikan pengelolaan lingkungan yang lebih baik,” katanya.
Irawan berharap pemkot segera menindaklanjuti hasil kajian Brida dengan menyusun perencanaan teknis, penganggaran. Di samping itu, skema pengelolaan yang jelas agar pengembangan arung jeram di Kali Jangkuk benar-benar terwujud.
“Jangan berhenti di kajian. Kita ingin ini menjadi program nyata yang berdampak pada pariwisata, ekonomi masyarakat, dan kualitas lingkungan,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin